Kolaborasi Kebaikan: Dari Konsep Menuju Praktik
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Kolaborasi Kebaikan: Dari Konsep Menuju Praktik

Kolaborasi Kebaikan: Dari Konsep Menuju Praktik

Apa yang kamu dambakan dari kehidupan ini? Mengubah dunia atau yang paling sederhana: mengubah diri sendiri.

Saya teringat dengan pesan Rumi, Yesterday I was clever, so i wanted to change the world. Today I am wise, I want to change my self”. Artinya kurang lebih begini, “Kemarin saya seorang yang pintar, sehingga saya ingin mengubah dunia. Hari ini saya ialah seorang yang bijak, saya ingin mengubah diri sendiri”.

Kalimat diatas juga membangkitkan saya pada memori kata-kata yang pernah saya baca sewaktu usia dini dan kata-kata itu sampai kini diperdengarkan kepada khalayak. Konon ada seorang Uskup Anglikan yang sudah meninggal pada tahun 1100 AD. Beliau dimakamkan di Westminster Abbey, sebuah gereja tempat tradisional penobatan raja dan ratu Inggris dan juga pemakaman, dan pada nisan Uskup itulah ditemukan kata-kata berbunyi:

“When I was a young man, I wanted to change the world. I found it was difficult to change the world, so I tried to change my nation. When I found I couldn’t change the nation, I began to focus on my town. I couldn/t change the town and as an older man, I tried to change my family. Now, as an old man, I realize the only thing I can change is myself, and suddenly I realize that if long ago I had change myself, I could have made an impact in my family. My family and I could have made an impact on out town. Their impact could have changed the nation and I could indeed have changed the world”.

Kalimat diatas sebenarnya serupa dengan yang disampaikan Rumi. Menceritakan keinginan anak-cucu Adam untuk bagaimana bisa melakukan perubahan. Namun, pertanyaannya, perubahan itu untuk siapa? Apakah kita memilih menjadi seorang yang cerdas atau bijaksana? Apakah kita mesti tua terlebih dahulu supaya menyadari bahwa semua itu dimulai dari mengubah diri sendiri? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menumpuk dalam pikiran dan meminta kita untuk segera menjawabnya.

Saya ingin menyampaikan diawal ini, bahwa hidup manusia itu bukanlah pilihan ganda yang mana jawabannya sudah tersedia dan kamu hanya perlu memilih satu jawaban benar. Kalau tidak A berarti B; kalau bukan B maka C; terus sampai pilihan ganda itu berhenti pada E. Terbatas pada lima opsi saja. Namun, bukan begitu cara kerja hidup ini. Saya membayangkan bahwa hidup manusia itu adalah soal essay yang mana jawabannya harus ditemukenali melalui pendekatan masing-masing. Seseorang perlu menarasikan jalan pikirnya melalui pengalaman diri maupun orang-orang disekitarnya, mencaritahu dari berbagai macam sumber dan beragam cara untuk memastikan bahwa setiap pertanyaan yang diajukan kepada seseorang, meskipun sama, akan memiliki jawaban yang berbeda antara satu dan lainnya. Hal inilah yang membuat kita bisa melihat lebih jelas bahwa dunia yang kita huni saat ini jauh lebih indah dan bermakna.

Dengan pertanyaan yang diajukan diawal, sekiranya saya bisa membingkai bahwa setiap dari kita berhak mendambakan sesuatu dari kehidupannya didunia ini. Ada yang mendambakan harta, tahta, pasangan ideal. Seluruh idealita, yang berisi tentang kebaikan-kebaikan dalam imajinasi seorang individu, menjadi ambisi. Ambisi ialah hasrat yang besar untuk memiliki; dan tidak ada yang salah dengan ambisi. Justru karena ambisi itulah yang membuat seseorang bisa menjaga eksistensinya dan hidup. Hanya perlu diperhatikan, seberapa komitmen kita menjalani ambisi dan kita perlu tahu di mana kita memiliki ‘batas’.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Kalaulah anak Adam (manusia) tekah memiliki dua lembah dari harta, niscaya dia masih berambisi untuk mendapatkan yang ketiga. Padahal (ketika ia berada di liang kubur) tidak lain yang memenuhi perutnya adalah tanah, dan Allah Maha Mengampuni orang-orang yang bertaubat”. Sabda ini mengingatkan kita supaya manusia itu mengenal batas. Ia dibekali akal dan fikir agar bisa menjangkau sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Adanya mesin uap, pesawat, komputer sampai kita tiba di era internet of things. Ketika kita menengok kebelakang kita sadar bahwa ada banyak sekali perubahan yang dialami oleh dunia, namun sifat-sifat jahiliyah manusia sepertinya belum berubah: tamak, sombong dan tak tahu batas.

Jangan kita lupa, bahwa hakikat manusia itu terbatas dan perjalanan hidup manusia itulah yang hendak menuju kepada akhir; kepada Dia yang tidak terbatas, Allah Swt. Artinya, perjalanan kita didunia ini ialah sementara. Karena ‘sementara’ dan ‘terbatas’ itulah kita harus mempersiapkan sebaik-baiknya bekal untuk kehidupan yang abadi.

Dititk inilah saya ingin membawa ambisi pribadi. Saya yakin ambisi pribadi ini akan menjadi ambisi yang didukung oleh semesta; sebagai bekal saya—dan juga mereka yang percaya—bagi kehidupan yang kekal. Saya mengajukan gagasan “Kolaborasi Kebaikan” untuk saudara/i pembaca terima. Begini. Hidup merupakan pertempuran antara baik melawan buruk. Apabila kamu ingin kebaikan menang, maka tugas kita ialah memperjuangkan kebaikan. Sebab, diluar sana, ada pula mereka yang sedang berkolaborasi, tetapi mereka berkolaborasi dalam keburukan.

Dalam QS. As-Syams: 8 Allah Swt menyampaikan tentang“faalhamaha fujuro ha wa taqwa ha”, bahwa hanya ada dua jalan yang bisa dipilih oleh manusia: jalan fujur (melanggar, membantah, tidak taat, fasik, buruk) dan jalan taqwa (taat, patuh, nurut, baik). Secara alamiah, setiap dari kita menginginkan kebaikan itu melekat dalam diri kita. Namun, seiring berjalannya waktu kita tumbuh dewasa, bertemu dan berkenalan dengan banyak orang, bergaul sampai menetap. Dalam proses itu kita bisa jadi berproses dalam situasi yang tak mudah, diisi oleh orang-orang yang mayoritas mengajak kita pada jalan fujur. Apabila tidak kuasa kita melawannya, maka kita terjebak dan malah ikut serta didalam jalan itu. Tetapi sebaliknya, apabila kita meyakini bahwa kita adalah orang-orang yang memilih jalan taqwa, maka seberat apapun tantangannya, Insya Allah, kita akan selalu berusaha untuk memastikan bahwa diri kita berada dalam kebaikan. Untuk memastikan hal itu, maka kita butuh bersama. Kita butuh untuk berjamaah.

Islam mengajarkan kepada kita tentang urgensi berjamaah. Sebab, berjamaah itu adalah suatu kebutuhan bagi persatuan umat. Didalam Islam itulah, kita menemukan ukhuwah atau solidaritas atas nama persaudaraan sesama muslim. Yang saling menguatkan, saling mengingatkan, saling menautkan hati bahkan saling merapalkan nama saudara seimannya didalam doa. Bayangkan saja, ketika ibadah kita, misal dalam shalat dilakukan secara berjamaah maka pahalanya akan menjadi 27 kali lipat dibandingkan munfarid. Dititik ini, bagi saya berjamaah itu berkolaborasi; dan kolaborasi itu sendiri adalah kata kunci untuk melakukan kerja-kerja kebaikan besar.

“Kolaborasi Kebaikan” itu sendiri adalah hasil saya mentadaburi QS. Al Maidah: 2: “…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siska-Nya”. Dalam ayat ini, Allah Swt menyeru kita untuk tolong-menolong atau yang dalam bahasa kekinian disebut sebagai ‘kolaborasi’, tetapi kolaborasinya khusus dalam kebajikan dan taqwa saja. Disinilah pintu masuknya “Kolaborasi Kebaikan” sebagai suatu konsep. Lalu, bagaimana mempraktikkannya?

Dalam praktiknya, “Kolaborasi Kebaikan” dapat dijelaskan dalam beberapa langkah berikut:

Pertama, sebagai manusia kita harus menyadari hakikat kita yang lemah dan bodoh dimata Allah Swt. Sebab, kita hanyalah makhluk dan tak ada satupun yang bisa kita banggakan dan tinggikan dihadapan Allah Swt. Tetapi, manusia diberikan Allah Swt akal untuk bisa melampaui kelemahan dan kebodohannya itu dalam rangka mendekati Allah Swt. Maka, dalam pandangan optimistik Allah Swt terhadap manusia seperti tergambar dalam QS. Al Baqarah: 30 bahwa manusia mendapatkan mandat sebagai seorang pemimpin. Barangsiapa yang menggunakan akalnya itu untuk melaksanakan mandat Allah Swt dengan sebaik-baiknya, maka ia tergolong orang-orang yang berhasil mendekati Allah Swt dalam kebaikan. Sementara mereka yang gagal, tak ubahnya mereka dengan posisi semula sebagai makhluk yang bodoh dan lemah.

Kedua, dengan segala potensi yang dimiliki, ditambah pula dengan mandatnya sebagai pemimpin dimuka bumi, maka manusia harus mengupayakan dirinya untuk menjadi pribadi hebat. Ciri-ciri pribadi hebat itu antara lain: memiliki nilai-nilai spiritualitas, integritas, cendekia, transformatif, dan melayani sesama.

Ketiga, dalam mengemban amanahnya itu manusia perlu mengaplikasikan “Kolaborasi Kebaikan”. Bahwa ini adalah jalan yang harus ditempuh dalam rangka memperjuangkan kebaikan dengan mengajak sebanyak-banyaknya orang untuk menjadi agen kebaikan.

Keempat, kita juga harus melangkah jauh kedepan menjadi seorang “intelektual penggerak”, yakni intelektual yang tidak hanya berdiri di atas menara gading. Cara kerjanya seperti seorang aktivis, selain dengan memperkuat literasi dan berjiwa qur’ani, kita pun memilih ikut serta melalui jalan membumi dengan menjadikan ilmu sebagai alat perjuangan. Sebab, kita akan sadar bahwa ilmu itu seharusnya diamalkan, dan amal itu seharusnya ilmiah. Dengan demikian, ilmu tidak seharusnya menyerah pada keadaan sulit. Ilmu itu memihak, ilmu itu memperjuangkan sesuatu.

Kelima, setelah persiapan di atas beres, kita melangkahkan kaki; berhijrah dari medan kata-kata ke medan juang. Disanalah letak perjuangan sesungguhnya: nahi munkar. Apabila selama ini kita baru terbiasa dengan amar makruf, maka perjuangan kedepannya ialah kita harus nahi munkar.

Keenam, sebagai langkah taktis yang terakhir kita harus bisa menjadikan bangsa Indonesia ini, yang dihuni oleh mayoritas umat muslim ini sebagai bangsa yang mampu memimpin peradaban dunia. Kita tidak semestinya mengekor apalagi mengembik pada bangsa-bangsa asing. Kita harus menjadikan diri kita sebagai manusia paripurna atau Insan Al Kamil, kemudian menikah dan membangun keluarga, membangun masyarakat yang berkeadaban mulia, selanjutnya meluruskan kiblat bangsa dengan menjadikan Indonesia sebanga bangsa yang bermartabat dan kita bisa memberikan nasihat pada dunia dengan menjadi seorang negarawan dunia.

Barangkali langkah-langkah taktis ini yang harus kita lakukan sesegera mungkin. Seperti Hasan Al Banna sampaikan, tentang konsep maratibul amal, maka perjuangan harus dimulai dari diri sendiri, meningkat dan berakhir pada tatanan dunia yang lebih baik. Bukankan ini dambaan kita semua? Tentang kehidupan yang lebih baik dan beradab. Mari kita upayakan bersama, saudara!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *