Pesan Kemerdekaan
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Pesan Kemerdekaan

Mahakarya Maba UGM 2013

Hari ini menjadi biasa jikalau kita tak memaknainya sebagai satu pertanda bertambahnya kedewasaan republik. Seremonial dengan upacara bukan yang utama. Itu tak lebih berarti dari yang terkandung dalam sejarah. Di sanalah letak para pejuang yang mengurbankan dirinya berdarah-darah, meninggalkan istri dan anak, harta benda, dan kemasyhuran dunia untuk mempertahankan daulat bangsa.

Saya sulit membayangkan bila kita semua masih hidup dalam belenggu penjajahan. Hidup segan mati tak mau. Rasanya pahit hidup dalam ketidakmerdekaan harkat beserta martabat.

Di hari yang berbahagia ini, saya ingin mensyukuri satu nikmat Allah yang tiada tara: kemerdekaan. Satu nikmat yang boleh jadi karenanya, saya bisa mengenyam pendidikan, menjadi manusia yang kritis, dan barangkali karena itu juga saya bisa bertemu dengan banyak orang dengan beragam latar belakang. Dengan begitu, saya bisa mencerap pembelajaran daripadanya.

Dalam pikiran kecil saya memandang anak muda, seperti saya, sukanya berwacana tentang hal-hal hebat. Memilih jalan yang tak mudah, terjal dan mendaki. Sebagai misal, anak muda lebih memilih untuk dibuntuti intel karena sering berbuat ‘onar’ demi kepentingan membela rakyat dibandingkan menjadi pintar dikelas tanpa melihat realitas diluar.

Tentu saja, Ibu kita tidak pernah bermimpi untuk melahirkan anak pecundang. Yang sedikit saja disentuh, dikomentar, dikritik sudah tumbang. Ibu kita mengharapkan anaknya terlahir sebagai pejuang yang tahan dengan kebisingan, caci-maki dan jauh dari puja-puji.

Di bawah purnama kedelapan inilah titik bangsa ini dimulai bergulir. Para pejuang kita bukan hanya difitnah, tetapi juga disiksa hingga bahkan digeprek tak bersisa dimuka bumi. Ingat, perjuangan itu keras. Makanya, sedari awal kita harus terbiasa ditempa dengan hal-hal sulit. Sehingga kelak, anak muda yang terlahir merupakan generasi yang kuat, yang tak mudah dikoyahkan oleh angin. Saya rasa republik ini memerlukan orang-orang demikian.

Semoga harap kita sama. Menjadi yang demikian: pribadi hebat dan kuat.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-71

Ayo (Kuliah) Kerja Nyata

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *