Jakarta Trips Part 1
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Jakarta Trips Part 1

Tidak-Liburan-Ke-Luar-Kota-Ide-Staycation-Dan-Liburan-Di-Jakarta-Ini-Akan-Sangat-Membantu-Kalian

Saya tuliskan semua ini dalam keadaan selamat.

Siang itu, 13 Januari 2016, tepat seminggu yang lalu. Saya dan Naufal berencana akan meninggalkan Yogyakarta untuk kembali pula, ke Yogyakarta. Sama seperti halnya arah jarum jam. Ia pergi meninggalkan titik bermula untuk kemudian kembali. Saya haturkan banyak terima kasih kepada Kang Ibnu Asyrin dan Hamdan atas bantuannya mengantar ke Stasiun Lempuyangan.

Sebelum saya dan Naufal hendak pergi, kami berdua meminta do’a kepada Kang Ibnu Asyrin untuk kemudian bisa sama-sama selamat, berhasil dalam tujuan, serta menikmati masa libur. Pun sebaliknya, kami mendo’akan bliyo.

Alarm pertanda kereta berangkat tiba. Tanpa paksaan, kami menduduki bangku sesuai dengan yang tertera pada tiket: saya dibangku 22A dan Naufal dibangku 22B di gerbong 2, kereta Progo. Kurang lebih, kami akan menempuh perjalanan selama 8 jam 50 menit. Sepanjang perjalanan, tidak ada habisnya kami membahas strategi untuk perlombaan SIMBIZ 2016 yang dilaksanakan pada 15-17 Januari.

simbiz

Dari babak rally games yang mengharuskan kami menyelesaikan tantangan dari 30 pos yang tersedia dan tersebar di penjuru Mall Alam Sutera. Kemudian, babak JA TITAN di mana kami berada pada posisi CEO (Chief Executive Officer) perusahaan yang menjual sebuah produk bernama hologenerator. Tugas kami adalah menentukan besaran pengeluaran yang mencakup biaya pemasaran, riset dan pengembangan, produksi, dana sosial, hingga besaran harga. Jika kami lolos nantinya, akan ada babak terakhir; yakni babak presentasi bisnis. Tema tahun ini (karena saya hampir selalu mengikuti perlombaan ini setiap tahunnya) ialah “igniting Indonesia”. Entah apa itu, yang jelas saya menafsir bahwa produk yang hendak di presentasikan harus membawa nilai yang mampu membuat Indonesia menyala. Dalam terminologi ini, menyala dalam hemat kami didefinisikan sebagai upaya menghidupi produk dalam negeri dengan cara-cara yang inovatif.

Ketiga babak itu yang kemudian akan kami hadapi. Dan perjalanan inilah yang membawa kami ke sana. Ada sedikit cerita yang membekas. Adalah mbak cantik yang bertubuh sexy dengan celana panjang sobek di kedua dengkulnya. Mbak itu mengisi bangku kosong yang ada di hadapanku ketika Kereta Api berhenti di Purwokerto. Beruntung, karena iman yang kokoh, saya mengabaikan ia selanjutnya dan lebih baik tidur. Huehuehue… :D

Meski terbangun dengan wajah Mbak cantik dihadapan, saya tetap tidak bisa melupakan wajah seseorang yang lain—seperti Kata Pram, “kelak sekiranya saya diberi umur panjang. Begitu Panjangnya sehingga saya menjadi pikun, wanita yang seorang ini tetap tidak akan saya lupakan; kecantikannya, kesabarannya, ketabahannya, dan kebijaksanaannya, akan saya bawa mati bersama dengan sisa kemampuan tuk mengenang”. Seketika saya berandai-andai. “Andai ia yang mengisi bangku Naufal atau mbak dihadapan saya”, gumam saya.

Tapi yang di atas hanya mimpi. Singkat cerita, kereta memasuki Stasiun Jatinegara. Kami, sudah di Jakarta. Kota yang menjadi saksi betapa perihnya kehidupan. Banyak anak-anak tak seberentung saya bisa bersekolah tinggi. Untuk sekedar makan saja mereka harus mengiba. Tempat mengadunya kepentingan perut dan akal. Kami sempat terdiam di sana; menunggu dengan sebal selama 45 menit karena lokomotif kereta bermasalah. Kami berpikir lebih baik untuk keluar dari kereta. Ternyata, di Stasiun, kami bertemu Bagas (sahabat saya di STM yang juga akan mnegikuti perlombaan yang sama dengan kami) dan rekannya yang saya belum tahu siapa namanya. Juga, di sana terlihat seonggok danging berwajah tidak asing: Azzam, dari FIB. Ia adalah pimpinan Gerakan Mahasiswa Pembebasan yang berafiliasi kepada HTI. Ia hendak menuju rumahnya di daerah Bogor. Namun, karena kereta ke arah sana sudah habis, terpaksa ia harus bermalam di Stasiun.

Setelah berbincang-bincang sebentar, kami memutuskan izin pulang. Setelah sempat menunggu Gojek namun tak kunjung hadir, kami memutuskan naik taksi menuju rumah saya di Tanjung Priok. Perjalanan yang memakan ongkos Rp. 57.000,- itu terhenti sekitar pukul 01.00 WIB di gerbang rumah saya. Alhamdulillah, kami selamat. Malam itu pun disambut dengan cipika-cipiki dari orangtua, dan kemudian saya kenalkan Naufal yang menjadi rekan saya di perlombaan. Kami makan Nasi Goreng sejenak karena merasa lapar. Malam itu pun segera ditutup karena pukul 09.00 WIB nanti (Kamis, 16 Januari) saya sudah memiliki janji kepada rekan saya. Kami pun tidur.

Pagi menjelang. Burung berkicau, ayam berkokok. Seperti biasa, shalat shubuh, mandi, makan, beberes rumah, mempersiapkan perjalanan dan berangkatlah kami. Rencana hari ini adalah pergi bertemu dengan teman les bahasa Inggris dulu (ACCESS, beasiswa les bahasa Inggris dari Kedutaan Besar Amerika Serikat) Dina dan Devie (cowok, koq). Kemudian, menuju sekolah saya yang tak jauh dari lokasi pertemuan dengan Dina dan Devie, SMKN 26 Jakarta aka STM Pembangunan Jakarta yang bila disingkat menjadi STM Pembajak Rawamangun di mana tulisan alay nya begini: VEMBAZAX RM. Selanjutnya, pergi ke rumah Bu Sri (Guru Kewirausahaan yang sudah pensiun, dan saya anggap sebagai Ibu) dan bergegas menuju Technical Meeting perlombaan di FX Senayan lt. 6 pada sore hari.

Perama-tama, pertemuan dengan teman les membahas tawaran kerjasama. Mereka berdua sebelumnya sudah menawarkan satu maksud. Bahwa mereka punya rencana mempromosikan saya sebagai satu ikon yang perlu ditiru dan bisa menjadi inspirasi bagi pelajar di DKI Jakarta. Ya, memang, Perjalanan saya di SMK ini lumayan menarik, menegangkan, mengharu-biru, penuh peluh dan darah yang kemudian bisa menghasilkan banyak cerita untuk dibagikan. Mereka siap merancangkan kegiatan bagi saya, manajemen tim, dan sebagainya. Kebetulan, mereka sedang aktif dikegiatan yang memiliki korelasi dengan konseling pelajar, anti pornografi (peluang kerjasama bagi Pop Corn ini), yang pada intinya membutuhkan agen-agen yang bisa dijadikan sebagai teladan. Dengan mengisi ceramah, diskusi, di berbagai forum pelajar, membagikan cerita, harapannya mereka, pelajar DKI Jakarta, bisa sedikit terinspirasi, terketuk hatinya, untuk melakukan satu perbaikan dalam pola berpikir. Ini bukan persoalan sepele. Saya, seperti yang dikatakan Dina dan Devie adalah anak STM yang gemar membuat onar. Tapi, toh, saya bisa mengubah diri untuk tidak melakukan hal yang demikian lagi. Hingga akhirnya, saya bisa mengisi hari-hari di sekolah dengan berbagai torehan prestasi. Begitu.

Akhirnya, pertemuan itu menyepakati bahwa saya siap untuk membagikan kisah. Saya nantinya akan membawa ikon “pelajar berprestasi”. Maka, saya memohon do’anya untuk terus bisa berbagi, meski baru sekedarnya. Kemudian, saya dan Naufal (yang tadi juga turut memberi masukan dan diskusi) pamit menuju sekolah. Saya ingin sekali bertemu dengan guru-guru saya di sekolah. Saya bertemu dengan Bu Sari Pulungan, Bu Elsye, Bu Novi, Bu Enung, Pak Acep, Pak Ubadi, Pak Rustam, Pak Hanif, Bu Ida, Pak Armen, Bu Mexi, Pak Ganef, dan masih bayak lagi guru-guru yang saya temui dan salami tanpa mengurangi rasa hormat. Tak lupa, adik-adik saya di Bionic 26 juga segera menyambangi saya. Mengharap wejangan untuk menghadapi perlombaan esok.

InstagramCapture_a18ec1e9-8ea8-4607-a7ff-dcfb306ceff9

Bertemu dengan mereka adalah sebuah keharusan. Setiap kembali ke Jakarta, saya selalu mengagendakan untuk kembali ke sekolah (SMK, SMP, SD). Menengok berbagai perkembangan dan memang terlihat bahwa sekolah saya telah berkembang begitu pesat. Di SMK saja misalnya, tata letak ruang, pepohonan, jalur pejalan kaki, rambu-rambu di sekolah, dan pembangunan fisik gedung membuat saya kagum. Prestasi yang terus bertahan sebagai predikat SMK terbaik di DKI Jakarta dan 10 besar terbaik di Indonesia membuat saya begitu bangga pernah bersekolah di sana.

Tapi, apa artinya rasa bangga itu jika—seperti kata Bung Karno—di dalamnya tidak diisi oleh jiwa-jiwa yang mengabdi pada praktiknya hidup. Ya, sedari dini, saya selalu berusaha mengarahkan diri ini ke sana. Mengajak diri pribadi dan teman-teman untuk tidak memikirkan diri sendiri. Apa yang bisa kita berikan kepada orang lain, maka berikan.

Kembali pada cerita, singkatnya sekitar jam 1 siang, dikabari bahwa Technical Meeting SIMBIZ 2016 sore nanti dibatalkan mengingat adanya peristiwa Bom di Sarinah. Menurut panitia, kemungkinan besar, acara ini akan dibatalkan atu diundur. Saya yang baru membaca pesan ini sedikit-banyak tertohok. Saya dan Naufal yang sudah siap secara lahir-bathin ini harus menjadi korban—tidak luka—akibat terorisme. Kami memberikan pertimbangan kepada panitia agar acara ini tetap dapat dilaksanakan mengingat persiapan tim sudah matang, kemudian banyak peserta sudah tiba di Jakarta, hingga lokasi berjauhan dari tempat kejadian perkara. Akhirnya, panitia merapatkannya dalam forum besar. Hasil rapat menurut mereka akan segera diberitahukan.

Kami yang harap-harap cemas kepada korban di Sarinah dan juga perlombaan ini harus menunggu. Bayangkan, sudah sampai di Jakarta dan katanya, Jakarta siaga 1. Acara selama tiga hari ke depan dipastikan akan berantakan. Tidak sesuai rencana. Inilah unexpected contition. Well, saya harus tetap merancang kemungkinan bilamana tetap dilanjutkan atau tidak.

Setelah berpamitan undur diri dari sekolah, kami menuju ke Rumah Bu Sri. Ia sudah tak sabar menantikan kedatangan saya. Padahal, tak kurang dari 2 minggu lalu, bliyo henda bertemu dengan saya di Yogyakarta. Namun, pertemuan di Jakarta selalu menghadirkan ini: ia ingin memberikan masakan terbaiknya untuk disantap kami, murid-muridnya. Hehehe… Saya datang dan perkenalkan Naufal kepada Bu Sri. Kemudian ngobrol, makan, ngobrol, maghriban, dan rekan-rekan saya di Bionic 26 satu per satu hadir semenjak saya undang di grup Bionic 26. Alhasil, ba’da Maghrib, rekan-rekan saya sudah pada berkumpul.

Ditengah cerita-cerita itulah, panitia SIMBIZ 2016 menelepon dan memberi kabar bahwa perlombaan diundur sampai Mei. Seketika itu juga kami merasa kecewa mengingat apa-apa saja yang sudah kami persiapkan. Namun, alasan “demi keselamatan” atas kekhawatiran pada terorisme menjadi momok tersendiri bagi kami. Kami harus berbesar hari menerima kenyataan itu. Kemudian, kami pun melupakan itu semua dan kembali larut dalam canda-tawa bersama rekan-rekan.

Walhasil, hari itu kami berpamitan. Sebelumnya, kami sempat berfoto-foto dan mengagendakan pergi ke Bogor bersama tanggal 24 Januari nanti untuk bertemu Mbak Noor Fuadiyah (dahulu pembina di PJI). Pertemuan ini adalah untuk melepas rindu, rihlah, sekaligus memberikan kenang-kenangan yang belum sempat diberikan.

Saya dan Naufal pulang naik busway, sedang yang lain bersepeda motor. Kami tiba dirumah sekitar pukul setengah 12 malam. Cukup larut dengan segala kesenangan yang juga bercampur dengan kecewa. Kami akhirnya memutuskan untuk mengatur agenda ulang. Jumat, 17 Januari yang seharusnya menjadi hari pertama perlombaan kami ubah menjadi silaturahim ke Kantor Pusat PPSDMS di Lenteng Agung, Shalat di Istiqlal, dan menginap di rumah Rizki (sahabatku di sekolah).

Kami berangkat sekitar pukul 9 pagi menggunakan busway dan menyambungnya dengan KRL menuju Lenteng Agung. Kami turun di Stasiun UI untuk kemudian naik bis kuning hingga jembatan penyebrangan. Namun, kami salah naik jalur. Sehingga, kami harus memutar kampus UI seluruhnya terlebih dahulu. Meski begitu, kami coba nikmati tiap perjalanan itu. Hingga akhirnya, kami harus menyusuri jembatan penyebarangan yang lumayan menyeramkan di mana jembatan tersebut terlihat sudah rapuh-karatan. Ditambah, tepat dibawah jembatan itu ada aliran arus listrik kereta api semakin membuat horor jembatan.

Dengan sangat hati-hati, kami lewati jembatan itu dan…Hap..hap..Tibalah kami di kantor pusat PPSDMS. Sempet menunggu sekitar 20 menitan, kemudian ada Faras dan Sansan dari Ksatria UI (Julukan PPSDMS Putra UI) yang menjemput kami di lobi. Kami dibawahnya oleh mereka ke lantai dua asrama. Di sana, ternyata sudah ada Fenno, Faiz, dan Randi dari Heroboyo (Julukan PPSDMS Putra ITS/Unair) yang akan menyelenggarakan rapat NLC (National Leadership Camp). Di sana juga terlihat beberapa anak Ksatria. Beberapa menegur kami, berkenalan, mengobrol. Namun, lebih banyak yang diam dan sibuk dengan urusannya pribadi. Tapi tak mengapa. Kami sapa saja anak-anak yang memang mau disapa dan diajak ngobrol…hehehe.

Kemudian, kami shalat Jum’at, makan bareng di warung yang harganya lumayan murah untuk standar Ibukota. Dengan lahap, kami santap makanan tersebut sembari bercerita soal kegiatan di asrama masing-masing dan diselingi dengan berita terorisme yang masih ramai di TV. Setelah, selesai, kami semua kenyang. Lalu, Naufal diajak Fenno bertemu Mas Irsyad. Nah, saya mengajak ketemuan Mas Dhama dan Mas Luthfi. Sembari menunggu, saya bertemu dengan pembina kami: Bang Bachtiar, Bang Ichsan, Bang Adji, Bang Ahadiyat, Bang-bang macem-macem deh. Hehehe…Akhirnya, Mas Dhama muncul dengan rambut yang stylist. Ku amati wajahnya, hmm, rasa-rasanya masih menyimpan soal: siapa kelak istrinya, wkwk. Tapi saya tidak mau mengajaknya membahas itu. Saya memilih untuk menceritakan persoalan politik kampus. Banyak hal saya ceritakan seputar advokasi biaya KKN angkatan 2013, Dema Fisipol, Bem Km, dan sebagainya. Di sana juga turut nimbrung: Aufar. Dia seolah ingin belajar dengan kami yang sedang serius-seriusnya membahas urusan ini. Pada intinya, Mas Dhama berpesan untuk terus meluruskan niat bagi kita yang berada di organisasi eksekutif. Kita harus paham siapa kawan dan lawan. Jangan sampai terjebak dalam persoalan yang justru membawa kesulitan bagi kita. Bliyo juga mengingatkan bahwa Jogja adalah “Ibukota Pergerakan” yang dengannya membuat kita menjadi rujukan dari kampus-kampus di daerah lain. Ini seperti yang dikatakan Pak Riswanda Imawan semasa hidupnya tentang pergerakan mahasiswa. “Jika mahasiswa Yogyakarta tenang-tenang saja, maka Indonesia aman”. Hal ini menunjukkan Yogyakarta sebagai basis pergerakan mahasiswa di Indonesia.

Memang, sejarah juga membuktikannya. Dari pendirian kampus: UII dan UGM, kemudian pergerakan mahasiswanya: HMI, GMNI; intranya ada BEM, dan segenap unsur lainnya.  Semua mengakar dalam. Cocok untuk dijadikan tema skripsi. Tak terasa waktu lekas berlalu. Pembicaraan ini memakan kurang lebih 1 jam kerja Mas Dhama. Sehingga, bliyo segera menyudahi dan berjanji akan bertemu kembali. Di saat itu pula, ada Mas Luthfi hadir. Ia tampak lelah. Setelah ku selidiki, ia baru saja dari Pluit untuk wawancara pekerjaan. Wew…ternyata Mas Luthfi berencana pindah kerja dan mengundurkan diri dari PPSDMS akhir bulan ini.

Pembicaraan dengannya lebih kepada bagaimana kabar kegiatan masing-masing. Dari Mas Luthfi sendiri, ia mengatakan kalau bayinya adalah Putra. Semoga dewasanya keren seperti saya yah Mas :D wkwkwk….Istrinya sudah menjadi pekerja di Vokasi UI, dan masih banyak lagi yang kami bicarakan. Dari saya sendiri, saya menceritakan soal kegiatan di PPSDMS akhir-akhir ini sama perasaan akan waktu yang berjalan begitu cepat. Sudah, itu saja sih.

Pembicaraan dengan abang-adik: Dhama Luthfi ini berakhir. Naufal yang sedari tadi saya tunggu karena ingin bertemu dengan mereka tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Setelah saya cek, nyatanya ketiduran di asrama KSATRIA. Fufufufu…..

Sebenarnya, ada satu agenda lagi sore waktu itu: bertemu dengan None Nanda memberikan pesanannya berupa dua kotak bakpia. Dia pernah sempat menjadi pasangan saya di pemilihan abang none DKI Jakarta lalu. Tapi, sebelum Ashar, ia membatalkannya karena diomelin pacarnya, takut saya rebut. Kelihatannya begitu. Padahal, saya mah maunya yang lain. Yaudah, lebih baik dibatalkan dan akhirnya saya pun langsung pergi ke Istiqlal untuk shalat Maghrib dan Isya di sana. Mengapa Istiqlal? Karena Naufal belum pernah ke sana. Hahaha.

Taken with Lumia Selfie

Sesampainya di sana, pas banget magrib. Meski keringetan dan bau ketek, kami meyakini Allah Swt menerima shalat kami. Bacaan shalatnya, Ya Allah, bagus bener. Ini shalat kualitas bintang lima dah. Saya sempat menitikkan air mata lantaran merdunya bacaan. Di sela-sela waktu shalat Maghrib dan Isya pun diisi dengan membaca surah Al Isra secara bersama-sama. Sang Imam yang sudah Hafizh memimpin bacaan. Kami mengikuti dengan baik.

Setelah selesai shalat Isya, kami makan sejenak diemperan Istiqlal. Ada banyak pilihan makanan. Tapi, saya lebih memilih Soto Ayam, sedangkan Naufal nasi goreng. Harga tak berbanding lurus dengan kenyang. Naufal terlihat sedikit menyesalkan. Porsi yang sedikit membuat kami masih lapar…hahaha..Tapi, kami segera harus bergegas menuju Pulo Gadung. Takut-takut kendaraan menuju rumah Rizki sudah habis. Di sana, kami sempat menunggu Ucup yang juga ikut menginap. Ucup mirip keong. Lambat sekali untuk tiba di Pulo Gadung. Sehingga, saya sempat mengomelinya…hahaha…Kasian si Naufal merasakan jadi gembel Jakarta. Nongki di Terminal.

Sempat celingak-celinguk cari APB 23, namun tak ada. Tanya ke tukang gorengan, katanya sudah habis. Sempat putus asa, tapi, tiba-tiba ada APB 23 lewat. Kami segera lari untuk memberhentikannya. Beruntung, Pak Supir mau, dan bilang, ini terakhir. “Ayok, terakhir…terakhir…” Begitu.

Di dalam angkota, beruntung, ada dua orang lain yang juga ikut naik. Sehingga total ada 5 penumpang. Setiap dari kami dikenai biaya lima ribu. Lebih mahal seribu dari biasanya. Setibanya dirumah Rizki, kami sudah dalam kondisi yang lelah. Sempat mau nge-Pes, namun stick nya Cuma satu yang bisa. Alhasil, kamu menonton film. Adalah “Interstellar” yang kami pilih. Namun, saya dan Rizki sudah tidur lebih dulu. Tersisa Naufal dan Ucup yang menonton hingga beres. Bahkan, lebih jauh, Ucup tidak tidur semalaman. Matanya suntuk, wajahnya melayu…Hahahaha…

Bangun pagi, kami bergegas shalat shubuh, WBS, dan makan. Ada donat, nasi goreng telor, dan teh anget. Terima kasih Mama Rizki—yang sudah kuanggap sebagai Ibu. Saya dan Rizki memang suka saling merepotkan, tapi tidak mengapa. Hubungan kami bukan sekedar persabatan, lebih jauh keluarga yang saling menguatkan.

Di sini, saya semakin merasa bahwa apa saja yang tersedia disekeliling memang dibiarkan Allah untuk dikelola baik manusia. Kebersamaan membuat luluh keindividuan yang egois. Kekeluargaan itu yang merangsang tumbuh cinta berikutnya. Maka, inilah anugerah. Bilamana tidak ada dusta, saya akan terus terang berucap, “Hidup tanpaMu adalah perjalanan manusia yang paling sunyi.”

Dan saya harus jujur.

***To be continue…

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *