Jakarta Trips Part 3
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Jakarta Trips Part 3

Alfath di Pemda Cibinong

Saya pernah mendengar begini: “kalau ada sesuatu yang buruk, pasti ada firasat”. Lalu, apakah kamu merasakannya? Semoga tidak. Pun dengan saya yang merasakan semua baik-baik saja.

Siang itu, saya hendak pulang sehabis bersilaturahim ke rumah Devlin. Jarak yang lumayan membuat saya harus selalu terjaga. Khawatir ada sesuatu yang terjadi.

Dengan perasaan biasa saja, saya menaiki bis Kowan Bisata jurusan Cibinong-Pulo Gadung itu lantaran bis Bersama jurusan Priok tak kunjung tiba. Bisa berjalan dengan tempo yang sedang-sedang saja hingga tak terasa memasuki daerah Cililitan. Seketika…………

“Duaarrrrrrrrrrrrrrrrrr”

***

Mari kita lupakan soal perjalanan ini sejenak. Sebab, saya ingin menikmati perjalanan yang lebih jauh dan besar lagi: Perjalanan Kehidupan. Kita mesti merasa bahwa yang namanya perjalanan itu adalah pergi dari satu tempat ke tempat yang lain. Perjalanan bisa menyenangkan karena banyak alasan. Tak hanya satu. Bisa karena mempersiapkan ke mana destinasinya, menaiki kendaraan yang nyaman, perginya bersama siapa, membawa banyak snack, atau ada sesuatu yang kita harap dan telah lama nantikan di tempat yang hendak dituju. Perjalanan kehidupan inilah yang kemudian saya gambarkan. Saya ingin menuju Syurga, menaiki kendaraan yang entah namanya bikinan Allah (mungkin bisa juga jalan kaki nanti), bersama dan membawa banyak amal, dan menantikan bertemu dengan orangtua, guru, sahabat, orang-orang tercinta. Tambahannya untuk saya mungkin “Ainun Mardliyah”, bidadari Surga, bukan Ainun Fisipol. Zzzz…

Saya selipkan tiap kejadian kecil dan besar dalam catatan kecil memori. Tapi memori saya agaknya terbatas. Sehingga, saya pun harus menaruhnya ke tempat lain yang mampu menampungnya. Saya kurang cukup waktu untuk bisa menemukannya sekarang, tempat macam apa yang bisa menampungnya. Perjalanan hidup ini memang membawa senang, sedih, dan senang lagi. Kalau kata Ariel Peterpan sih, “terkadang hidup memilukan”. Saya tak sepakat dan lebih memilih ST12 bahwa “aku masih bisa terus berjalan, menjalani hidup meskipun sulit menjadi mudah”.

***

Dalam hitungan detik, bisa yang saya tumpangi menabrak sebuah truk putih di depannya. Bis berusaha menghindar dari Avanza hitam yang ugal-ugalan namun ternyata malah begini. Alhasil, bis bagian depan dan belakang hancur karena menabrak dan ditabrak. Beruntung, detik-detik yang menegangkan itu tak berujung maut kepada siapapun dari kami. Semua selamat sentausa dan hanya meninggalkan bekas luka di sebagian orangnya. Saya hanya mendapati luka kecil. Gigi saya berdarah dan kepala saya terbentur dinding bis.

Tenang, sekarang saya baik-baik saja.

***

Saya ingin melupakannya dan cukup bersyukur saja bahwa ini hidup yang diberikan olehNya memberi gambaran besar tentang hidup seutuhnya: ada yang mengatur. Saya banyak mendengar cerita kematian dalam kecelakaan seperti ini, tapi beruntung, ini tak berakhir begitu.

Saya sampai dirumah. Kebetulan Orangtua sedang keluar. Hanya ada adik saya yang paling kecil sedang bermain. Saya lalu merebahkan badan di kasur. Memandangi langit-langit, sejenak hening, lalu bergegas mandi karena sudah mau maghrib.

Yaudah, sebenernya, dari sini semua menjadi hal yang rutin, tidak seru jika saya tuliskan. Adapun yang cukup menarik adalah bagian menasihati adik-adik. Layaknya kakak, ya pasti ingin adik-adiknya berada pada posisi yang terbaik. Tapi, skrip ini saya simpan saja. Saya takut terlihat seperti Mario Teguh. Dan saya tak suka disama-samai.

Kemudian, selama dua hari ke depan, saya menikmati waktu-waktu bersama adik-adik saya yang berkumpul semua. Bersama bapak dan Ibu. Walau sekedar nonton film Detective Conan, ataupun film jepang (apatuh namanya, lupa, tapi keren tentang games tapi kalau gagal akan mati). Ngajak shalat ke Mushollah, ngajar ngaji, ngobrol sama anak-anak gangan, baca buku, tulis cerita beginian yang intinya mempermudah laporan perjalanan saya, ya begitulah.

Adapun hal menarik lain dari perjalanan saya ini adalah ketika bertemu dengan Daus dan Adit. Mereka berdua adalah rekan-rekan saya di STM. Mereka juga sama ngaconya dengan saya. Kalau saya dari elektro ke politik, maka Daus dari listrik ke Sosiologi di UNJ dan Adit dari Mesin ke Sejarah di UNDIP. Mereka tak bisa dilewatkan dari kata “aktivis” di kampusnya masing-masing. Daus ini adalah koordinator Green Force, semacam tim aksi dari UNJ yang kerjanya datengin masa yang jumlahnya bejibun kalau ada demo. Ini orang yang namanya disebut-sebut kemarin karena mau jadi orang yang di DO setelah Ronny (Ketua BEM UNJ 2015). Namun, batal. Kalau si Adit ini, baru kuliah setahun saja sudah pergi ke tiga negara ASEAN: Filipina, Thailand, dan Malaysia. Ini bocah mau presentasiin paper mereka saja. Hehehehe.. Meski ngegembel di negara orang, tapi yang penting bisa nyicipin bau-bau negara seberang. Biar gak cupu-cupu banget lah.

Kita ngobrol di kantin sekolah sembari menyantap soto ayam + susu dingin. Enak juga ya. Dari mulai urusan aktivis, prestasi, dakwah sampe jodoh. Nah, yang terakhir ini saya gak ngerti. Kenapa akhir-akhir ini saya larut dalam bahasan beginian. Entah dalam forum kecowokan macam apa lagi yang tidak saya larut di dalamnya. Kalau begini, cepat atau lambat akan terbongkar. Hanya saja belum cukup kuat dan kokoh. Fyuuuhhh…

Sehabis itu, saya dan mereka juga sama Irfan (si Irfan ini bukan anak stm sini. Dia adek kelas saya di SMPN 95 Jakarta. Kakanya itu teman sekelas saya di SMP yang sama. Nah, karena sering maen bareng dari dulu sampe sekarang, ditambah kami saat ini malah jadi seangkatan, yaudah, seru-seruan saja. Rencananya malem nanti ada kajian di AQL Centre di daerah Tebet sama Ust. Bachtiar Natsir ba’da Isya dan kita hendak ke sana, nah untuk itu saya meminta Irfan berangkat bareng dari STM saya, kebetulan dia dari Bekasi dan diantar sama temannya ke STM) berangkat ke rumah Mr, Taufiq, buru saya yang sangat memotivasi saya untuk benar-benar berkuliah dan tak hentinya bermimpi. Kalau tidak salah, saya pernah menuliskan kisahnya di blog coretanpemenang. Orang ini luar biasa, cari saja di google, Taufiq Effendii, dialah seorang Tuna Netra yang bisa mendapatkan 8 beasiswa ke luar negeri. Sosok ini telah mengudara di acara Ust YM di ANTV dan kick Andy.

Ya, sesampainya di sana memang tak disangka. Saya hanya iseng meminta Daus dan Adit untuk menanyakan ke Mr, ada dirumah atau tidak. Kalau ada, kita samperin saja. Kebetulan ada, makanya kita samperin. Hahahaha.. Dia selalu menanyakan kabar orangtua dan keluarga dari masing-masing dari kami. Motivasi pasti selalu. Soal dakwah di kampus, macem-macem lah. Ada rangkuman pesan kepada saya yang begitu membekas, bunyinya begini:

“Fath, kamu kan punya cita-cita jadi Presiden. Jangan terlalu kentara dengan jubahmu. Kamu harus berteman dengan siapa saja, dari golongan mana saja. Kamu harus rangkul mereka dengan cara-cara yang menyenangkan. Ingat, bahasa kaum. Mereka inilah yang mesti di dakwahi jika berjauhan dari nilai Islam.”

Bukan hanya itu, ada satu pesan lagi tentang cinta. Karena sejujurnya, bagi saya, Bliyo adalah guru bahasa Inggris, agama Islam, motivator kehidupan/prestasi/cinta. Bunyinya begini:

“Sekarang kalian hanya perlu fokus belajar dan berprestasi. Wanita mana yang tak suka dengan pria berwawasan dan berprestasi. Wawasan di sini adalah seberapa jauh ia mencerap ilmu dan berprestasi bukan sekedar trophy, tetapi kebermanfaatan. Yang dengan keduanya itu, kita semakin kenal siapa Tuhannya.”

Yoii, saya sepakat dengan yang diucapkannya. Sepertinya ucapan ini masih sama sejak bliyo sediakala mengisi liburan saya dengan motivasi. Ucapan ini masih terngiang-ngiang. Soalnya, kan banyak orang yang saking khawatirnya hingga melupakan akal sehat, terburu-buru, dan beragam cara lain yang terkadang membuat saya ngeri.

Adit dan Daus, juga Irfan pun mendapati nasihat bagi mereka masing-masing. Teruntuk Irfan, meski baru mengenalnya, tapi bliyo tak merasa ada sekat dengan murid dan bukan muridnya. Semua mendapat perhatiannya tersendiri. Entah mengapa, saya begitu mengagumi guru saya yang satu ini.

Sehabis dari tempat itu, saya dan Irfan pun diantar oleh Adit dan Daus menuju AQL Centre. Sesampainya di sana bertepatan dengan waktu maghrib. Kami bergegas shalat, kemudian karena lapar mencari tempat makan bursa Irfan, kemudian Shalat Isya dan ternyata, kakaknya si Irfan yang juga teman saya SMP—Akmal—sudah datang. Kami bersalaman. Sempat ngobrol sebentar untuk kemudian mendengar kajian dari Ust. Bachtiar Natsir.

Sebelumnya memang diawali dengan pengenalan AQL Centre kepada jamaah, kemudian ada sesi juga dari muslimlebihbaik.com dan baru kajiannya. Malam itu temanya soal menyentuh hati orang lain. Hati di sini lebih kepada hati yang beku karena belum mengenal Islam dan Allah SWT secara utuh. Isinya membahas Al Baqarah ayat 171.

Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.

Butuh hidayah dari Allah untuk mengetuk hati orang-orang kafir, atau pun orang-orang yang masih belum terbuka melihat jalan yang lurus. Tapi, satu hal, kita tak boleh pesimis dan berhenti lelah. Kita harus tampil menyerukan dan mengingatkan segala hal dalam bentuk kebaikan.

***

Pulang memang agak larut. Tepat pukul 00.00 WIB. Hari Jum’at (22/1) ini akan bertemu dengan teman-teman alumni ACCESS (beasiswa bahasa Inggris dari Kedubes USA di mana tempat Mr. Taufiq mengabdikan dirinya). Tempat bertemunya di Ropisbak Rawamangun, dekat STM saya. Ya, di sana ada 9 orang yang hadir. Lumayan, kami bisa berbagi banyak hal. Namun, yang terpenting dari pertemuan itu adalah bahwa kita sepakat untuk membuat satu prestasi berjamaah mengingat selama ini yang terblow up adalah prestasi individu. Untuk mencapai itu, maka dibutuhkan bagi kita untuk saling bersinergi. Kami juga berenca akan mengadakan semacam “Assalamu’alaykum sedulur ala PPSDMS di grup WA” (usul dari saya) sebagai pertimbangan untuk mengetahui kesibukan masing-masing dan juga ada sesuatu dari kami yang bisa dibagikan kepada teman-teman.

Saya selalu senang melihat kebersamaan dan kekeluargaan dari teman-teman saya. Ini bukannya salah satu jati diri PPSDMS ya? Ya, begitulah saya bersama mereka.

Sehabis itu, saya kembali ke rumah untuk kemudian mengambil barang perlengkapan, dan terus menginap di Kantor Perpustakaan dan Arsip Jakarta Utara mengingat besok ada sesi pemotretan dari pagi hingga malam.

Pagi menjelang. Saya semalam tidur dengan nyamannya di ruang perpustakaan Buku untuk Dewasa (jadi ruang untuk anak-anak dan dewasa) di lantai 3. Adem, malah ujan-ujan basah begitu. Langsung bangunin teman-teman yang masih terkapar untuk shubuhan. Abis itu WBS ‘sendiri’ dan mandi. Sudah deh, paling keren dan rapi sendiri. Yang lain masih sumpek hahaaha..

Abis itu, saya iseng liat-liat buku. Ada banyak buku yang saya liat satu per satu cover belakangnya. Kan ada notice begitu tentang suatu buku. Saya baca itu sekitaran 5 buku, hingga akhirnya saya menarik satu buku segede gaban dengan judul “Biografi Ali Syariati”. Memang, saya entah mengapa mengagumi intelektual ini terlepas dari ‘syiah’ nya. Cerita tentang Intelektual macam Ali Syariati inilah yang kemudian banyak menginspirasi saya untuk menjadi dosen kelak dan akan mengubah masyarakat Indonesia. Aamiin. Bliyo sama sekali tidak melepaskan agama dalam setiap narasi pemikirannya. Memang, butuh kolaborasi dengan ulama, seperti dengan kisahnya bersama Ayatullah Khomeini. Kita akan bertanding dalam perang pemikiran yang lekat kaitannya dengan politik. Maka dari itu, kita hanya perlu berpegang pada kedua ilmu dunia yang dilandasi ilmu akhirat.

Waktu santai beres. Tibalah sarapan dan kemudian kami di dandani. Menunggu giliran di foto, ya macem-macem lah posenya. Potonya itu untuk dokumentasi KPAK, promosi Abnonku, dan macem-macem deh. Terserah pengurus. Sampe berulang kali di make up katena luntur kena Wudhu, tapi bodo amat. Saya lebih milih shalat. Hahahaha…

Nah, ada lagi ini yang menemani saya selama liburan. ada buku berjudul “DIA” karya M. Quraish Shihab. Syiah? Saya tidak masalah. Saya hanya mencerap ilmu dari berbagai sumber. Mau kiri, mau kanan, mau depan, mau belakang, mau atas, mau bawah, saya harus sikat. Bukunya memang bagus koq. Penegasan bukunya terlihat dari awal, di cover buku yaitu bahwasanya Allah Swt ada di mana-mana karena “Tangan”nya yang selalu ada di balik setiap fenomena.

Sudah pasti, Allah yang membuat saya selamat dari maut. Sudah pasti, Allah yang memberi jalan buat saya bisa berkuliah. Sudah pasti, Allah yang membantu mempertemukan saya dengan banyak orang. Sudah pasti Allah…

Dalam buku itu juga, ada kalimat menarik yang bisa di simak:

“Tariklah pelajaran dari sebongkah batu yang sedemikian kokoh, tapi dapat berlubang walau hanya dibasahi air setetes demi setetes.”

Intinya, segala yang kuat pasti memiliki celahnya. Segala yang keras pasti bisa diluluhkan. Segala yang tidak mungkin akan menjadi mungkin. Bukan begitu?

Kita harus belajar dari sekeliling. Mau dari manusia, hewan, tumbuhan, setan, jin, apa pun itu. Saya saja jadi inget kisah Timur Lank, seorang Raja Mongol sekaligus Cucu Genghis Khan yang menguasai dan menundukkan Iran, India, Damaskus, dan Turki. Bliyo mengambil ibrah dari seeokor semut yang mengangkut muatan besar menuju tebing yang tinggi. Berkali-kali itu semut jatoh. Tapi, ia bangkit lagi dan tak sekalipun merasa putus harapan.

Terlalu mahal kan pelajaran ini? Didapat gak dibangku kuliahmu? Saya jamin tidak. Kamu harus berusaha mencarinya sendiri di luar. Sekarang saya sangat sadar bahwa setiap hidup, bertemu, bersedih, bergembira lagi, bercerita, bertutur, berdiskusi, bermusuhan, berlawanan pandangan, berbeda paham adalah untuk belajar. Kita akan saling berwarna. Kamu hitam, saya putih. Kamu senja, saya pagi. Ada banyak perbedaan. Tapi tenang saja. Kita akan satu karenaNya.

Maka inilah takdir yang mesti disyukuri. Saya hanya menjalani hari-hari dengan perencanaan yang terukur. Saya tak mau mati konyol lantaran maju berperang tanpa amunisi. Tugas saya sekarang adalah memperbanyak amunisi tersebut. Kelak, bila hidup tanpamu—kalian—ibarat masjid tanpa jamaah: sepi.

Saya rasa, masih ada sekitar kurang dua hari lagi di sini. Ada satu agenda yang beluim saya ceritakan. Itu soal konsolidasi Gerak Nasional. Entah, membahasnya nanti macam apa, tapi yang terpenting adalah saya coba memberikan yang terbaik dalam setiap aktifitas yang saya lakukan.

Pada akhirnya, cerita liburan mungkin akan berhenti di sini. Tapi saya bersyukur yang utama ialah karena masih diberikan kesempatan memandang langit biru, menghirup nafas segar, melihat ayah-ibu-adik-keluarga dalam keadaan terenyum berbahagia.

Saya bersyukur atas karuniaMu.

//Saya tak akan henti menulisan cerita kehidupan. Sungguh.//

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *