Khutbah Jum’at Merawat Indonesia
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Khutbah Jum’at Merawat Indonesia

Alfath Bagus Khutbah Jumat

[Khutbah Jum’at Masjid Wahidatul Ummah Desa Temajuk, 15 Juli 2016]

Assalamu’alaykum wr.wb.

<<<<<Adzan>>>>>

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا  أَمَّا بَعْدُ

Jamaah Sidang Shalat Jumat yang dimuliakan Allah SWT.

Segala puji hanya milik Allah SWT, asma terindah, yang telah menurunkan kitab suci Al Qur’an sebagai petunjuk bagi orang-orang bertakwa. Selawat teriring salam senantiasa tercurah kepada Uswatun Hasanah kita, Nabi besar Muhammad SAW, yang telah menjadi pemimpin, da’i pembaharu, dan panutan terbaik sepanjang masa, serta pembawa risalah kebenaran bagi seluruh alam.

 

Jamaah Sidang Shalat Jumat yang dimuliakan Allah SWT.

Pada siang hari ini, Izinkan Khotib naik mimbar dengan memberikan sebuah khotbah yang berjudul “Merawat Indonesia”.

 

Republik ini merdeka bukan sekedar menggulung kolonialisme semata. Republik ini datang bukan dengan cita-cita. Republik ini hadir dengan janji. Cita-cita bisa direvisi, tetapi janji tidak bisa. Janji harus dilunasi. Apa janji republik ini? Republik ini berjanji untuk melindungi, mensejahterakan, mencerdaskan, dan membuat setiap orang merasa aman, serta menjadi bagian dari perdamaian dunia.

Sebentar lagi, Indonesia akan sampai pada usianya yang ke 71 tahun. Namun, pertanyaannya: apakah hari ini, Indonesia sudah bisa melunasi janjinya? Kemudian, siapakah yang bertanggung jawab untuk melunasi janji kemerdekaan ini?

Mari kita jawab kedua pertanyaan ini secara perlahan dan cerdas.

Tentu saja, sebagai bangsa Indonesia kita patut bersyukur atas segala pencapaian yang sudah dilakukan, baikdari pemerintah beserta segenap pihak yang terlibat dalam upaya membangun bangsa di berbagai sektor kehidupan. Ingatlah firman Allah dalam QS. Ibrahim ayat 7:

Artinya: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

Jamaah Sidang Shalat Jumat yang dimuliakan Allah SWT.

Dengan itu semua, kita yang hari ini sama-sama bisa melihat Desa Temajuk hidup dalam kecukupan. Para nelayan tak pernah kekurangan hasil laut, para pemilik lahan dan kebun tak pernah takut kehilangan musim panen, para pemilik warung tak pernah sepi dari pembeli, para pamong desa yang setia melayani warga, para pelajar yang gedung sekolahnya dibangun megah, para guru yang nasibnya telah diperhatikan negara, serta segenap pihak dengan berbagai profesi, yang pada intinya hidup tak berkekurangan; semua mendapatkan bagiannya sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Meski, dalam hati kecil, kita entah mengapa seringkali merasa, sejujurnya pencapaian ini belum cukup maksimal. Masih saja ada tangis-perih kemelaratan dan ketidakmampuan menyekolahkan anak dari gubuk-gubuk di desa. Kenakalan remaja, narkoba, dan minuman keras masih banyak kita jumpai dalam keseharian.Bukan hanya itu, masih ada pula suara keroncong perut lapar dan jeritan tak terperi dari para gelandangan, pengemis, dan pengangguran di pinggiran kota. Di level internasional, kita masih harus terus meningkatkan partisipasi dalam rangka menciptakan perdamaian dunia.

Hal tersebut semakin diperparah oleh kenyataan akan manusianya, disemua level, yang banyak berlaku koruptif atau tidak jujur; yang kaya terus menumpuk harta dan meninggalkan yang miskin-papa. Budaya kolektif seperti gotong royong berubah menjadi individualistis. Hingga soal politisi yang berebut kuasa meski hanya memiliki kompetensi seadanya. Apakah manusia yang demikian ini bisa disebut sebagai manusia Indonesia?

Dititik ini, pertanyaan tentang janji kemerdekaan nampaknya jelas belum dilunasi. Lalu, pertanyaan selanjutnya, apakah orang yang bertanggung jawab terhadap janji kemerdekaan itu adalah mereka yang berbuat kerusakan, berlaku koruptif, serakah, individualistis, dan tak cerdas?

Maka ingatlah firman Allah SWT dalam QS. Al Baqarah ayat 30:

Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.

Dengan demikian menjadi penting bagi kita memahami terminologi ‘manusia Indonesia’. Menarik apa yang disampaikan Sukarno, presiden pertama kita,diawal-awal kemerdekaan dahulu tentang manusia Indonesia. Ia katakan dalam salah satu pidatonya yang bernas bahwa manusia Indonesia itu ialah Insan Al Kamil.

Insan Al Kamil merupakan konsep manusia paripurna, manusia yang sudah ‘selesai’ dengan urusan pribadinya, manusia yang telah menjangkau tingginya puncak kehidupan. Tentu saja Rasulullah SAW adalah prototipe dari manusia tersebut. Seorang abdi penghamba Allah SWT yang ummi, tak pandai baca tulis, tetapi ia mampu menyelesaikan persoalan itu dengan mengangkat kelebihan yang ada pada dirinya.

Beliau melaksanakan amanah kerasulannya, yakni menyampaikan risalah pergerakan dalam bentuk Al Qur’an. Dengan itu, beliau mampu menjadi seorang yang berwawasan luas, idealisme yang kuat, mau bersusah payah tuk berjuang bagi agama Allah dengan menghadirkan Islam di masyarakat yang jahiliyah; dan dengan itu semua ia berhasil memperbaiki akhlak, mengangkat derajat dan martabat kemanusiaan bangsa-bangsa Arab. Inilah yang dinamakan hidup memikirkan orang lain.

Bilamana hidup memikirkan orang lain dijadikan sebagai keseharian dari warga Desa Temajuk, maka bukan tidak mungkin kita hidup dalam kebahagiaan, tak lagi merasa sendiri di tengah masyarakat dan takut akan kekurangan, saling nasihat-menasihati, saling tolong-menolong, dan mencipta satu, sepuluh, seratus, hingga bahkan seribu perbuatan baik lainnya. Inilah jalan tuk merawat Indonesia. Maka, jadikanlah Indonesia ini milik kita semua. Karena, hanya kepada kita semualah, republik ini dititipkan untuk melunasi janji kemerdekaannya. Dengan begitu, upaya mencapai tahapan Insan Al Kamil seharusnya bisa menjadi semangat yang mengisi kemerdekaan Indonesia yang sebentar lagi, supaya tak kering tiada bermakna.

Semoga Allah SWT melindungi Desa kita dari segala mara bahaya; dijadikannya desa ini sebagai desa yang turut memperkuat dan memperkokoh fondasi kebangsaan, sehingga kelak, bangsa ini menjadi bangsa yang rukun, guyub, gotong royong, cerdas, saling mencintai keadilan, tidak ada kesenjangan antara di kota dan desa, mencapai kesejahteraan, dan selalu berpegang teguh kepada Al Qur’an.

 

***Khutbah Kedua

Jamaah sidang sholat jumat yang berbahagia. Hakikat manusia menurut Al Qur’an hanya terbagi menjadi dua, pertama, sebagai khalifah, dan kedua sebagai hamba Allah. Dengan begitu, tugas kita adalah menjadi khalifah atau pemimpin, setidaknya bagi diri sendiri sebelum menjadi pemimpin bagi orang lain. Kemudian, menjadi seorang hamba yang menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya.

Melalui khutbah ini, khotib berwasiat kepada diri sendiri dan juga jamaah. Pertama, jadikan Al Quran yang berisikan kisah-kisah luhur sebagai rujukan dalam hidup dan bertindak. Al Qur’an sebagai sumber inspirasi bagi masyarakat Desa Temajuk tak kan pernah kering. Ia akan terus memberikan mata air bagi kehidupan ruhani dan jasmani kita. Al Qur’an inilah yang membantu kita untuk menyelesaikan janji kemerdekaan.

Kedua, memiliki kesalehan pribadi dan sosial. Menjadi saleh secara pribadi sudah biasa. Maka, dibutuhkanlah orang yang saleh secara sosial dengan mulai terlibat dalam hidup memikirkan orang lain. Andai, manusia Indonesia yang jumlahnya dua ratus lima puluh juta ini benar-benar mau berusaha meraih derajat Al Kamil, mungkin tak kan ada lagi tangis, derita, dan kebodohan. Kalaupun tak semua orang mampu mencapainya, maka kewajiban bagi kaum yang terdidik untuk mendukung, menolong, dan membersamai yang lemah. Betapa mengagumkannya negeri ini.

Maka, hari ini, di titik ini, kita berefleksi dan kemudian menghentikan segala keluh kesah. Menggerutu seumur hidup-pun tiada guna. Sudah cukup kepedihan menggelayuti nasib jutaan rakyat Indonesia. Sebab, sesungguhnya menjadi manusia Indonesia bukanlah sesuatu yang sulit dilakukan. Yang terpenting ialah kemauan yang kuat disertai semangat ikhlas untuk meraihnya.

Mari kita tutup khutbah Jum’at kali ini dengan mengangkat kedua tangan kita, tundukkan hati-hati kita atas segala bentuk kesombongan, keabaian, dan kelalaian kita kepada Allah SWT.

اَللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّاالْغَلَآءَ وَالْبَلَآءَ وَالْوَبَآءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَآئِدَ وَالْمِحَنَ مَاظَهَرَ مِنْهَا وَمَابَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بَلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً اِنَّكَ عَلَى كُلِّى شَيْئٍ قَدِيْرٌ

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *