Sepenggal Kisah Perjalanan Magang Kerelawanan Dompet Dhuafa di Hongkong [Bagian I]
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Sepenggal Kisah Perjalanan Magang Kerelawanan Dompet Dhuafa di Hongkong [Bagian I]

Kebersamaan Sahur di Shelter Kebahagiaan

Di sini, saya bertindak sebagai diri saya sendiri yang turut membersamai mereka, para buruh migran Indonesia (BMI) selama kurang lebih tiga minggu. Dalam waktu yang singkat ini, saya diberikan kesempatan untuk belajar menyelami kehidupan mereka yang terbilang sulit. Maklum saja, latar belakang ekonomi senantiasa menjadi pendorong bagi mereka untuk mengadu nasib jauh ke negeri Hongkong.

Sejak hari pertama menginjakkan kaki di Hongkong, saya langsung diajak oleh Mas Ilham, general manager Dompet Dhuafa Hongkong untuk singgah ditempat yang saya sebut sebagai “Shelter Kebahagiaan”. Shelter Kebahagiaan ini menampung para BMI yang sedang ditimpa musibah, entah karena majikan, agen, hingga bahkan terjebak pada aturan negara. Di sini, sembari menunggu urusannya selesai, para BMI mengisi dengan kegiatan yang bermanfaat, yaitu menyalurkan hobi seperti memasak, menjahit, dan sebagainya.

Saya mulai berkenalan dengan mereka. Ada Mbak Yuli yang bermasalah karena dituduh mencuri dua tahun lalu, serta dipermasalahkan karena dikira ikut sertaa sebagai anggota Multi-Level Marketing (MLM). Padahal, ia hanya membeli produk. Kemudian, Mbak Yulis yang menuntut majikannya karena tidak membayar gajinya selama dua bulan. Selanjutnya, Mbak Purwati yang kini harus masuk ke Penjara karena sempat bekerja part-time diluar pekerjannya sebagai house keeper. Ada lagi, Mbak Ajeng dan Mbak Yaya yang sedang menunggu tuk mendapatkan majikan baru; Mbak Ike yang baru sampai Hongkong namun ketika sesaat ingin bekerja ternyata sakit “infeksi rahim” sehingga harus berobat dan sedang menunggu kembali ke Indonesia. Terakhir, Mba Nurlaela yang sekarang sudah berada di Indonesia untuk bersiap menikah karena kemarin sempat menunggu jadwal kepulangan.

Pada intinya, mereka punya cerita tersendiri yang layak untuk didengar. Entah cerita perjuangan, cinta, pengorbanan, dan lainnya bagi keluarga sebagai seorang Ibu dan juga Istri; dan juga bangsa jika tidak salah saya menyebutnya sebagai seorang pahlawan devisa. Dengan begitu, saya menyadari akan peran dan posisi saat ini sebagai mahasiswa. Ada satu tugas yang hendak diemban oleh saya selain daripada belajar. Adalah keberpihakan terhadap mereka baik melalui gagasan, pemikiran, dan sumbangsih lainnya seperti tenaga dan waktu memperjuangkannya.

Jujur saja, isu terkait Buruh Migran Indonesia selalu saja tidak sedap, entah di negara sendiri atau pun di negara tempat bekerja. Selain karena perhatian pemerintah yang menurut saya sedikit, atau masih terbatasnya lembaga sosial yang kemudian peduli terhadap nasib tumbuh-kembang-berjuangnya para BMI Indonesia.

Kebetulan saja, ketika saya berada di sini, saya bisa berkesempatan hadir mewakili Dompet Dhuafa dalam kunjungan kenegaraan dari Menlu Retno L.P Marsuadi dan Menkumham Yasona Laoly ke Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Hongkong (24/6). Menurut Suprihatin, salah seorang BMI yang juga aktif memperjuangkan nasib BMI di Hongkong, “ia mengucap syukur yang luar biasa sebab selama 13 tahun ia berada di Hongkong, baru sekali ini saja Menlu hadir dan bertatap muka dengan BMI”. Hal ini coba dijawab oleh Menlu sebagai bentuk komitmen pemerintah Indonesia terhadap BMI.

Dalam kesempatan tersebut, Menlu membawa Isu “Paspor dan Komitmen Pemerintah Terhadap Nasib BMI Hongkong”. Isu ini coba dibawakan secara serius mengingat nasib sekitar 152.000 jiwa ada di sini. Berbagai masukan hadir kepada pihak pemerintah yang secara ringkas ingin menyampaikan pesan keprihatinan atas kondisi BMI yang dikriminalisasi akibat ketidakvalidan data paspor, ketidakpahaman atas hukum yang berlaku, atau pun persoalan lainnya.

Begitupun dari pemerintah kepada BMI yang terus berusaha memperbaiki diri, semisal peningkatan kuota pelayanan paspor menjadi sekitar 300 dari sebelumnya 120 dengan menambah 6 orang tenaga kerja bantuan dari Jakarta, dan sebagainya. Kemudian, peredaran narkoba di mana BMI dijadikan ‘kurir’ tanpa sepengetahuan mereka hanya karena diminta untuk mengirimkan barang dari satu tempat ke tempat lainnya; atau jalur lain melalui hubungan percintaan.

Saya menjadi semakin yakin, bahwa persoalan tidak lantas berhenti di situ. Harus terus ada follow up dari lembaga sosial. Dompet Dhuafa bisa bermain peran di sini untuk mengadvokasi; bukan sekedar menjadi penyedia tempat berteduh atau penyalur zakat para BMI, meski itu sudah cukup baik.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *