Mengingat Kemanusiaan
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Mengingat Kemanusiaan

mengingat kemanusiaan

Oleh Kajian Strategis Dema Fisipol UGM

Memori sejarah seringkali tak terbentang sebagaimana rentang waktu panjang yang telah berlalu. Penguasa acapkali memenggalnya sesuai dengan kebutuhan politik. Momen-momen penuh isak tangis dari mereka yang menjadi korban pelanggaran HAM telah banyak terabaikan. Hanya demi eksistensi, kepentingan, dan kenyamanan hidup sekelompok atau segelintir orang tertentu saja. Negeri ini seolah begitu baik, padahal disisi lain sedang menabung keji.

Akankah kita diam dan mendiamkan? Akankah kita termenung dan meratapi kepedihan ini? Sudah banyak yang menjadi korban. Akankah kalian menunggu sampai detik dimana orang yang begitu anda sayangi tiada?

Maka, sudah sepatutnya kepada mereka yang masih hidup dapat bersimpati tuk sekedar mengingatkan, bahwa panggilan kemanusiaan sudah selayaknya disuarakan dengan lantang.

Mengingat Saja

Mengingat adalah tindakan masa kini tentang masa lalu, dan bukan tindakan masa lalu (Dhakidae, 2011). Jujur saja, ingatan kita terhadap para korban pelanggaran HAM adalah sebuah tindakan. Namun, tindakan ini semakin melemah seiring berjalannya waktu. Para penjahat kemanusiaan seolah merasa dirinya terbebas dari ‘dosa besar’ masa lalu lantaran adanya impunitas.

Memang, masa lalu tetap masa lalu, namun bukan berarti soal kemanusiaan bisa dikesampingkan. Andai anda tetap membiarkan ini terjadi; jangan harap dunia ini terbebas dari siksa kaum penguasa.

Selasa siang nanti, kami, Dema Fisipol mengajak sobat Dema seluruhnya untuk sama-sama bersimpati, turut merasakan kepedihan yang mendalam atas hilangnya nyawa manusia di bumi Indonesia akibat tindakan keji penguasa dimasa lalu melalui sebuah aksi.

Kami akan melakukan aksi ‘tiduran di SanSiro’ selama satu jam, antara jam 12.00-13.00 wib. Meski panas, namun tak mengapa. Aksi ini kami dedikasikan kepada mereka yang buta terhadap sejarah bangsanya; yang kabur akan narasi kebangsaannya; dan mereka yang ternafikan keberadaannya karena kepentingan penguasa.

Tapi, mengapa harus kami yang mulai melakukannya di UGM? Sebagai manusia intelektual, kami benar-benar merasa bahwa ini merupakan panggilan sejarah yang sifatnya sangat penting; sebab adanya kasus yang tak kunjung selesai ini memerlukan adanya penyadaran massa. Gie memperkuat argumen kami dengan mengatakan bahwa tugas intelektual salah satunya adalah mendorong elemen-elemen dalam segala lapisan untuk bergerak dan berontak terhadap situasi yang merugikan.

Hilmar Farid memang pernah mengatakan kepada kita bahwa tidak semua manusia ingin memenuhi “panggilan sejarah”. Keterlibatan dalam politik atau perjuangan bukan karena ada kualitas tertentu, tapi karena situasi tertentu yang inheren dalam setiap diri manusia.

Maka dari itu, kami hadir untuk mencipta situasi tersebut agar persoalan kemanusiaan ini menjadi persoalan yang inheren dalam diri setiap mahasiswa UGM. Agak sulit, namun tidak ada salahnya untuk mencoba, meski secara perlahan.

Kita, mahasiswa sosial-politik, bisa jadi ‘mati’ nalar dan ke-kritisannya lantaran mahasiswa sosial-politik seluruhnya mulai acuh dengan isu sosial-politik yang ada. Kita, mahasiswa sosial-politik, bisa jadi ‘mati’ hasrat membela kemanusiaan karena negara ini masih tidak menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. Tentu, kritik ini tercipta untuk kami pribadi dan juga semua penghuni bumi ini.

Bila suara-suara di era Orba terasa seperti berbisik-bisik. Maka, kini, di era Reformasi, kita dihadapkan pada panggung yang tak pernah sepi.

Ingat, reformasi adalah ruang baru yang memungkinkan semua pihak bereksperimen (Paramaditha, 2011). Kita, sebagai intelektual perlu memetakan kembali posisi ketika berhadapan dengan negara. Jujur, sekali lagi, ini bukan hal mudah terutama ketika negara bertindak sebagai aktor dengan beragam eksperimen yang sewaktu-waktu mengejutkan kita. Belum lagi tentangan dilevel kampus.

Namun, kami sebetulnya banyak tersadar dengan suara lantang Tan Malaka. Ia pernah berujar, “kawan, kawan… di tanganmu tergenggam kemerdekaan Indonesia, keselamatan, kepandaian, dan peradaban… Kamu kaum revolusioner!!”

Andai itu kamu, maka tunjukkan. Tapi, bila bukan; kami khawatir, suatu hari nanti, kita semua takkan mampu lagi bisa melihat bangsa manusia hidup saling mengasihi; saling peduli; saling tolong-menolong; dan saling mencintai sesama. Andai saja itu terjadi, maka tamatlah kita sebagai manusia!

Terakhir, kami tunggu simpati anda di SanSiro nanti.

 

Bulaksumur, 18 Mei 2015

Seruan Kemanusiaan

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *