[Review Film] Memahami Sosiologi Agama dalam Film PK Melalui Pendekatan Marx
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

[Review Film] Memahami Sosiologi Agama dalam Film PK Melalui Pendekatan Marx

pk

Kelas di hari itu (01/04) berjalan tak biasa. Jika sebelumnya kelas hanya diisi oleh ceramah, saat itu kami diminta pengampu mata kuliah untuk menonton satu film berjudul “PK”. Kelas bergemuruh. Saya lihat kanan dan kiri, depan dan belakang; menangkap sinyal bahwa mayoritas rekan-rekan di kelas sepertinya belum pernah menonton. Tapi, saya juga tidak bisa menafikan ada beberapa diantara mereka yang sebelumnya sudah menonton, bahkan berkali-kali.

Secara jujur, saya sudah beberapa kali menonton film PK. Hal ini didasarkan kepada minat saya yang begitu besar dalam kajian sosial—dan politik—yang berkaitan dengan agama. Film ini saya ketahui telah mengundang banyak kontroversi baik diluar atau bahkan didalam negeri. Semua ini didasarkan kepada anggapan bahwa setiap agama yang dihadirkan dalam film tersebut dilecehkan—dengan porsi masing-masing.

Tentu saja, siapa-pun tak ingin agamanya dilecehkan, termasuk saya. Sehingga, dalam hal ini menjadi demikian penting bagi saya untuk me-review dan mengkaji film melalui pendekatan yang dipilih—Karl Marx—dari bahan bacaan yang diberikan. Apa betul film ini telah melecehkan kehidupan ritual umat beragama? Lalu, bagaimana film ini mampu menjelaskan fenomena sosiologi agama melalui pendekatan Karl Marx?

Pertanyaan-pertanyaan diatas yang kemudian layak untuk kita pikirkan dan jawab.

 

Bukan Melecehkan Agama

Kita hidup dalam masyarakat yang heterogen. Sehingga, tentu saja, bumi yang sedang kita pijaki ini diisi oleh manusia dengan beragam latar belakang: suku, ras, budaya, agama, bangsa, bahasa, dan sebagainya. Semua ini telah ditetapkan Tuhan; memberikan warna yang akhirnya membuat hidup ini menjadi dinamis.

PK sebagai tokoh utama dari film ini adalah seorang yang asalnya dari antah-berantah nun jauh di sana. Ia datang ke bumi secara telanjang. Yang ia bawa hanya satu: kalung yang mampu membuatnya kembali ke rumah. Saya bisa menafsirkan ini, bahwa manusia dicipta dari sesuatu yang rumit: dari saripati tanah. Manusia datang ke dunia secara telanjang, suci tak berdosa. Yang ia bawa hanya satu keyakinan yang mampu mengontrol kendali hidup, yang pada akhirnya membawanya kembali menuju rumahnya—yang abadi.

PK hadir ke bumi tak mengerti apa-pun. Agama, bahasa, baik-buruk, benar-salah dan beragam aktivitas manusia baru ia ketahui setelah melalui proses melihat, mendengar dan mengalami. Sebagaimana ia ketahui bahwa tidak ada kebohongan adalah hakikinya. Dari ketidaktahuan ini yang membawanya melalui jalan-jalan pencarian identititas atau jati diri. Penekanan yang terletak pada urusan agama ini tentu menarik dibahas supaya kita bisa memahami perbedaan bukan untuk meniadakan, tetapi memahami.

Proses memahami—dalam hal ini agama dan Tuhan—berlangsung sepanjang film. PK menampilkan kesungguhan dalam belajar untuk mencerap pengetahuan dan kemudian mempraktikkannya. Setelah menghabisi beberapa waktu awal memijaki bumi, ia berkesimpulan bahwa “ada banyak Tuhan dan masing-masing Tuhan tersebut memiliki aturan yang berbeda. Setiap Tuhan memiliki rombongan (jamaah) nya sendiri. Orang beragama untuk mereka sendri, dan masing-masing agama tersebut memiliki Tokoh agama yang berbeda. Kemudian, di dunia ini, setiap orang hanya memiliki satu agama. Artinya, mereka hanya memiliki satu kaum. Dan Tuhan kaum mereka yang mereka sembah; tak menyembah yang lain.”

Dalam kesimpulan awalnya itu, ia kemudian mempertanyakan posisi diri: “Jadi, saya ada dibagian mana? Tuhan mana yang harus saya mintakan doa?” Bagi PK, untuk mencari tahu posisinya berada adalah dengan mencoba semua agama yang ada. Dengan begitu, menurutunya, ia bisa mengetahui bahwa salah satunya pasti ada yang benar. Inilah yang dikemudian dipahami sebagai “melihat dunia dengan cara berbeda”.

Dengan itu, kemudian ia mampu menunjukkan praktik-praktik beragama yang dalam istilah Soekarno disebut “sontoloyo” atau tidak beradab. Ingat, praktik beragama, bukan malah menyalahkan agamanya karena sebab para pembawa risalah Tuhan di dunia (tokoh agama) tidak bekerja dan menampilkan perwajahan wakil Tuhan. Fenomena yang dihadirkan ke dalam film menunjukkan kebohongan dan keculasan yang dilakukan salah satu pemuka agama bernama Tapaswi. Ia merekayasa teknologi untuk berbicara dengan Tuhan dengan mengatakan kepada orang lain untuk mempercayai apa-apa yang dikatakan. Sehingga, pada akhirnya, apa yang kita sampaikan kepada Tuhan melalui alat komunikasi yang salah akan menghasilkan “salah sambung”.

 

Memahami Sosiologi Agama dalam PK Menggunakan Pendekatan Marxisme

Dari penjelasan di atas, barulah kita sampai kepada bagian terakhir. Pada bagian ini, saya akan memberikan pemahaman terkait sosiologi agama melalui pendekatan Marxis. Meski Karl Marx dalam karyanya memiliki posisi yang problematis sebab ia tidak pernah mencurahkan sebagian besar kemampuan intelektualnya yang tinggi pada studi agama dan membenci (mengabaikan) agama, kita setidaknya bisa memahami pemikirannya melalui bahan bacaan yang telah diberikan dosen.

Sosiologi agama menurut Hendro Puspito sebagai suatu cabang sosiologi agama yang mempelajari masyarakat agama secara sosiologis guna mencapai keterangan-keterangan ilmiah dan pasti demi masyarakat agama itu sendiri dan masyarakat luas pada umumnya. Namun, secara sederhana, sosiologi agama dipahami sebagai cara untuk memahami fungsi agama di dalam masyarakat.

Dalam hal ini, Karl Marx memandang agama sebagai “candu masyarakat” karena dianggap hanya menawarkan cita-cita yang tidak terjangkau, membelokan rakyat dalam perjuangan kelas dan memperpanjang eksploitasi mereka. Agama dipandang sebagai memberikan janji-janji yang tidak mudah dipenuhi, bahkan meracuni masyarakat terutama merupakan lapisan bawah, sehingga mereka lupa tujuan utama memperjuangkan kesamaan kelas. Agama dirasa telah memberikan keyakinan kepada mereka yang berada di golongan bawah bahwa apa yang mereka alami saat ini merupakan takdir. Oleh karena itu, mereka harus menerima itu dengan sukarela. Kondisi inilah yang kemudian menurut Marx dimanfaatkan oleh kelas atas untuk mengeksploitasi kelas bawah cecara terus menerus.

Kita tentu bisa berdebat soal ini. Tetapi, sesungguhnya kita perlu tahu mengapa Marx bisa sampai pada kesimpulan ini. Bila kita melihat konteks saat itu, yang terjadi adalah suatu revolusi. Agama menjadi pelampiasan kegagalan manusia yang kalah dalam perang; agama dijadikan sebagai pelarian dan penenang diri. Kemudian, dengan ini kita bisa mengira pada akhirnya agama membuat manusia menjadi malas berkarya karena hanya menerima segala kondisi.

Tradisi Marxian dalam memahami sosiologi agama menitikberatkan agama sebagai ekspresi kepentingan dan juga kontrol sosial. Dalam PK, kita bisa menemukannya melalui percapakan ini:

“Kita semua anak-anak Tuhan kan? Lalu, apa yang kau katakan jika anakmu sakit dan dia meminta bantuanmu? Memberinya obat atau bilang padanya 4000 km dari rumah ini, aku punya sebuah rumah lagi. Temui aku di sana dan jelaskan padaku masalahnya sekali lagi, maka akan aku selesaikan. Jika panggilannya sampai pada Tuhan sungguhan, maka dia akan bilang, anak, istrimu sedang sakit. Pergi ke orang lain, kau masih hidup. Saat kau mati, datanglah padaku.

Duplikat Tuhan yang memberikan barangku padamu. Sampai saat ini, tak ada yang pernah melihat Tuhan dan mendengar dariNya. Semua perintah Tuhan hanya disampaikan oleh Tokoh Agama. Apakah suara Tokoh agama ini bisa membawa kepada Tuhan? Selama telepon bermasalah, masalah kita akan terus bertambah. Kita harus saling membantu. Selama Tokoh agama tidak bisa membawa kita ke Tuhan yang tepat.”

Pada bagian tersebut, ketika orang-orang hadir dalam setiap ritual yang diselenggarakan oleh Tapaswi. Mereka datang dengan berbagai persoalan dunia, utamanya terkait persoalan perekonomian untuk memintanya dicarikan jawabnya. Namun, persoalan muncul ketika Tapaswi sebagai tokoh agama atau wakil Tuhan di dunia “salah” dalam memberikan gambaran terang dan menjelaskan komunikasi manusia (beribadah) kepada Tuhan. Dengan hadir kepada Tapaswi, dianggap sebagai penenang atas berbagai persoalan dunia. Bahwa masalah adalah takdir dan manusia hanya perlu menenangkannya dengan agama.

Di sinilah letak kritik Marx yang mengatakan agama sebagai candu masyarakat itu. Agama dianggap menawarkan cita-cita yang tidak terjangkau—tanpa usaha—, membelokan rakyat dalam perjuangan kelas dan memperpanjang eksploitasi mereka. Agama dipandang sebagai memberikan janji-janji yang tidak mudah dipenuhi.

Lebih jauh, Marx memandang kalau kekuatan yang paling dominan dalam masyarakat adalah kekuatan ekonomi. Agama dilihat sebagai suatu kesadaran yang palsu karena hanya berkaitan dengan hal-hal yang sepele atau semu; atau mencerminkan kepentingan kelas ekonomi yang berkuasa. Inilah kritik Marx terhadap agama. Tetapi, bila kita mau berusaha lebih jauh memahami maksud Marx, kita bisa menemukannya. Dalam pandangan Marx, kritikan terhadap agama, meskipun “pada dasarnya sudah selesai” (Marx, 1977) secara intrinsik bukanlah tujuan itu sendiri; kritikan terhadap agama sekedar sarana untuk memecahkan persoalan-persoalan lain secara aksi nyata.

Marx memandang kalau agama itu perlu disikapi sebagai sebuah fenomena yang kontradiktif, bukan semata-mata sebagai ekspresi dari penderitaan (atau kepentingan) kelas melainkan sebagai ekspresi sekaligus protes. Saya menangkap hal yang sama dalam pernyataan Ali Syariati dalam bukunya “Kritik Islam terhadap Marxisme” bahwa sewaktu-waktu, ia merasa Islam sebagai agama perlawanan yang membebaskan (Syari’ati, 1980). Tetapi, kejadian perang saudara atau antar harakah membuatnya terkadang merasa skeptis.

Sehingga, dalam hal ini saya mendapati hal menarik bahwa sebenaranya pernyataan Marx tentang agama dan pembedahannya dalam sosiologi agama masih bisa diperdebatkan, umumnya bagi kalangan agamawan. Sama halnya ketika kritik yang dilakukan oleh film PK kepada semua agama. Bagi saya pribadi, apa-apa yang disampaikan Marx semestinya bisa dipahami sebagai satu bentuk skeptisme terhadap agama dalam kenyataan praktiknya, bukan dalam tataran konsep dan sebagaimana diturunkannya. Hal ini kemudian membuat kita semua lebih arif, bijaksana dan beradab sebagai makhluk beragama.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *