Seminggu Terakhir
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Seminggu Terakhir

Nasri7 Tinggal Seminggu

“Menangis adalah serendah-rendahnya lelaki”.

Orang bilang begitu. Saya sih tidak mau ambil pusing. Terlebih bagi saya, menangis adalah penyeimbang atas gelak tawa yang seringkali saya pekikan.

Kalau boleh saya meminta, malam ini janganlah cepat berlalu. Ada kekhawatiran mendalam dari saya tentang malam di Minggu yang akan datang. Saya ini takut sepi. Dan saya tidak ingin merasa sendiri.

Orang yang ada dikanan dan kiri saya kelak akan pergi. Sementara saya masih diam diujung jemari, sembari mengetik kata-kata yang tak pantas saya sebut sebagai perpisahan.

Saya tidak bisa melupakan warna oranye yang menghiasi tembok. Saya tidak bisa melupakan sawah dan koran yang menghantarkan saya kepada lamunan dikala fajar menyingsing. Saya tidak bisa melupakan balkon atas yang menemani doa-doa petang. Dan juga beserta segenap cinta-cinta yang tumbuh, hadir, dan dibesarkan dalam ruang-ruang penuh makna, yang biasa saya sebut sebagai saudara.

Jujur saja, meluapkan 22 bulan dalam satu malam tidak akan pernah mungkin bisa. Beruntung saja, saya diingatkan oleh seorang rekan saya, yang gemar sekali menulis. Dengan inspirasi darinya, saya tuangkan kembali narasi kehidupan ke dalam teks supaya kelak, orang-orang bisa memahami apa yang pernah saya lalui. Tidak banyak memang, tapi daripada tidak sama sekali.

Malam ini pun sama halnya dengan ketidakmampuan saya menceritakan seutuhnya narasi berasrama. Jikalau ada mata, telinga, dan mulut untuk mengenang segenap kisah kita, tak terkecuali kisahmu yang tak pernah sedikitpun saya lewati; itu merupakan kebahagian.

Dalam waktu yang terbilang singkat, saya selalu mengupayakan kolaboraksi bersama teman-teman. Kita sematkan nama “PPSDMS” yang sekarang berubah menjadi “Rumah Kepemimpinan” ke delan relung hati yang terdalam. Sungguh, ada kebanggan tersendiri ketika mengatakan saya adalah bagian di dalamnya.

Dalam ingatan ini, selalu terbayang momen-momen gila, yang tak pernah bisa dilupakan. Tapi sungguh, saya tidak bisa mengeja satu per satu. Butuh bantuan sepertinya untuk menuangkannya, hingga mungkin bisa menjadi satu, dua, tiga atau bahkan ratusan buku yang saya yakin penuh makna.

Bolehlah kiranya saya mengundang orang-orang seperti Mas Adi, yang saya pun kalau menangis berada diketiaknya. Ada Mbak Intan yang dalam diam, tetapi menyimpan perhatian yang tulus. Kepada Mba Tika yang juga seringkali menasihati. Juga, dari pusat. Ada Bang Bachtiar. Jadi ingat, malam Minggu lalu kita abis nongki bareng di Alkid. Meski sampe tengah malem, kita membahas dan membedah aktivisme pergerakan mahasiswa. Harapan ente akan ane pegang bang: untuk UGM, bangsa Indonesia yang bermartabat. Dilema RK dan Baktinusa mari kita dudukkan dalam konteks yang lebih adil. Tentu saya yang memposisikannya. Saya sadar, saya bukan apa-apa tanpa RK.

Juga abang-abang pusat lainnya, bang Ichsan yang candu akan diskusi. Kemarin kita bahas soal intelijen. Juga, bang Juna yang asalnya dari Priok. Hehehe… Ada bang Aad sebagai Ketua Ikatan Alumni RK yang gigih menemani kita-kita semua. Pokoknya, seluruhnya punya kenangan tersendiri.

Termasuk malam ini. Saya memang terlambat hadir sekitar 30 menit karena ada kunjungan Dema Fisipol ke Dema Justicia. Tapi, saya coba dan relakan untuk segera hadir ke asrama. Saya tak ingin melewatkan momen yang suatu hari nanti akan sangat terasa nilai dan harganya.

Baiklah, malam ini cukup sekian. Saya hanya ingin menyampaikan sedikit saja tentang perasaan yang hadir saat ini.

Bilamana ada perkara pernyataan yang tak bisa disampaikan, semoga ada yang mampu menyampaikan, entah tulisan, puisi atau bahkan doa di antara amin-amin sepertiga malam.

 

Menikmati seminggu terakhir.

23:59

Comment (6)

  • Fitri Hasanah Amhar - May 24, 2016

    Fath :””

  • Zahratul Iftikar - May 24, 2016

    Fath :”””
    Terimakasih telah menjadi bagian dari timsat terbaek banget sepanjang masa

  • terima kasih, Fath. Tulisannya bikin saya beneran sedih. Padahal sepanjang acara tadi berhasil nahan rasa keberpisahan……

    :”(

    • Terima kasih Dev. Tulisanmu yang sepuluh bulan, yang kamu minta untuk dibaca saat selo masih aku tempel di tembok kamar. Sebelum tidur selalu aku sempatkan tuk membacanya. Kadang meringis dipojokan kamar, ngerasa apalah atuh dalam soal apapun :””(

  • Leave a Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *