Kampus Kerakyatan
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Kampus Kerakyatan

Mahasiswa Kampus Kerakyatan

Dunia cerita yang saya rancang ini bermula dari kenangan tentang Kampus Kerakyatan. Mungkin itu sebabnya, dalam pergaulan dengan rekan-rekan di luar sana, saya kerap disebut intelektual organik. Alih-alih kenyataan, saya malah merasa terpukul dan hina karena menjauh dari rakyat.

***

Beberapa hari lalu saya membaca buku tebal berjudul “50 tahun UGM: Di Seputar Politik Bangsa”. Saya buka lembar buku itu satu persatu, secara perlahan. Sebab tak ingin melewatkan sedikitpun narasi tentang UGM—fyi, buku ini langka—saya mengkopi buku tersebut. Saya memegang keyakinan, kelak buku ini berguna paling tidak untuk mengenang kalau bukan untuk mengupayakannya hadir kembali.

Secara sederhana, buku tersebut mendeskipsikan tentang sikap dan peran politik UGM dalam berbagai periode kehidupan bangsa. Kata-kata yang terhimpun di sana mengisyaratkan tentang perjuangan tak kenal lelah untuk menghadirkan suatu lembaga pendidikan tinggi—Universitas—sebagai kawah candradimuka yang peduli dengan rakyat kecil.

Tentu saja, siapapun akan tersayat hati dan pikirannya ketika membayangkan betapa Universitas yang berjati diri Pancasila ini mampu memelihara cita-cita rakyat kecil. Namun, saya mulai berpikir, seperti Radhar Panca Dahana bilang kalau ‘kata’ tidak selalu menjadi daratan yang statis, diam dan tak bergerak. Mungkin ia lautan yang senantiasa bergejolak, pergi-pulang, tiada henti. Kata harus menemukan dirinya, yang tak lain menemukan manusia yang telah meninggalkan dan ia tinggalkan. Maka, berkatalah. Bukan hanya untuk mengerti tapi untuk menjadi.

Dari pernyataan Radhar, saya menjadi sadar, paling tidak ada dua maksud yang saya dapat. Pertama, ‘kata’ bisa berubah makna seiring bergantinya waktu dan tempat. Kata di konstruksi, kemudian beberapa pihak mendekonstruksi; proses ini berlangsung secara terus-menerus. Misal, dahulu kata ‘cinta’ selalu menunjukkan hal-hal penuh gairah dari dua insan yang sedang dimabuk asmara; senang dan bahagia. Ini akan jauh berbeda dengan ‘cinta’ sebagaimana kita kenal hari ini. Cinta nyatanya bukan hanya soal senang melainkan juga bisa membunuh karena persoalan ditolak atau putus cinta. Sederhananya, kata akan menuntut hadirnya kebaruan; atau pemahaman ulang atas sesuatu yang dipahami sebelumnya.

Kedua, kata-kata bukan sekedar teks. Lebih jauh, ia dipahami sebagai konteks. Dengan kata-kata, kita bisa menyelami suatu keadaan pada suatu masa, sehingga pada akhirnya kita bisa mengerti tanpa harus mengalami; dan kita bisa menjadi sebagaimana pesan yang diamanahkan dalam setiap fenomena, bukan sekedar mengerti.

Dari sini saya patut bersyukur bahwa kesadaran merupakan keutaman. Lihat saja, hanya karena buku yang dipinjam, saya pada akhirnya bisa berkesadaran bahwa ada sesuatu yang salah oleh mereka, yang mengelola Kampus Kerakyatan. Mobil-mobil mewah yang berserakan di Grha Sabha Pramana misalnya telah menggantikan gerobak angkringan, bakso, ketoprak yang setia menemani sore mahasiswa. Biaya kuliah yang tinggi mempersulit kawan-kawan saya berkuliah. Beberapa masih ada yang berusaha dengan gigih bekerja paruh waktu, namun sebagian lain harus rela dicutikan karena Ibu-Bapak tak sanggup membiayai. Beasiswa yang notabene-nya bisa membantu meringankan beban justru malah dihapuskan; dan masih banyak lagi hal-hal tidak masuk akal yang dilakukan pengelola Gadjah Mada.

Pada prinsipnya, Kampus Kerakyatan sebagaimana diawal disebutkan sebagai Kampus yang peduli dan memelihara cita-cita rakyat kecil. Konteks yang terjadi pada saat itu di mana, di awal kemerdekaan, UGM hadir mengusung pendidikan yang mengedepankan kemanusiaan dan pembangunan bangsa. Hal ini ditunjukkan dengan keberpihakannya dalam menyelenggarakan pendidikan berkualitas dengan harga terjangkau, agar setiap anak bangsa bisa meneguk ilmu dari sumber airnya almamater Gadjah Mada.

UGM pernah punya pengelola yang berhasil menyelenggarakan pendidikan tinggi berkeadilan dan manusiawi. Adalah Kusnadi Hardjasoemantri. Banyak orang terpesona dengannya. Beliau pendidik. Karenanya, semua mahasiswa dicintai sebagai titipan calon putra-putri terbaik bangsa yang perlu dibimbing, diayomi dan dibesarkan hatinya. Beliau adalah sarjana hukum. Karenanya, beliau mengajari bagaimana cara menghormati hukum dan bukan menakutinya. Pendekatannya adalah keterbukaan, kebersamaan dan kemitraan.

Saya berharap, apa yang dilakukan oleh Pak Kus bisa dilanjutkan oleh para pengelola Gadjah Mada hari ini. Mungkin terlalu naif, tetapi sejujurnya ini merupakan ketulusan niat baik mahasiswa kepada almamater. Sebab, bila ini tidak, kami menaruh kekhawatiran mendalam.

Jujur saja, Kampus Kerakyatan semakin ke sini telah berubah wajah; terdekonstruksi ke arah yang negatif. UGM lebih dikenal sebagai Universitas Golek Money. Jika bukan itu, pasti jawabnya Universitas Gerai Mobil. Ini sama halnya dengan meruntuhkan cita-cita besar Gadjah Mada dengan sumpah Amukti Palapa-nya yang menggelegar seantero Nusantara itu.

Andai kita memahami konteks UGM bermula melalui teks yang bisa kita pelajari saat PPSMB, Pusat Studi Pancasila, Museum UGM, atau paling tidak dari buku yang saya pinjam ini, kita masih punya harapan untuk membingkai kembali cita-cita kerakyatan yang luhur. Dosen dan mahasiswa sama-sama menampilkan wajah yang berkeadilan dan berkeadaban; menjunjung tinggi semangat spiritual dan emansipatoris sebagaimana inti dari sila pertama hingga sila kelima dalam Pancasila.

Sekarang pertanyaannya, beranikah kita mengubah kembali wajah Kampus Kerakyatan yang semakin memudar itu, atau kita malah menyerah pada kehinaan dan pasrah oleh keputusasaan, sehingga membiarkan ini semua jadi kenangan?

Saya jadi ingat pesan Ibu:

“Jangan hinakan dirimu pada keputusasaan, Nak. Ibu mengandungmu bukan untuk jadi pecundang. Menghadirkanmu ke dunia bukan secara percuma. Ibu ingin melihat kamu berani mengatakan bahwa yang benar itu benar dan yang bathil harus menyerah pada kebenaran. Agar terbukti bahwa yang putih itu tetap putih dan yang hitam kembali memutih. Itulah haqqul yaqin”.

Saya berani, kamu?

 

Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia

Pimpinan Dema Fisipol

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *