Ketakutan
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Ketakutan

640px-HK_Portland_Street_Night

Waktu saya kecil, saya ingat betul kalau Mama melarang saya keluar di waktu maghrib. Katanya ada sandekala. Saya yakin, pasti yang dimaksud Sandekala itu setan yang menyeramkan, kala itu.

Saya sendiri tak pernah tau ataupun mendengar dari orang lain atau bahkan ibu tentang bagaimana rupa atau wujud sandekala. Ia hanya diceritakan merupakan hantu yang muncul saat pergantian waktu dari siang ke malam, tepatnya saat hari mulai petang. Sandekala berkeliaran di waktu itu untuk menculik anak kecil yang masih berada di luar rumah. Konon, anak kecil yang telah diculik sandekala, tak akan pernah bisa pulang.

Terlepas dari benar tidaknya eksistensi  mahluk bernama sandekala, ada hal yang baik dari apa yang disampaikan para orangtua tentang sandekala, yaitu pesan perlindungan orangtua terhadap anak-anak yang sangat disayanginya.
Orangtua tidak ingin ada anaknya yang terancam keselamatannya saat berada di luar rumah saat malam. Orangtua ingin memastikan bahwa anak-anaknya berada di rumah di bawah pengawasan dan perlindungannya. Memastikan bahwa anaknya juga dapat makan malam, belajar, ibadah dan beristirahat.
Saya jadi berpikir, orangtua zaman sekarang, mungkin sudah melupakan sandekala yang jadi bahan obrolan umum dari generasi ke generasi sebelumnya. Popularitas sandekala telah semakin redup di telan modernisasi. Namun tanpa kita sadari, sandekala telah menyamarkan dirinya ke bentuk yang lain: gegap gempita dunia malam.
Nah, barangkali kehidupan gegap gempita malam itu saya temukan di sini. Hehehe
Di dekat kantor, ada bar. Muda-mudi ramai-ramai mendatanginya. Saya pusing tujuh keliling. Dunia kita berbeda, coy. Andai saja orangtua mereka sama seperti orangtua saya dirumah, pasti gak bakal dibolehin. Hahaha
Hingga besar begini, saya baru tahu, kalau yang dimaksud sandekale ternyata ya mereka yang diculik ke bar-bar ini. Lupa rumah karena ketemu temen yang nawarin ganja, rokok, bahkan yang ngeri adalah LGBT. Sepanjang jalan saya lihat praktik LGBT. Umumnya lesbian. Saya cuma bisa istighfar sembari ngelus-ngelus dada. Baiklah. Ini ketakutan yang saya hadapi di sini :’)
Sama seremnya kayak sandekala. 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *