Memastikan Kebaikan Terlibat
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Memastikan Kebaikan Terlibat

memastikan-kebaikan-terlibat

Pernahkah kalian merasakan hidup susah?

Kalau belum, bolehlah kiranya mendengar sedikit tentang saya. Sebagaimana jauh di awal, sebelum saat saya terpilih, saya pernah berpesan bahwa “diri ini takkan mampu memberikan kemewahan politik”. Saya hanya berjanji dan apabila saya mengingkari, saya khianat.

Janji saya ketika itu ialah memastikan bahwa kebaikan harus disebarkan. Janji yang sederhana, sulit dilaksanakan. Bagi saya kebaikan itu tak boleh berhenti pada satu orang saja. Kebaikan itu dua, tiga, sepuluh, seratus, seribu dan tak terhingga. Dengan demikian, akan tercipta banyak kebaikan, entah bentuknya apa dan siapa yang melaksanakannya. Logika sederhana ini yang coba saya bawa.

Hari ini kita mendengar #AksiBelaRakyat121. Pertama kali mendengar saya berpikir ini adalah aksi simbolik. Aksi yang mau keren-kerenan. Aksi yang gatau asal-usulnya yang penting teriak “hidup mahasiswa Indonesia…hidup rakyat Indonesia”. Ya, selintas dipikiran saya demikian. Beberapa kali saya dibuat kecewa dengan landasan gerak kawan-kawan senior dari berbagai Universitas yang ada di BEM SI. Kasus Ahok misalnya. Sikap yang disampaikan oleh BEM SI lalu, menurut hemat saya justru membuat keterlibatan mahasiswa beserta idealismenya ternodai dengan kecenderungan ikut dalam politik praktis di Pemilukda DKI Jakarta, atau setidaknya menjadi sasaran empuk rekan-rekan mahasiswa diluar sana yang menertawai cekikikan.

Harus saya akui, rasa kecewa manusia pasti ada. Itu wajar. Sama halnya dengan kekecewaanmu menunggu si dia yang tak kunjung datang, atau keberharapan pada manusia yang terkadang membuatmu sakit. Tapi, yakinilah kawan, kau harus mempercayai dirimu sendiri beserta akal sehatnya. Saat kau marah karena Ibumu dianggap pelacur, dan kau tahu Ibumu bukan demikian, lantas apa yang bisa kau lakukan? Membela bukan? Saat kau tahu harga cabai mahal dan kau diminta untuk menanam pohon cabai supaya tidak terkena dampak kenaikan harganya, lantas apakah kamu mendiamkannya? Ketika kau sulit sebagai mahasiswa, kuliah tak dibiayai orang tua, dan kini biaya listrik kosanmu meningkat padahal dikamar hanya ada satu setrika dan satu kipas angin, apakah kamu rela begitu saja? Saat kampusmu digeruduk oleh orang-orang bersorban dan melantangkan takbir untuk hal yang kau anggap gila karena membubarkan diskusi dalam kaidah akademik, apakah kamu menyerahkannya begitu saja?

Barangkali di era makan gorengan tanpa cabai ini kita harus lebih kritis dan taktis. Memastikan kebaikan harus terlibat. Tak perlu kecewa lama-lama dan berkawanlah dengan siapapun. Kalau tidak bisa berkawan secara ideologi maka berkawanlah secara kompetisi. Bukankah teman terbaik adalah saat mampu mengelola perbedaan?

Selama beberapa hari belakangan saya berpikir lebih keras. Dengan bertanya dan meminta nasihat, tentu keputusan yang saya hadirkan bukanlah milik pribadi. Ini milik bersama, rangkuman gagasan yang berasal dari sumbangsih bersama, sehingga saya sama sekali tidak sendiri. Keputusan saya bulat, tekad saya kuat, sebagai Presiden Mahasiswa UGM saya menyatakan siap terlibat dalam aksi ini. Terlepas dari hastag yang menurut saya seperti gagal move on dari ’98, saya pikir keterlibatan saya yang bisa diterima akal sehat adalah dengan memastikan bahwa kolaborasi kebaikan hanya dapat tercipta ketika kita saling bersama. Kalau pun mereka yang dianggap selama ini salah dan didiamkan salah dalam bergerak, maka tugas kita adalah memberitahunya bahwa ini salah.

Seluruh aliansi mahasiswa yang saya kenal, yang selama ini seolah dipisah oleh sekte dan manhaj kini mulai membangun titik temu. BEM Nusantara mengapresiasi apa yang dilakukan BEM SI, pun dengan BEM Se-Tanah Air yang menyerukan aliansinya hadir dalam aksi ini. Saya pikir, era sebagaimana yang saya cita-citakan: membangun titik temu dan berkolaborasi dalam kebaikan akan segara tercipta. Dan inilah letak tanggung jawab kita.

Kalau mau beri masukan silakan, jangan ngerumpi dibelakang. Kamu sudah tidak bisa menggerakkan, mengomentarinya, kemudian juga menganggapnya bahan lawakan. Kamu itu masih merasa paling bisa, paling mulia? Kalau kau merasa bisa, lakukan yang kamu bisa untuk membuat semua ini lebih baik. Kita berlomba-lomba dalam membuat republik ini lebih baik dan bermartabat.
Apapun itu, jika pikir saya ini dianggap sesat tak apalah. Karena itu Tuhan saya mewajibkan saya untuk selalu membaca “Tunjukkanlah aku jalan yang lurus’ setiap kali saya shalat. Tujuh belas kali sehari semalam.” Dan barangkali inilah jalan lurus itu.

Dengan ini pula, saya meminta nurani teman-teman. Bagi siapa pun yang membaca tulisan ini untuk hadir dan terlibat dalam kompetensinya masing-masing. Apabila sedang berada disekitar Jakarta, kalau ada waktu, silakan mampir pada tanggal 12 Januari nanti. Jika berada di Jogja, silakan bergabung dengan rekan-rekan aliansi di DIY. Bagi teman-teman yang berhalangan untuk ikut terlibat langsung, mari bantu dengan menyebarkan atau membuat opini keresahan serupa.

Saya tak memaksa saudara untuk beraksi di jalanan. Saya hanya meminta nurani Anda terpanggil. Ikut turun bersama saya, atau berdiri dibelakang dan mendoakan saya selamat sentausa.
Salam Kebaikan

Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia
Presiden Mahasiswa Universitas Gadjah Mada tahun 2017

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *