Prolog Buku “Tentang Surga di Ekor Kalimantan”
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Prolog Buku “Tentang Surga di Ekor Kalimantan”

Keluarga Temajuk

Pemberdayaan masyarakat daerah perbatasan dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan pengelolaan desa wisata menjadi judul kegiatan KKN PPM UGM Unit KTB-02 Tahun 2016. Bila ditinjau, tema yang diusung oleh unit KKN ini selalu sama, yakni dengan menekankan pada bidang pariwisata dan juga pendidikan. Sehingga, tugas kami pada tahun ini ialah melanjutkan kegiatan pemberdayaan masyarakat yang sudah dilakukan pada tiga periode KKN PPM UGM sebelumnya ditambah dengan berbagai program yang sekiranya dibutuhkan melihat situasi dan kondisi yang sedang terjadi di Desa Temajuk.

Sebelum beranjak lebih jauh, kami berusaha memberikan gambaran singkat mengenai letak geografis Desa Temajuk. Desa Temajuk berada di Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas dan merupakan wilayah Indonesia yang berbatasan langsung dengan Teluk Melano, Negara Bagian Serawak, Malaysia Timur. Kemudian, Desa Temajuk memiliki sekitar 2100an jiwa penduduk yang tersebar di tiga dusun, antara lain: Camar Bulan, Maludin, dan Takam Patah.

Sebagaimana disebutkan di awal, ada dua sektor yang menjadi perhatian kami semua, yaitu berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat di bidang pariwisata dan peningkatan kualitas pendidikan. Pertama, melihat potensi yang ada kami menilai beberapa hal terkait pengembangan pariwisata berbasis local community ke depan. Desa Temajuk begitu menawan dengan pantai pasir putihnya yang memanjang sekitar 26 km; dan juga bebatuan sebagai penghiasnya.

Bukan hanya itu, label sebagai wilayah perbatasan juga dinilai menjadi satu keuntungan tersendiri bila dilihat dari kacamata ekonomi. Tanjung Datoek yang menjadi batas terluar antara Indonesia dan Malaysia itu bisa dijadikan sebagai destinasi yang mengagumkan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat Indonesia dan dunia tentang pentingnya menjaga keamanan dan kedaulatan negara. Selain itu, ada potensi menarik lainnya, yakni menyusuri hutan bakau disepanjang sungai menggunakan perahu. Dengan ini, para wisatawan akan disuguhi keindahan aneka ragam hayati yang membuatnya mendapatkan pengalaman tak terlupa hingga bahkan semakin merasa cinta dan memiliki Indonesia.

Kedua, melihat kondisi pendidikan yang ada di Desa Temajuk, kami menilai sudah ada perubahan yang signifikan utamanya dalam peningkatan sarana dan prasarana untuk kegiatan belajar mengajar. Namun, bila ditinjau lebih jauh, pendidikan yang terselenggara masih jauh dari kata cukup. Sehingga, ikhtiar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa tidak berhenti pada pembangunan fisik. Ada pembangunan non fisik yang mengiringinya, yakni dengan meningkatkan kompetensi guru dan berusaha memberikan materi-materi penting namun tidak dicantumkan pada kurikulum sebagai bekal menghadapi kehidupan saat ini dan juga mendatang.

Kedua hal tersebut memiliki tantangan besar, terlebih cara yang digunakan adalah melalui proses pemberdayaan. Bagaimana caranya kemudian kita mampu menciptakan sebuah sistem yang tetap berjalan dan juga bisa menggerakkan masyarakat atau pun komponen yang ada di dalamnya meski mahasiswa KKN PPM UGM telah meninggalkan lokasi.

Untuk itu, program yang kami bawa harus mencakup aspek fisik dan non fisik berlandaskan kepada pemberdayaan masyarakat. Adapun pelaksanaan dari seluruh program tersebut saling berkait kelindan dengan memusatkan perhatian pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Maka dari itu, perlu kiranya masyarakat dibesarkan hatinya, dikuatkan pundaknya, dan diberikan pengertian supaya mau memiliki persoalan yang sedang dihadapi di Desa Temajuk, terlebih semua ini untuk kehidupan mereka ke depan.

Adapun program-program yang berkaitan dengan pembangunan fisik meliputi pembangunan Gazebo beserta penerangan disekitarnya yang melibatkan segenap elemen masyarakat, mulai dari Kelompok Sadar Wisata hingga pada warga pemilik villa. Gazebo ini nantinya dapat dimanfaatkan sebagai ruang atau titik temu antara berbagai kelompok masyarakat, terutama bagi Kelompok Sadar Wisata untuk menghasilkan gagasan-gagasan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat desa Temajuk. Kemudian, ada banyak program lain seperti pembuatan kolam dan penaburan benih lele untuk dibudidayakan oleh karang taruna; perbaikan RHS untuk menampung air hujan ketika terjadi musim kemarau. Selain itu, juga ada pembuatan papan informasi dan peta wisata, peremajaan Masjid, pembuatan website visittemajuk.org, dan sebagainya.

Sedangkan, di sisi lain, pembangunan non fisik utamanya adalah penyadaran kepada para pelajar untuk bisa berlaku jujur melalui kelas Korupsi dan Anti Korupsi. Sedari dini, memupuk kejujuran sebagai bekal menjaga integritas di masa mendatang. Selain itu, penyadaran akan pentingnya nilai-nilai nasionalisme yang dibangun atas hal-hal sederhana seperti upacara, mengisi kemerdekaan, dan berprestasi dalam belajar adalah salah satu bentuk nasionalisme paling bisa dilakukan oleh pelajar. Bukan hanya itu, mendidik masyarakat pun kami lakukan seperti dalam upaya membangun kesadaran akan partisipasi dan advokasi diri terhadap dana desa. Masyarakat kemudian terbangun dan tergerak untuk mengawasi roda pemerintahan khususnya dalam pengelolaan dana desa dari pemerintah pusat. Selanjutnya, demi mengatasi permasalahan kenakalan remaja, dibuatlah kampanye Rumah Peduli Anak untuk mengembalikan peran dan fungsi orang tua dalam tumbuh kembang anak.

Selain itu, program seperti pemberdayaan PKK untuk menghasilkan produk bernilai jual, yakni nugget ubur-ubur Pembentukan kader sehat berupa dokter cilik, pengobatan kesehatan umum, gigi, dan sunatan massal, dan berbagai sosialisasi dibidang sertifikasi pertanahan, narkoba, lingkungan hidup, kesehatan reproduksi, dan juga pelatihan di bidang pertanian seperti penyadapan karet, pembuatan arang, hingga kepada eksplorasi kekayaan flora dan fauna di wilayah Kalimantan Barat.

Pada bagian akhir, selama dua bulan berkegiatan di Desa Temajuk, kami meneruskan kebiasaan para pendahulu kami dengan berkeliling desa, ke sudut-sudut kampung; melihat, mendengar sekaligus mengalami kehidupan bersama dengan masyarakat setempat. Tentu saja, ada banyak suka dan duka yang meliputi perjalanan KKN ini hingga sampai titik dicukupkannya.

Kami meyakini satu proses bahwa pemberdayaan tidak berhenti pada sekedar memberitahu atau menyosialisasikannya. Pemberdayaan harus bisa menghasilkan kader-kader yang bisa menggerakkan masyarakat kepada sistem yang dibangun secara bersama. Maka, selama perjalanan dua bulan tersebut, kami banyak merekrut berbagai kader seperti dokter cilik, gerakan anti korupsi, masyarakat peduli dana desa, rumah peduli anak, penggerak bank sampah, kelompok sadar wisata, dan seterusnya.

Besar harapan kami atas segenap usaha yang dilakukan oleh mahasiswa KKN PPM UGM bekerja sama dengan masyarakat bisa memberikan kontribusi dan perubahan positif bagi Desa Temajuk demi terciptanya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *