Memimpin Perguruan Profetik
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Memimpin Perguruan Profetik

memimpin perguruan profetik

Katakanlah, UGM dan Indonesia saat ini menghadapi tantangan yang luar biasa. Menurut para petinggi kampus, daya saing mahasiswa harus diasah sedemikian rupa sebagai bekal menghadapi masa depan. Bersamaan dengan itu terdapat satu krisis yang berkait-kelindan antara mengenal jati diri bangsa dan modal sosial budaya kolektif.

Coba bayangkan, negeri yang dihuni ratusan juta insan harus menyerah pada kehinaan dan pasrah oleh keputusasaan. Persoalannya saya pertegas, kita gagal membangun titik temu. Tengoklah diri dan sekitar. Kini orang bisa dengan mudahnya mencaci-maki, memukul, menyerang hingga membunuh karena perbedaan selera. Tidak ada jalan lain, upaya membangun titik temu harus dilakukan.

Tentu saja membangun titik temu dalam masyarakat heterogen memiliki tantangan yang sulit. Namun, kita perlu belajar dari pokok gagasan mendiang Nasikun, Guru Besar Sosiologi UGM, tentang cross-cutting affiliation. Sederhananya menurut Nasikun, perbedaan adalah keniscayaan, tugas kita adalah membangun titik temu.

Hal ini mudah dipahami. Sebutlah diri kita ini memiliki beberapa identitas. Saya Alfath mahasiswa Fisipol, asal Jakarta, hobi ping-pong, di seberang sana ada mahasiswa lain dari Fakultas Teknik bernama Retas, asal Wonosobo, hobi futsal. Tentu kami berdua sekilas berbeda selera. Namun coba pahami, bahwa identitas yang berbeda dan melekat pada pribadi kami ini dapat dirajutkan simpulnya. Ya, saya dan Retas sama-sama mahasiswa UGM, warga negara Indonesia dan gemar olahraga. Di situlah titik temunya, simpulnya.

Kemampuan dan kemauan untuk membangun titik temu inilah yang sulit ditemui belakangan di Indonesia. Daya saing penting ketika kita berbicara kompetensi bangsa, tapi sebelum itu, kita harus sudah selesai dengan urusan dasar. Lihatlah masyarakat kita, semua angkat bicara, sedikit yang mendengar; banyak mengedepankan emosi, sumbu amarah pendek, suka mengeluh-mengutuk, saling tuding, dan beragam kengerian lainnya. Tak heran konflik horizontal banyak terjadi. Ketakutan demi ketakutan terus direproduksi. Kalau begini, kita butuh sosok pemimpin yang mampu mendamaikan, serta menentramkannya.

Pemimpin masyarakat bukan berasal dari mereka yang ujug-ujug hadir. Dia dipersiapkan sejak jauh-jauh hari. Kesehariannya ditempa oleh sejumlah persoalan hidup. Dia ditantang untuk menjawab persoalan itu dengan cara-cara kreatif dan elegan, yang melibatkan hati dan perasaan berdasarkan pengalaman dan kenyataan di lapangan. Bahkan lamunannya ialah semata hendak memikirkan orang lain. Apabila dihadapkan oleh persoalan, dipersiapkannya kuda-kuda supaya tetap terjaga. Dan tentu saja, pemimpin yang dinanti tak boleh biasa, apalagi orang sisa. Dia harus canggih menjawab tantangan bangsa. Mempersatukan bangsa dalam kebhinekaannya.

Saya punya bicara ini tentu bertujuan, bukan tanpa alasan. Seleksi dan pemilihan rektor yang tengah diselenggarakan ini mengundang tanya, sebenarnya rektor macam apa yang hendak memimpin UGM ke depan? Kita tentu berharap yang terbaik untuk UGM dan bangsa. Saya sebagai bagian masyarakat kampus pun punya harapan, dan barangkali dapatlah juga diinstitusionalisasikan sebagai harapan BEM KM UGM.

Beberapa waktu lalu saat saya tengah membuka kembali buku dan dokumen yang menjelaskan sejarah panjang UGM. Tepat 72 tahun lalu saat UGM mendeklarasikan dirinya sebagai perguruan tinggi yang lahir dari rahim ibu kandung keperihan bangsa. Ketika itu kondisi bangsa sangat sulit. Namun demikian, UGM justru hadir sebagai upaya bangsa Indonesia keluar dari kebodohan sembari menunjukkan eksistensinya dan identitas Pancasila kepada dunia.

Memang benar, sejarah berguna sekali. Dari mempelajari sejarah, saya bisa menemukan kembali identitas sesungguhnya yang kini sudah banyak tertutupi debu. Bahwa bangsa Indonesia dan juga UGM lahir atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Hal ini dapat ditelusuri melalui dokumen pembukaan UUD 1945, sila pertama dari Pancasila, dan juga setiap arsip dokumen UGM yang dapat dengan mudah rekan-rekan temui di museum UGM atau perpustakaan UGM lantai tiga. Sederhananya, UGM sebagai perguruan tinggi lahir membawa semangat “spiritualitas yang emansipatoris”.

Apa itu semangat “spiritualitas yang emansipatoris”? Ia adalah suatu semangat yang mendasarkan dirinya pada religiusitas; Ketuhanan Yang Maha Esa dan atas kuasa Tuhan melalui akal dan pikirnya mampu melaksanakan proses emansipasi berlandaskan ilmu yang amaliah serta amal ilmiah. Hal ini dapat disaksikan ketika mahasiswa UGM harus bekerja keras dalam belajar, disertai kehendak untuk membela bangsa saat agresi militer Belanda di Yogyakarta. Kemudian, pengerahan tenaga mahasiswa atau yang kita kenal hari ini sebagai Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai kewajiban UGM untuk berbakti pada negeri. Mahasiswa UGM tidak bertanya “saya akan mendapat apa setelah seluruh usaha ini dilakukan?”, sebab mereka seharusnya hanya berpikir dan berorientasi kepada “apa guna ilmu bagi kemajuan bangsa?”.

Semangat ini tak boleh redup. Maka, boleh jadi, saya sebagai mahasiswa hanya ingin terus mengupayakannya supaya semangat ini tetap menyala-nyala. Bagaimana cara menjaganya agar tetap menyala-nyala? Bagi saya semangat ini harus dan tetap terjaga dengan kita memahami sejarah dan turut melaksanakannya.

Semangat ini bila ditelusuri lebih lanjut adalah hasil analisa pribadi atas konsepsi besar “Ilmu Sosial Profetik” (ISP) milik Kuntowidjoyo, Guru Besar FIB UGM. Dalam konsepsinya, Kuntowidjoyo menjelaskan tiga misi yang hendak dicapai oleh ilmu sosial, yakni humanisasi, liberasi dan transendensi.

Dalam ISP, humanisasi berarti memanusiakan manusia, menghilangkan “kebendaan”, ketergantungan, kekerasan dan kebencian dari manusia. Kuntowijoyo mengusung humanisme teosentris sebagai pengganti humanisme antroposentris untuk mengangkat kembali martabat manusia. Dengan ini, manusia harus memusatkan dirinya pada Tuhan, tapi tujuannya adalah untuk kepentingan kemanusiaan. Perkembangan peradaban manusia tidak lagi diukur dengan rasionalitas, tapi transendensi. Humanisasi dibutuhkan karena masyarakat kita tengah mengalami proses dehumanisasi, agresivitas dan individualistik.

Kemudian, nilai-nilai liberatif dalam ISP ditempatkan pada konteks ilmu sosial yang bertanggungjawab membebaskan manusia dari kemiskinan, pemerasan kelimpahan, dominasi struktur yang menindas dan hegemoni kesadaran palsu. Lebih jauh, ISP mendasarkan semangat liberatifnya pada nilai-nilai profetik transendental dari agama yang telah ditransformasikan menjadi ilmu yang objektif-faktual.

Terakhir, adalah transendensi yang menjadi dasar dua unsur lainnya. Transendensi hendak menjadikan nilai-nilai transendental berupa keimanan sebagai bagian penting dari proses membangun peradaban. Transendensi menempatkan agama pada kedudukan yang sangat sentral dalam ISP. Di sini, wahyu menjadi sumber utama dalam proses pencarian ilmu. Wahyu ini kemudian menjadi etos atau model. Dengan memasukkan unsur wahyu dalam paradigma profetik memungkinkan seseorang melakukan lompatan besar dalam keilmuan, yaitu menjadi seorang ilmuwan yang religius. Kita mampu melakukan transformasi individual dan sosial yang diwujudkan dalam sila kedua dari Pancasila, kemanusiaan yang adil dan beradab.

Inilah nalar yang perlu dibangun dalam membangun sebuah kajian baru ilmu sosial keindonesiaan. Hemat saya, ilmu sosial profetik, meminjam istilah Habermas, adalah paradigma kritis atau emancipatory knowledge (Fakih, 2011: 61-62). Ilmu sosial harus dipahami sebagai proses katalisasi untuk membebaskan manusia dari segenap ketidakadilan. Paradigma ini menganjurkan bahwa ilmu pengetahuan terutama ilmu sosial tidak mungkin bersifat netral. Sehingga ilmu itu memihak, ilmu itu memperjuangkan. Paradigma ini memperjuangkan pendekatan yang holistik dengan menyertakan bukan sekadar teori di atas teks, melainkan pemihakan dan upaya emansipasi masyarakat dalam pengalaman hidupnya sehari-hari.

Sebab, UGM adalah perguruan yang hendak merawat keindonesiaan, maka tak salah apabila UGM menyandang gelar sebagai “perguruan profetik”. Perguruan profetik ialah perguruan yang membebaskan diri dari cengkraman gurita problematik bangsa dan menjadi pemecah kebuntuannya dengan benteng spiritual yang kokoh. Perguruan profetik hadir sebagai solusi atas masalah pelik negara-bangsa. Wadah ini tidak cukup membuat dirinya sendiri megah dengan alat kelengkapan akademik yang canggih, tapi ia memiliki andil solutif atas hidup matinya suatu negara. Ia menerobos benang kusut, mendobrak pintu yang lama tak terbuka, dan menghidupkan lilin-lilin harapan di tengah kegelapan. Ia nyala sang fajar sebagai lambang kepedulian yang berisi epos kepahlawanan yang militan dari mahasiswanya untuk menggelar kesejahteraan umum berlandaskan ilmu amaliah serta amal ilmiah yang khidmat dan bertanggungjawab.

UGM sebagai perguruan profetik yang berdiri tidak hanya untuk mencerdaskan bangsa, tapi juga untuk tiga tujuan negara lain yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945: melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum dan melaksanakan ketertiban dunia. Empat to-do-list UGM ini berbanding lurus dengan pernyataan Soekarno ketika meresmikan Balairung Gedung Pusat pada 19 Desember 1959. Tugas UGM antara lain pertama, ikut membangun RI sebagai wilayah kesatuan dari Sabang sampai Merauke. Kedua, mengisi NKRI dengan suatu masyarakat yang adil dan makmur. Ketiga, ikut membangun dunia baru dan menempatkan Indonesia dalam dunia baru yang berdasarkan persaudaraan dari bangsa-bangsa.

Hal ini sejalan dengan apa yang tertera dalam PP No. 67 Tahun 2013 tentang Statuta UGM dapat diketahui bahwa pasal 2 ayat (1) berbunyi, “UGM mempunyai visi sebagai pelopor perguruan tinggi nasional berkelas dunia yang unggul dan inovatif, mengabdi kepada kepentingan bangsa dan kemanusiaan dijiwai nilai-nilai budaya bangsa berdasarkan Pancasila. (2) UGM mempunyai misi melaksanakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat serta pelestarian dan pengembangan ilmu yang unggul dan bermanfaat bagi masyarakat. Sedangkan Pasal (3) Penyelenggaraan UGM berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta kebudayaan indonesia yang diwujudkan dalam dasar kerohanian, dasar nasional, dasar demokrasi, dasar kemasyarakatan, dan dasar kekeluargaan.”

Berkaitan dengan nilai profetik, hal tersebut mewujud dalam dasar kerohanian yang menjadi pilar utama penyelenggaraan UGM. Sehingga, nilai-nilai spiritualitas ini tidak dapat dipisahkan dalam pengajaran di kelas-kelas, pembicaraan di ruang publik dan peribadatannya. Sebab, nilai rohani terpancar di manapun dan kapan pun. Bahkan perguruan tinggi bernama UGM lah yang sudah seharusnya menjadi inisiator penabur benih-benih kebajikan dari tiap-tiap individu yang berbeda agama.

Karenanya setiap agama selalu memiliki tokoh teladannya masing-masing, dan teladannya itu selalu saja mengajarkan kebaikan. Maka dengan ini sila pertama yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa” menjadi spirit dalam keberagamaan kita. Nilai ketuhanan menjadi basis fondasi atas sila-sila lainnya.

Belakangan ini saya sungguh khawatir, sebab Pancasila tereduksi. Pancasila seolah bicara sebatas pada urusan kebinekaan, toleransi, dan menafikan peran ketuhanan yang sarat akan sifat keagamaan.

Saya menjadi ingat pesan Pak Karno dalam “Kursus Presiden Soekarno tentang Pancasila di Istana Negara” tanggal 16 Juni 1958 yang tertuang dalam bukunya, “Bung Karno dan Pancasila: Menuju Revolusi Nasional” (2002, hlm. 107):

“…Kalau kita mengecualikan elemen agama ini, kita membuang salah satu elemen yang bisa mempersatukan batin bangsa Indonesia dengan cara yang semesra-mesranya. Kalau kita tidak memasukkan sila ini, kita kehilangan salah satu Leitsar yang utama, sebab kepercayaan kita kepada Tuhan ini bahkan itulah yang menjadi Leitsar kita yang utama, untuk menjadi satu bangsa yang mengejar kebajikan, satu bangsa mengejar kebaikan.”

Lalu siapa yang selanjutnya layak memimpin perguruan profetik?

Pemimpin perguruan profetik yang dibutuhkan UGM adalah sosok yang mampu mencerminkan nilai-nilai kebajikan, memancarkan keteladanan sejati dan kepemimpinannya mampu mengilhami orang lain untuk terus berada dalam jalur yang tepat dengan memiliki benteng keimanan yang kokoh. Memiliki keberpihakan ilmu dan memperjuangkan yang lemah. Semua ini agar gerak-langkah yang dilakukan senantiasa berada dalam lindungan-Nya.

Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia

Presiden BEM KM UGM 2017

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *