Sepele
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Sepele

hal-hal-kecil

Diawal ini saya ingin mengajukan permohonan maaf. Apa yang kamu pikirkan adalah persoalan sepele, sehingga saya merasa waktu yang saya miliki tak cukup bermanfaat untuk mengurusi persoalan yang kamu buat.

Sudah saya katakan sedari awal. Saya bisa berada diposisi yang hari ini bukan karena tiba-tiba. Ada banyak pengalaman dan pengamalan yang telah saya lakukan ataupun juga bersama dengan rekan-rekan tentunya atas se-izin Allah SWT. Kalau saya membuat suatu keputusan, artinya saya sudah berkonsultasi dengan berbagai macam pihak. Tak murni perbuatan saya pribadi. Sehingga, kalaupun pada akhirnya saya dianggap tak sesuai dengan kriteria yang diinginkan ataupun persoalan-persoalan lain yang saya anggap sangat politis, itu layak untuk dibicarakan bersama. Bukan malah menjatuhkan, kawan.

Sedari kecil orangtua saya tidak pernah menyuruh saya untuk berlaku jahat: menjatuhkan derajat dan martabat orang lain. Saya diasuhnya untuk berakhlaq yang baik. Ini akan tercermin dalam etika, terlebih etika dalam politik. Saya khawatir kawan dengan pernyataan seseorang “dalam politik tidak ada etika; hanya agama yang kemudian memelajari etika secara holistik”. Justru karena kita manusia yang berTuhan dan beragama, kita kemudian menjadi sadar bahwa ada etika yang mesti kita junjung.

Obrolan-obrolan dibalik layar yang menggambarkan semua seolah baik-baik saja. Marilah kawan, kita temukan jawabnya bersama dengan berdiskusi. Kekhawatiran saya terus menjadi manakala kebencian atas pribadi yang terus direproduksi. Sehingga, baiknya reputasi seseorang pun dalam berbagai bidang menjadi tiada berarti.

Semoga Allah SWT menyanyangi saya, kamu, dan teruntuk kita semua yang sedang menjalani amanah. Saya hanya tidak ingin generasi kita hanya dicekoki oleh pandangan-pandangan sepele: kebencian.

Salam penuh cinta untuk kalian semua, kawan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *