Mendadak
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Mendadak

jadi baik

Jujur saja, saya ingin menuangkan banyak kisah saya yang sayang sekali untuk dilewatkan. Pengen pake banget, dan lagi-lagi waktunya sulit bertemu entah karena sebab: mendadak.

Dipikiran saya ini telah bertumpuk banyak hal. Tidak tahu kemana lagi harus membuangnya. Lewat cerita ke beberapa teman sudah, ke ortu sudah, ke pembina sudah, tapi rasanya masih banyak sisanya karena ketika ingin menulis tiba-tiba “mendadak” ada hal lain yang mesti segera dibereskan. Baiklah, ini saya anggap sebagai cobaan.

Saya punya pemahaman, “kalau menulis adalah keseharian”. Bayangkan, dunia kita saat ini mengharuskan kita menulis meski sebatas sms, nge-WA/Line, e-mail, dst. Berkabar adalah tujuan utamanya. Kalaupun ada tujuan lain, ya itu saya kembalikan kepada masing-masing. Hehehehe…

Namun, menulis pengalaman atas pengamalan menjadi tragis manakala tidak dituliskan. Di sini sebenarnya ada dilema yang harus dipikirkan. Menceritakan pengalaman atas pengamalan yang bisa jadi dianggap riya atau Berdiam dan bertumpuk diotak dan jauh dari anggapan riya; atau malah kita bisa mendudukkan keduanya agar tidak kehilangan pengalaman atas pengamalan namun juga tidak riya.

Akibat “mendadak” inilah saya belajar untuk kemudian bisa memosisikan keduanya. Karena mendadak, saya tidak selamanya bisa membuka laptop dan menuliskan kisah saya setiap harinya. Nah, untuk tidak menghilangkan jejak, biasanya saya berbicara kepada Mama, Mas Adi, atau pun temen-temen. Dari sinilah biasanya mereka yang memblow-up apa-apa saja yang saya utarakan. Saya cuma bercerita tentang apa yang saya lakukan dan pikirkan. Tidak kurang dan tidak lebih.

Akibat “mendadak” juga saya kini menjadi orang yang lebih dinamis. Saya harus bisa menempatkan diri saya diberbagai kegiatan dalam seharian dan terkadang waktu yang bersamaan. Memang, untuk bisa hadir secara keseluruhan (ide, fisik dan waktu) tidak dimungkinkan 100%. Tapi, saya berusaha untuk hadir 100% dalam setiap ide dan gagasan. Nah, inilah yang saya maksud tanpa harus hadir secara fisik. Sebab, jujur saja, hidup saya bukan hanya Kos-Kampus seperti teman-teman kebanyakan.

Akibat “mendadak”, saya belajar menghadapi banyak tantangan “kemanusiaan”. Dari menghadapi tuntutan akademik yang tidak manusiawi (apadeh, wkwk) sampai dengan orang-orang yang nyinyir. Padahal, saya disinipun tidak diam, masih bergerak dan takkan tergantikan. Sebab, dalam segala hal, ada rule of the game yang dijalankan. Karena, sebelum saya masuk ke dalam arena, saya harus sudah tahu agar komitmen terhadap aturan yang berlaku. Selama itu tidak dilanggar, maka semua baik-baik saja, kecuali itu ada orang-orang diluar yang mau melanggarnya, silakan. Kemanusiaan itu adalah menempatkan manusia sebagai manusia. Ketika anda berada diluar sana meneriakkan kemanusiaan namun sesungguhnya anda tidak memanusiaan orang lain karena alasan kebencian misalnya, maka saya sungguh malu dan enggan berteman dengan hipokrit.

Akibat “mendadak”, saya harus bisa multi-task, menghadapi derasnya tuntutan. Tapi kita sadar, selalu ada jalan dan cara untuk menyiasati kesulitan. Bahwa setelah keselitan pasti ada kemudahan.

Akibat “mendadak”, saya menjadi lebih pandai dalam mengelola kehidupan, khususnya time management dan diplomacy. Keuntungan juga didapat manakala tekanan-tekanan yang ada bisa kita sulap menjadi kebahagiaan buat kita dan juga orang banyak.

Yah, intinya soal “mendadak”. Tapi, sebenernya, saya selalu berusaha mencari hikmah dari setiap kejadian yang sudah digariskan Allah untuk saya hadapi. Saya selalu meminta kepada Allah untuk dikuatkan pribadi saya, bukan dilemahkan yang sarat akan deliberatif terhadap sesuatu. Muslim yang kuat lebih dicintai oleh Allah bukan?

Maka dari itu, saya harus kuat. Urusan yang saya temui saat ini tidak ada seujung kuku dibandingkan dengan tantangan ke depan semisal mengendalikan bangsa dan negara.

Yuk, jadi pembelajar dan pencari hikmah. Saya percaya, setiap dari kita pada dasarnya adalah orang baik. Ini soal lingkungan saja. Maka, bertemanlah dengan orang baik.

#Semangatmengubahdiri

Bogor, 19 Mei 2016

20: 12 WIB

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *