Negeri Tongkol
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Negeri Tongkol

567846-meme-ikan-tongkol

Untuk Negeri tercinta, mari tundukkan hati-hati kita, kita bermunajat untuk segala kebaikan hadir di Negeri ini.

*

Kau tahu tongkol? Ikan berukuran sedang; umumnya sekitar 60 cm. Punggung berwarna biru gelap metalik, dengan pola coret-coret miring yang rumit. Gigi-gigi kecil dan mengerucut. Ikan ini bersifat epipelagis dan neritik, menjelajahi perairan-perairan terbuka bersuhu 18°-29 °C dan senangnya menggerombol.

Tongkol tidak memilih-milih mangsa. Ikan jenis ini diperniagakan dalam bentuk ikan segar, ikan beku, dan dikalengkan. Juga dalam rupa-rupa ikan olahan: dikeringkan, diasinkan, diasap, atau dipindang. Dagingnya berkualitas baik bila segar, namun dengan cepat akan membusuk bila tidak ditangani dengan baik.

*

Sungguh malang negeri ini. Hari-harinya dirundung duka. Kemiskinan, keperihan, dan kemelaratan merajalela.

Lebih tak kuasa menahan air mata ketika kita melihat kebodohan terus-menerus terjadi. Mudah disetir, di adu domba, dan dikibuli oleh penguasa zalim.

Yang menjadi kekhawatiran kita bersama adalah sekelompok yang mendaku dirinya mahasiswa, tapi akal budi luhur tiada. Martabat kemahasiswaannya tergadai oleh kepentingan politik penguasa.

Janganlah kau bayangkan masa depan negeri yang membanggakan apabila hari ini kita mudah dipecah-belah. Sumbu amarah kita pendek. Emosi dan amarah mengudara. Terlebih mudah kena perangkap isu-isu macam kebinekaan dan toleran yang justru mencerai-beraikan. Membuat kita terkotak-kotak dan tak lagi bersama.

Tentu dalam rezim bersenjatakan hoax ini kita tak boleh lupa, akal sehat lah yang menjadi pemenang. Nurani lah yang menuntun pada hakiki kebenaran. Maka, pilihan untuk memilah informasi harus dilakukan.

Sebagaimana tongkol, ia biru gelap metalika. Suasana hati kita mendung; gundah gulana. Tertutupi kabut-kabut kejahatan yang memunculkan sentimen kebencian. Hujan air mata menetes.

Suka menjelajah. Masuk sana-sini sekedar mendapatkan info. Menjadi pengkhianat. Senangnya menggerombol. Saat-saat dibutuhkan berjuang mandiri, tak sedikitputn berani tandang ke gelanggang walau hanya seorang.

Tongkol tak memilih mangsa. Semua di makan, bahkan sebangsanya. Hati-hati, ia punya banyak rupa. Pagi berkawan, sore jadi lawan. Mengerikan.

Tongkol itu gambaran anak bangsa. Mati terpenjarakan idealismenya ketika dikelola tak baik, sebaliknya akan baik kala dibina secara baik.

Bangsa ini seharusnya tidak bodoh oleh mainan politik penguasa. Bangsa ini adalah bangsa pembelajar. Tak boleh lelah belajar, menganalisa dan membuat catatan kritis.

Kejadian hari ini seharusnya membuat kita mawas diri. Janganlah kita jadi tongkol yang busuk, yang mudah terseret arus kebodohan. Jadilah tongkol yang berkualitas, yang kehadirannya dekat-menyegarkan; membuat setiap orang merasa bahagia. Cendikia juga manfaat.

Dan benarlah negeri ini tongkol, bukan begitu?

Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia
Penggemar Tongkol Dicabein

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *