Jakarta Trips Part 2
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Jakarta Trips Part 2

Edited in Lumia Selfie

18 Januari 2016. Sebenarnya, masih ada satu hal yang belum saya ceritakan saat di rumah Rizki. Pada pagi harinya itu, saya meminta untuk ditayangkannya satu buah video berjudul “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk”. Novel karya Buya Hamka dan sudah pernah saya baca ini sayang untuk dilewatkan dalam bentuk videonya. Saya belum pernah menontonnya karena belum sempat. Akhirnya, Rizki, juga teman-teman lain mengiyakan karena belum pernah menonton juga ternyata.

Ya, di dalam film tersebut, Junot, Pevita dan Reza memainkan perannya dengan sangat baik. Saya—mungkin juga teman-teman, ikut larut dalam narasi yang digambarkan. Terlebih, dalam setiap untaian kata yang disampaikan para tokoh di film. Semuanya tampak begitu romantis. Mengingatkan saya pada satu hal yang untuk mengiring saya pada imaji yang lebih tinggi.

Namun, Rizki yang empunya rumah hendak berangkat kuliah pagi. Akhirnya, ya mau-tidak mau kami harus angkat kaki. Sebenarnya, orangtua Rizki (Ayahnya sudah meninggal) merasa welcome, tapi mengingat hari ini kami juga punya agenda, maka tak apalah kongkow kali ini disudahi. Tapi, sebelumnya, saya meminta izin untuk meng-kopi film yang belum sempat saya habisi itu. Meski sudah tahu ujungnya dari novel, tapi, barangkali ini lebih menyayat hati. Tssahhhh…

Akhirnya, kami pulang. Hari ini kami berencana ke Monas dan mengelilingi kota Jakarta dengan city tour—bisa bertingkat yang gratis itu, loh. Tetapi, sesampainya di rumah, kami langsung menonton film tersebut bersama Adik saya (Aril bukan Ariel). Tak disangka, kamu semua terpukau. Paling membekas adalah setiap kali Zaenudin menyebut nama “Hayati…Hayati…Hayati….”

Lupakan soal Hayati, dan juga Zaenudin. Kita lanjut ke kisah perjalanan kami saja. Perjalanan ini terasa sangat menyenangkan. Karena Naufal duduk disamping saya, kawan. Banyak cerita, yang mestinya kau saksikan (mirip Ebiet G. Ade). Ya, di sinilah Kota saya lahir. Dengan segala lebih dan kurangnya, kami susuri perjalanan itu. Kami berangkat sehabis Zuhur. Perhitungan waktu meleset karena tadi harus mengurusi Naufal yang memesan tiket pulang (sekitar 1,5 jam; bolak-balik ke ATM membayar, tapi tidak bisa). Kami sampai di Monas pada saat Ashar, karena salah berhenti halte busway yang membuat kami harus berjalan kaki lumayan jauh menuju gerbang Monas. Lebih tepatnya sih, saya tidak tahu kalau pintu gerbang Monas selain yang utama di depan Istana Negara tidak dibuka.

Belum shalat Ashar membuat kami harus shalat terlebih dahulu. Perjalanan bukan berarti membuat kami lengah dan menomorsekiankan shalat. Kami shalat Ashar di Istiqlal. Tapi sebelum itu, kami sempat beli otak-otak sembari berjalan menuju pintu Al Fattah Masjid Istiqlal yang lumayan jauh. Enak juga ternyata. Hehehe…Setelah itu, kami bergegas untuk shalat.

Keluar dari sana, kami berpikir dua kali untuk tetap masuk ke Monas mengingat tujuan awal adalah naik hingga ke lantai teratas. Namun, keinginan itu batal. Kami memilih untuk langsung menaiki city tour. Untuk pertama kalinya, Saya pun Naufal menaikinya. Lumayan, perjalanan melihat kondisi Jakarta. Gedung-gedung penting diperlihatkan dimulai dari Monas, Balai Kota, Bunderan HI, Gedung Gajah, hingga Kota Tua. Di sana juga, kami melihat lokasi pengeboman yang ramai dengan para wartawan dari berbagai media, karangan bunga, dan masyarakat yang turut melihat dari dekat kondisi terkini dari lokasi baku tembak antara polisi dan teroris. Ada juga, pembangunan MRT (Mass Rapid Transit) yang menjadi mega proyek dan sedang di garap oleh pemprov DKI Jakarta. Bila sudah berhasil, saya meyakini, kemacetan Jakarta sedikit demi sedikit akan terurai.

Jujur saja. Saya memelihara harapan yang begitu besar pada Kota ini. Jelas, Ibukota adalah episentrum yang menyimpan segalanya. Baik pendidikan, perekonomian, kesehatan, pemerintahan, dan segala bidang lain ditentukan di sini. Kelak, sekiranya diberi kesempatan, maka izinkan saya melihat kota ini menjadi ramah bagi para penghuninya.

Tanpa terasa, city tour telah kembali ke tempat kami bermula: Istiqlal. Waktu juga sudah menunjukkan matahari terbenam. Terdengar kumandang Adzan yang memanggil kami. Saya dan Naufal lekas menuju panggilan tersebut. Sehabis Maghrib nanti, kami rencananya akan ke Pasar Baru.

Karena jaraknya yang tak begitu jauh—sekitar 15 menit jalan kaki, kami pergi ke sana. Pasar Baru menawarkan barang-barang. Sempat masuk ke beberapa toko melihat ini dan itu. Cuma lihat-lihat, hahahaha. Tapi tidak mengapa. Lumayan untuk cuci mata. Bisa dibilang, Pasar Baru ini miriplah sama Pasar Seni di Malaysia.

Waktu semakin larut, kami segera menyudahi perjalanan malam ini. Mama sudah menelepon untuk segera pulang karena makanan sudah dibuatkan. Tak perlu lagi beli diluar. Baiklah, kami segera pulang. Sesampainya dirumah, makanan semua kami habisi. Hahahaha… Sehabis itu kami bisa tidur dengan pulas.

Esok hari, mulanya, agenda kami ke Kota Tua bersama dengan sahabat-sahabat saya di STM. Tapi, melihat kondisi mereka yang masih banyak tugas (baik kerjaan maupun kuliah), saya membatalkannya. Lagian, Naufal juga sudah melihat segala macam Kota Tua kemarin saat di city tour. Maka, hari ini, kami memutuskan untuk Shalat Dzuhur di Jakarta Islamic Center (JIC) yang melegenda sejarahnya. Sebab, bila Anda tahu, JIC ini dahulunya merupakan kawasan prostitusi terbesar se-Asia Tenggara. Luasnya tidak main-main: satu RW yang kini disulap seluruhnya menjadi kawasan umat Islam. Masjidnya yang rapih dan begitu megah membuat kami nyaman melakasanakan shalat di sana. Sehabi shalat, kami hendak berkeliling masjid. Melihat air mancur, detail setiap ruangan, siaran sejarah Masjid JIC yang ditampilkan di layar sudut-sudut Masjid, hingga tak disangka bertemu dengan rekan-rekan saya di Pelajar Islam Indonesia (PII).

Sudah lama rasanya tidak bertatap muka dan berkumpul bersama mereka. Alhamdulillah, hari ini kami dipertemukan dalam kondisi yang lebih baik. Di sana masih ada Rifah, Anas, Ery, Wawan, Arie, Gofur, dan sebagainya. Mereka masih tetap istiqamah membesarkan organisasi ini. Meski sebentar, saya sempatkan berbincang-bincang soal organisasi ini. Pada intinya, mereka akan sangat ikhlas. Sempat mengenang berbagai kegiatan yang hendak kami pernah lakukan. Semuanya masih terekam jelas. Tak terlupa sedikitpun.

Kemudian, pada malam harinya, kami memutuskan untuk silaturahim ke Rumah Fadhli saja. Tapi, sebelum ke tempat Fadhli, kami mengajar anak-anak TPA mengaji dahulu. Ba’da Isya, barulah kami berangkat.

 

Merasa tidak enak, tidak membawa apa-apa. Saya putuskan berhenti di jalan membeli sesuatu. Martabak manis bisa jadi membuat Fadhli dan adiknya, Naila, tersenyum manis. Sempet nyasar, tanya-tanya begitu ke warga. Namun, beruntung, kami berhasil menemukan rumahnya. Bincang-bincang malam itu sekedar melepas rindu tak beberapa hari bertemu. Ditambah, di layar kaca di rumahnya Fadhli ada pertandingan Liverpol vs MU. Membuat saya sesekali melirik ke sana sembari mengobrol.

Waktu sudah agak malam. Meski berat hati meninggalkan layar kaca yang belum beres itu pertandingan, saya harus angkat kaki. Yaudah, sampai dirumah dengar kabar, MU menang 1-0. Alhamdulillah. Dan esok, Naufal harus pulang. Tapi, sejak beberapa hari lalu, ada satu permintaan dari Bapak dan juga Bu Dewi, rekan kerja bapak di Madrasah Aliyah Al Khairiyah untuk memberikan motivasi kepada pelajar kelas 3 sebelum menghadapi UN pada hari Senin, 18 Januari lalu pukul 10.00 WIB. Permintaan ini sudah kami iyakan.

Kami membawa tema “Pelajar Berpestasi: Mempersiapkan Masa Depan Membangun Indonesia”. Bahwa, dalam forum tersebut, kami ingin mengatakan bahwa para pelajar perlu menjadi seorang yang berprestasi, entah dalam bidang apapun. Pada hakikatnya, prestasi bukanlah satu bentuk piala yang terpampang, lebih jauh kepada satu bentuk kebahagiaan bagi pribadi dan orang lain, utamanya orangtua dan guru.

Dalam pertemuan itu juga, kami mengajak teman-teman untuk mendefinisikan mimpi dan sukses menurut mereka. Seperti misalnya, saya berikan contoh bahwa mimpi saya adalah menjadi seorang Presiden RI di tahun 2034. Dan Naufal menjadi Wirausahawan. Kita dua beda yang dipisahkan oleh profesi sahaja. Namun, lebih jauh, kita adalah satu: sukses. Indonesia yang lebih baik dan bermartabat. Kami tampilkan video visualisasi mimpi Indonesia Emas yang pernah kami buat bersama-sama (Link Youtube).

Kelas pun ditutup dengan sebuah deklarasi kejujuran, Setiap anak mengacungkan jari keliling kanan mereka ke atas. Menyatakan “janji” bahwa sehabis pulang nanti, mereka menuliskan mimpi-mimpinya dalam bentuk riil. Bahasanya: tervisualisasikan atau tergambarkan. Agar kelak, ini menjadi nyata. Mereka dapat membuatnya di kertas dan kemudian ditempelkan di dinding kamar. Kemudian, juga bisa ditaruhnya di sticky notes laptop, atau sebagainya.

Sehabis pertemuan itu, kami sempat mengobrol dengan rekan-rekan guru Bapak saya yang sudah saya kenal sebelumnya karena juga sering berjumpa dalam pertemuan di Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia. Begitulah ikatan kami yang membuat kami saling berpaut.

Kami, sebelum pulang diminta untuk makan Nasi Padang juga bersama teh botol Sosro yang sudah dibelikan. Lumayan, ini hasil sampingan dari berbagi. Hahahahaha….

Yaudah, dari situ, kami berencana bertemu dengan Devlin di rumahnya, Depok. Devlin juga baru sampe hari ini dan langsung kita repotkan. Gapapa, deh…. Singkatnya, kami sudah berangkat. Di jalan, sempet bingung juga sih karena naik angkot salah arah pula. Halaahhh… Yaudah, akhirnya sampai juga kami di Gerbang Griya Telaga Permai. Keren ini keknya perumahan. Eh, tetiba hujan turun. Awalnya rintik-rintik asyik menemani sore yang syahdu. Tapi, kemudian, hujan itu membesar. Kami menepi, meneduh, di dekat pos satpam. Yaudah, Devlin segera menjemput dengan mobil. Katanya sih, biar kita gak kebasahan.

Di sana, ya, kami disambut oleh Ibunya Devlin. Ibunya Devlin ini sangat bersahabt loh dengan anak muda macam kami. Hahaha… Yaudah, kita disediakannya makan, cemilan, yang lumayan bikin perut lapar menjadi tidak. Di selingin bincang-bincang anak muda (You Know What I Mean), kami nikmati sore itu.

Tak terasa, sudah waktunya magribh. Suasana kompleksnya sepi, tapi isi masjidnya ramai. Imamnya anak muda, yang bacaan shalatnya bagus banget. Kami sangat menikmati silaturahim itu hingga tak terasa Isya mendekat. Hitung punya hitung, jika naik angkutan umum, kira-kira Naufal harus berangkat jam segini agar tidak terlambat sampai di Stasiun Senen. Akhirnya, kami memutuskan Isya-an di rumah Devlin untuk kemudian berangkat pulang. Ibunya Devlin, ada adenya juga, turut mengantar kami yang hendak pulang. Tapi, bukan langsung diturunkan ke tempat pemberhentian bis. Kami dibawanya ke warung makan Ampera. Kami sempat bingung. Lah, ini koq malah dibawa ke tempat makan. Zzzz… Yoweslah, karena kebetulan laper lagi… Wkwkwk, kami bersedia makan deh.

Tempatnya sangat nyaman. Cocok untuk ngobrol se-keluarga. Yaudah, saya sempat ngobrol-ngobrol sama Ibunya Devlin soal pendidikan. Kan kebetulan itu, orangtua Devlin sama saya juga guru. Saya kurang lebih menaruh minat yang banyak terhadap dunia pendidikan. Eh, nyambung. Dari bahas soal kurikulum, kenakalan remaja, hingga keluarga.

Setelah kenyang, kami bubar. Hahahaha… Betapa berterima kasihnya kami diberi makan enak, di jamu dengan sangat istimewa. Yaudah, sebelum pulang sempet foto-foto begitu—disuruh Ibunya Devlin. Lalu, diantarkannya kami di tempat pemberhentian bis (Di sana, kira-kira sudah jam 9an). Namun, sayang sekali, bis umum ke arah Pulo Gadung, Tanjung Priok, Rawamangun, sudah tidak ada. Ada juga omprengan yang Cuma sampe UKI. Itu pun harus menunggu tiga penumpang lagi baru jalan. Naufal yang sudah punya janji besoknya pukul 9 pagi harus pulang. Padahal Ibunya Devlin meminta kami untuk singgah.

Saya pada saat itu memang sudah setengah teler. Kayaknya badan kecapekan dari kemarin-kemarin karena berpergian. Daripada saya kenapa-kenapa di angkutan umum, saya lebih memilih untuk menginap saja. Naufal pilih jalan berbeda: pulang naik taxi ke Senen. Yaudah, saya dibawa balik deh ke rumah Devlin. Sesampainya di sana, saya langsung di ajak ke kamar adeknya. Sayang banget, kamarnya gak di isi, karena adeknya Devlin sekarang tidur bareng Ibunya. Alhasil, beberes kamar dulu, sawang-sawangnya diambilin. Soalnya, saya ada alergi debu. Jadi, pas pertama masuk tuh ke dalam kamar, saya langsung bersin-bersin.

Setelah beres-bersih, saya meminta Devlin menemani tidur saya. Najooonggg…Tapi ini serius. Tapi, Devlin mau ngajarin bentar adiknya. Yaudah, saya dikasih bacaan. Isinya tentang tulisan orang-orang (tokoh Indonesia) mengenai Soekarno. Di dalamnya sempat saya baca tulisan dari Natsir, Hamka, Frans Seda tentang Soekarno. Bagus-bagus, argumennya bisa saya pakai untuk skripsian (Ya Allah, masih lama skripsian ya?).

Namun, setelah itu saya lupa dan tak mengingat apa-apa lagi. Selain terbangun pukul 02.22 WIB (lihat hp) dengan pintu tertutup (tadinya terbuka). Devlin gak ada di kamar sama saya. Keknya, dia sama mamanya, Zzzz… Yaudah, saya ini-itu, tidur lagi dan terbangun pukul 4an dan segera menuju Masjid.

Sepulang dari Masjid itu, kami WBS bareng. Ibunya pamit berangkat ngajar sekalian sama adeknya yang juga sekolah ditempat Ibunya (SMP Ruhama). Kemudian, saya diajak Devlin keliling ke sana kemari muter-muter. Pertamanya sih bilangnya cari sarapan. Ya memang, kami sarapan ketoprak (Devlin lagi ngidam ketoprak). Nemu-nemu di depan SMPN 1 Cibinong. FYI, rumah Devlin lebih deket ke daerah Cibinong. Dia itu Depok pinggiran. Yaudah, ba’da makan, saya diajak muter-muter kota Cibinong. Di jalan, si Devlin cerita-cerita soal keluarganya yang China-Muslin dan menguasai banyak tempat (Sangaaarrr). Pertama di ajaknya saya menyusuri jalan-jalan Cibinong, diperlihatkannya mal-mal (halaaahhh). Kemudian, masuk ke kantor-kantor Pemkotnya. Dikelilingin tuh satu-satu bangunan. Dari situ, Devlin menunjukkan rumah lamanya. Katanya sih dulu Devlin tetanggaan sama Fitri. Suka main bareng juga. Ditunjukin juga lah rumahnya Fitri kepada saya. Abis itu muter-muter lagi, yaudah deh, sampe rumah Devlin lagi.

Ngobrol-ngobrol anak muda lagi sambil leye-leye di atas kasur, mandi, dhuha, nonton tv, shalat Zuhur, dan balik lah. Sebelum balik, ditraktir makan bakso dulu. Diantarlah saya ke Terminal Cibinong. Tapi katanya, bisa ke Priok gak ngetem di sini. Ngetemnya di jembatan. Yowes lah, saya diantar ke jembatan. Nyatanya, setelah saya tunggu lebih dari setengah jam, koq, gak lewat-lewat. Kebetulan lah, ada mobil Kowan Bisata yang menuju Pulo Gadung. Daripada kelamaan, saya naik bus itu saja sampai Gudang Garam. Ntar tinggal nyambung naik busway, pikir saya.

Dan akhirnya, saya naiki itu bis. Sempet bete juga lantaran ngetem di depan pintu tol Citereup 2 lebih dari sejam. Di sini saya benar-benar merasakan betapa lelahnya menunggu dan menanti. Yaudah, selama waktu tunggu itu saya selingi baca-baca yang entah banyak banget. Macem-macem lah.

Setelah sekian lama, bis akhirnya berangkat. Perasaan biasa saja. Saya duduk di bangku sebelum pintu belakang, dekat jendela. Perjalanan lumayan lancar, tetapi padat. Hingga tak terasa sudah mencapai disekitaran Cililitan. Dan seketika……………

“Duuuaaarrrrrrrrrrrr”

***to be continue…

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *