Mohon Ampun
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Mohon Ampun

Melihat Awan

Ini musim apa? Saya merasa ada sesuatu yang sulit dipahami ketika melihat musim kini. Dahulu, ketika saja SD, dengan mudahnya saya bisa menebak bahwa musim hujan akan terjadi setiap bulan September-Februari, sedangkan kemarau akan terjadi pada Maret-Agustus. Kini saya bingung karena musim tak menentu.

Barangkali sama seperti musim, hati saya pun sedang tidak menentu. Dalam banyak kesempatan, saya sedang sibuk menggarap beberapa proyek buku yang tak kunjung selesai, nge-Dema, mendirikan semacam institusi yang manfaat, membina adik-adik, memperluas pengetahuan, membangun jaringan, melaksanakan amanah akademik, berbakti pada Allah SWT dan orang tua, juga terkadang sesekali saya kepikiran tentang jodoh.

Di saat bersamaan, ketika kecintaan saya pada kesibukan yang saya laksanakan berada pada titik tertinggi tiba-tiba ada sandungan atau cobaan. Sedikit memang. Dipikirin “tidak juga”, dibiarin juga “nggak”. Namanya manusia, ada yang suka dan tidak suka itu biasa. Jangankan kita, Rasulullah yang manusia sempurna saja dibilang gila. Lalu, siapa saya minta semua orang suka?

Saya jadi ingat perkataan Ali bin Abi Thalib untuk tidak “menjelaskan tentang diri kepada siapapun. Karena yang menyukaimu tidak butuh itu, dan yang membencimu tidak percaya itu.

Nah, lalu pertanyaannya, adakah orang yang benci saya? Banyakkah orang yang suka saya? Saya tidak tahu. Saya pun tidak banyak mempersoalkannya. Saya hanya menampilkan diri saya seapa-adanya. Kalau ada salah kata dan perbuatan, saya mohon maaf. Makanya, saya butuh kalian sebagai pengingat. Tolong, ingatkan ketika saya berbuat salah dengan saran-saran yang konstruktif. Bukan malah berbicara menyudutkan dibelakang. Saya tidak dengar dan mengetahui akan hal itu.

Nanti kalau kamu mau pergi ke tempat yang antah berantah, dan tidak ada seorang pun yang bersamamu, Allah pasti bilang kepadamu, “bahwa Alfath menyayangi kalian, sungguh.”

Semua ini tetap sama; seperti ‘idealisme kami’ yang sampai hari ini saya pegang teguh, “sungguh betapa inginnya kami agar bangsa ini mengetahui, bahwa mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri.”

Tuhkan. Sekali lagi saya mohon maaf atas segala salah dan khilaf. Hanya kepada Allah saya mohon ampun.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *