Sedikit Membaca Potensi KAMMI DIY
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Sedikit Membaca Potensi KAMMI DIY

kammi

Marilah kita mulai esai ini dengan pertanyaan skeptis terhadap misi KAMMI yang kedua—menggali, mengembangkan, dan memantapkan potensi dakwah, intelektual, sosial, politik, dan kemandirian ekonomi mahasiswa—Apakah yang sudah dilakukan oleh KAMMI, khususnya KAMMI DIY dalam mengembangkan potensi sumberdaya manusianya dalam bidang sosial, politik, dan ekonomi? Saya tidak tahu pasti jawabnya. Sebab, dalam penglihatan saya selama ini sebagai seorang aktivis mahasiswa, dan juga pengamat melalui berbagai daring saya menilai KAMMI belum cukup mampu mengembangkan potensi kader-kadernya secara maksimal. Sejauh ini, penekanan yang dilakukan lembaga melulu pada persoalan politik.

Baiklah. Saya coba untuk menjawab pertanyaan skeptis tersebut dengan menyitir risalah milik Buya Hamka dalam Falsafah Hidup-nya, bahwa “Islam memulangkan kekuasaan kepada Allah belaka, yang Esa di dalam kekuasan-Nya. Itulah Tauhid, yang mengakui Tuhan hanya satu. Setelah itu memandang semua manusia sama derajatnya. Kelebihan seorang dari yang lain hanyalah takwanya, budinya, dan kecerdasan akalnya. Bukan karena pangkat atau harta kekayaan. Tangan si lemah dibimbing sehingga beroleh kekuatan. Diambil hak dari tangan yang kuat dan kuasa lalu dipindahkan kepada yang lemah, sehingga tegaklah perimbangan. Inilah hidup yang dikehendaki Islam. Inilah Falsafah Hidup yang kita kehendaki…” (HAMKA dalam Falsafah Hidup)

Saya akan membedahnya dalam tataran kalimat yang menunjukkan panduan bagi KAMMI DIY untuk bergerak. Pertama, pada kalimat Islam memulangkan kekuasaan kepada Allah belaka, yang Esa di dalam kekuasan-Nya mengandung dimensi politik. Ada kata kekuasaan di sana yang menjadi salah satu inti dari ‘politik’. Artinya, kader KAMMI yang berkontestasi dalam bidang politik, kemudian berhasil mendapatkan kekuasaan sebagai ‘alat’ untuk melakukan proses dakwah, makah orientasinya harus menekankan aspek semata-mata kepada Allah Swt. Inilah potensi internal (pribadi) bagi kader KAMMI untuk mendapatkan pahala dari Allah Swt, karena dalam kekuasaannya, semata hanya mengakui Tuhan yang satu. Sedangkan, dalam sisi eksternalnya, kader KAMMI bisa mengajak orang-orang disekelilingnya menuju kebaikan dengan cara terlibat dalam proses kekuasaan tersebut; baik terlibat dalam struktur organisasi (apa pun bidangnya), atau sekedar mengkritisi sebagai upaya meluruskan dan menegaskan kembali jalan idealisme KAMMI.

Kedua, dalam kalimat “memandang semua manusia sama derajatnya. Kelebihan seorang dari yang lain hanyalah takwanya, budinya, dan kecerdasan akalnya. Bukan karena pangkat atau harta kekayaan” mengandung dimensi sosial yang kaya akan nilai kesetaraan, egaliter. Inilah yang dijunjung oleh Islam jauh sebelum pemikir Barat merumuskannya. Artinya, kader KAMMI bisa membangun titik temu dengan orang-orang dari beragam suku, budaya, bangsa, agama, dan ras yang kemudian dari sinilah, umat bisa membangun kerja-sama dalam mencarikan solusi bangsa. Masalahnya, sejauh ini, saya memandang bahwa gerakan ekstra-kampus mengarah pada ekslusifitas. Merasa diri paling benar, paling bisa, paling segalanya, sehingga mengesampingkan peran orang-orang/kelompok yang berada disekelilingnya.

Ketiga, dalam kalimat “tangan si lemah dibimbing sehingga beroleh kekuatan. Diambil hak dari tangan yang kuat dan kuasa lalu dipindahkan kepada yang lemah, sehingga tegaklah perimbangan” mengandung dimensi ekonomi yang berimbang; khas mereka yang hidup di negara kesejahteraan. Sebenarnya, ini merupakan logika subsidi yang tepat, Peluang KAMMI dalam hal ini adalah membangun suatu BMT.

BMT atau singkatan dari Baitul Maal Wat Tamwil dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Balai Usaha Mandiri Terpadu. Ini merupakan lembaga keuangan mikro yang dioperasikan dengan prinsip bagi hasil, menumbuh kembangkan bisnis usaha mikro dan kecil, dalam rangka mengangkat derajat dan martabat serta membela kepentingan kaum fakir miskin.

Secara konseptual, BMT memiliki dua fungsi: Baitut Tamwil (Bait =Rumah, at-Tamwil = Pengembangan harta) melakukan kegiatan pengembangan usaha-usaha produktif dan investasi dalam meningkatkan kualitas ekonomi pengusaha mikro dan kecil terutama dengan mendorong kegiatan menabung dan menunjang pembiayaan kegiatan ekonominya. Baitul Maal menerima titipan dana Zakat, Infaq dan Shadaqah serta mengoptimalkan distribusinya sesuai dengan peraturan dan amanahnya. Inilah yang kemudian dapat dilakukan oleh KAMMI sebagai upaya mewujudkan kualitas masyarakat yang selamat, damai, dan sejahtera.

Membaca KAMMI DIY hingga hari ini menunjukkan kenyataan minimnya pengembangan tiga sektor utama, sebagimana dikatakan di atas. Segala yang saya tuliskan di sini semata hanya karena ingin memperbaiki KAMMI untuk hari ini, esok, dan seterusnya. Semoga.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *