Menjadi Aktivis
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Menjadi Aktivis

selamat datang baktinusa 6 yk

Menjadi aktivis pergerakan mahasiswa?

Sebelumnya saya tidak pernah kepikiran. Andai kamu tahu, cita-cita semasa kecil saya sedernaha: menjadi tukang pos. Kenapa tukang pos? Saya ingin membantu banyak orang dalam berbagi kabar. Dengan jaket oranye, berkendara sepeda motor, menegur dengan penuh keramah-tamahan, serta membawa kabar atau sesuatu yang begitu dinanti.

Tapi, sebagaimana hidup terus berkembang, cita-cita pun menjadi tak sederhana dan beranjak ke arah yang lebih kompleks. Sempat beberapa waktu ingin menjadi da’i karena bisa menyampaikan agama Islam secara leluasa dengan coba-coba ikut seleksi Pildacil 2. Namun, sayang sekali, bukan rezeki saya di sana. Tapi, senang banget pernah beberapa kali ngisi acara pengajian, isra mi’raj, dan seterusnya di usia yang masih belia. Prinsip saya satu: sampaikan apapun yang saya tahu. Urusan benar atau salah, masih bisa didiskusikan. Hehehe… Sehingga, untuk dunia per-ngisian acara sudah menjadi tidak asing lah.

Kemudian, berubah lagi keinginan dan hasrat bercita-cita. Saya ingin menjadi guru agar bisa menolong orang-orang terbebas dari kebodohan. Hal ini tak lain karena Ibu dan Bapak adalah guru. Dan sehabis itu, mungkin yang sampai hari ini saya pegang, saya bercita menjadi Presiden. Satu cita-cita besar bukan? mengurusi hajat hidup orang banyak, apalagi Indonesia gitu loh. Bangsa yang seharusnya berperikemanusiaan dan beradab, namun kenyataan tidak demikian: sulit diatur, keras kepala, menegakkan budaya kekerasan. Inilah beberapa permasalahan yang saya dan kita semua hadapi.

Kini, saya sudah kuliah. Tentunya, bangku perkuliahan ini adalah jenjang yang kemudian dirasa telah mengubah banyak hal dalam hidup saya, terutama dalam memandang persoalan kehidupan berbangsa dan bernegara. Bukan karena saya menggeluti politik dan pemerintahan, tetapi lebih jauh bahwa ada suatu permasalahan yang kompleks, yang saya kira kita semua sama-sama merasakannya. Hanya saja, kita semua terlalu naif untuk mengakuinya dan memilih untuk sibuk dengan urusan pribadi.

Jalan yang saya pilih dalam hal ini adalah menjadi aktivis pergerakan mahasiswa dengan mengikuti BEM KM, DEMA FISIPOL, KOMAP, YOT Yogyakarta, KAMMI UGM, dan GERAK JOGJA, serta Menjadi Duta Buku/Perpustakaan. Saya rasa, aktivisme yang saya geluti disini punya nilai kebermanfaatan yang luas. Diawal tahun berkuliah, saya langsung bergabung di BEM KM, DEMA FISIPOL dan KOMAP dalam bidang yang sama: Kajian Strategis. Saya kira, ketertarikan ini dilandasi bahwa persoalan-persoalan genting akan banyak dibahas di forum tersebut. Namanya juga strategis, artinya posisinya begitu penting dan diperlukan utamanya soal pengkajian. Pemikiran, pemahaman, pemberian solusi dalam bentuk sikap menjadi demikian penting.

Kemudian, ikut serta di YOT Yogyakarta dan langsung memegang peranan penting dibidang Catalyst yang mengurusi urusan pendidikan. Kami buka kelas-kelas inspirasi dengan mengundang berbagai tokoh. Memberikan pengajaran kepada siswa-siswi di Kentungan dan beragam hal kami bahas terkait kepemudaan. Di KAMMI, kami ingin menunjukkan bahwa persoalan itu tidak berhenti pada kajian saja. Mesti ada aksi. Di sini, KAMMI menjadi wadah saya untuk menyuarakan pendapat di muka umum, terlebih perspektif dan landasan berpikir kita adalah sebagai muslim negarawan. Satu bentuk landasan berpikir yang mantap. Juga sama halnya di GERAK JOGJA di mana saya diamanahi sebagai koordinatornya. Saya dan teman-teman juga berusaha untuk menghadapi persoalan bangsa yang kompleks dibidang pemberantasan korupsi dengan mendidik anak-anak untuk membiasakan hidup jujur.

Sebenarnya, ada banyak sekali bidang yang kemudian dilakukan oleh teman-teman saya. Saya tidak perlu menyebutkan kegiatannya apa saja. Namun, yang terpenting adalah, kenyataannya, kita semua nyatanya adalah seorang aktivis. Dalam bahasa pribadi saya, menjadi seorang aktivis pergerakan bukan hanya mereka yang ada di BEM dan semacamnya. Tetapi, lebih jauh adalah mereka yang merelakan dirinya untuk melakukan kegiatan demi tercapainya kepentingan ummat. Kegiatan yang dilakukannya bukan untuk diri sendiri. Ada nilai yang mampu menggerakkan. Inilah yang menjadi demikian penting dan mesti kita refleksikan.

Sekitar dua minggu lalu, saya mendapat kabar bahwa saya diterima sebagai salah satu penerima manfaat Beasiswa Aktivis Nusantara (Baktinusa). Saya kira ini harus disikapi dengan pernyataan Barokallah wa innalillah. Disatu sisi saya berbahagia karena setidaknya, ke depan, aktivisme saya dalam menjadi aktivis dapat ditunjang oleh beasiswa ini. Namun, saya meyakini akan ada amanah baru yang hendak saya emban ke depan, entah dalam bentuk apapun itu. Menerima ini sama halnya dengan bertaruh akan masa depan bangsa. Ini juga berkaitan tentang bagaimana kita mempertanggungjawabkan apa-apa saja yang kita dapatkan dari ummat kepada ummat.

Saya menuliskan ini bertujuan agar kelak saya takkan bisa melupakan bagaiman hidup saya dipenuhi dana ummat. Maka sedari dini, bahkan ke depan, jika diminta untuk mengurusi urusan umat, maka dengan senang hati saya merelekan diri. Saya ini terlampau banyak dibantu ummat dan sudah selayaknya saya kembali padanya.

Dari semua ini, saya hanya ingin, apa-apa saja yang saya lakukan bisa memberikan manfaat kepada sekitar. Saya yakin, teman-teman saya semua sedang bergerak dalam kebaikan dan sedikit demi sedikit memulai rangkaian mimpinya. Semoga kelak, kita dipertemukan dalam keadaan yang jauh-jauh-jauh lebih baik. Untuk Indonesia yang lebih baik dan bermartabat kan?

Bismillah :)

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *