Rintik Hujan
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Rintik Hujan

man in the rain

Di sehabis gemuruh itu hilang, ada rintik hujan datang. Mengabarkan jikalau malam masih panjang. Kawan-kawan sibuk dengan pekerjaannya. Ada yang sedang giat belajar. Menghapal materi yang setumpuk. Ada juga yang harus tertidur pulas dengan mulut menganga; tanda lelah seharian berpeluh kerja. Hanya saya saja yang tampak sedikit selo. Meminum jus alpukat buatan Retas dan Arif sembari membuat surat rekomendasi untuk adinda tercinta yang mendaftar Rumah Kepemimpinan.

Saya tak ingin berkisah malam ini. Hanya ingin mengetik saja. Sebatas itu dan tak lebih. Entah kemana kata ini berpergian dan menuju, saya hanya mengikutinya saja. Pikiran yang membimbing saya. Sungguh tidak jelas. Barangkali ketidakjelasan ini yang selalu tampak dalam pribadi. Sebab saya terlalu banyak mengimpikan hal-hal selangit, sampai-sampai sering terlupa hal-hal yang begitu dekat dan lebih layak untuk segera diselesaikan. Memang, visi besar itu yang saya junjung. Tapi, lagi-lagi, tak bolehlah kiranya saya melupa akan hidup hari ini.

Disaat memikirkan ketidakjelasan itu. Seketiba ada kata terlontar dan datang menghampiri. Mengetuk dan mengucap salam tanda kepasrahan diri. Memohon tuk dibukakan pintu maaf selebar-lebarnya atas segala salah dan khilaf kemarin. Senyum dibibir agak mengembang, tanda persahabatan yang agak kalut tiba-tiba kembali cerah.

Saya selalu percaya bahwa ada udang dibalik bakwan. Pasti ada maksud tertentu ketika seseorang melakukan seseuatu. Termasuk maaf yang diucap atau bahkan sekedar tulisan singkat yang saya buat. Tapi saya percaya, Tuhan lebih tahu dari yang mengaku lebih tahu.

Bisik kanan-kiri mulai meredup. Semua kesibukan akan terhenti dengan sendirinya untuk memejamkan erat matanya. Dalam peristirahatan dengan bantal dan guling atau sekedar beralas lantai. Gelas kotor masih menumpuk; pintu dan jendela masih terbuka; dan ingin saja saya sudahi malam ini bersama rintik hujan yang membikin saya basah dengan mengucap hamdalah. 

Semoga, esok lebih baik. Tak ada yang terlupa, pun kau.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *