Seperti Popcorn Yang Meletup-letup
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Seperti Popcorn Yang Meletup-letup

120913_popcorncover

Beberapa hari belakangan saya dihadapkan pada beberapa persoalan sulit. Saya pun tidak enak menuliskan seluruhnya di sini. Saya sendiri sampai tidak habis pikir mengapa ini semua terjadi dalam waktu-waktu yang segenting ini.

Saya katakan genting karena ini semua berkaitan dengan apa-apa saja yang sudah saya katakan pada catatan sebelumnya berkaitan dengan akademik, cita dan cinta. Kalau bisa dibilang, semua persoalan tersebut sedang mengarah kepada satu titik, dan itu disebut hari ini.

Tentu saja, perhatian saya menjadi terbagi-bagi untuk beberapa hal. Dan semuanya meminta saya untuk bekerja ekstra keras. Sampai-sampai hati ini seperti popcorn yang meletup-letup. Makanya, dalam setiap do’a sehabis shalat saya tidak pernah meminta Allah untuk memudahkan, tetapi untuk menguatkan pundak-kaki saya. Jujur, saya ini tipe orang yang senang tantangan, dan selalu saja berusaha menantang diri sendiri untuk capaian-capaian yang semula dianggap tidak mungkin menjadi mungkin. Prinsipnya: pasti bisa, semua pasti bisa.

Alkisah, saya ini orang susah. Semenjak SD sampai hari ini saya berkuliah saya mengandalkan beasiswa. Suatu ketika, di saat saya sedang dihadapkan pada pilihan sulit: kuliah, kerja atau keduanya, saya memilih untuk berkuliah. Saya pikir memusatkan perhatian pada kuliah dengan maksud untuk belajar dimasa muda akan mempermudah saya kemudian, terlebih pendidikan dalam hal ini sangat penting, bahkan untuk hal pragmatis sekalipun seperti meningkatkan mobilitas vertikal kelak dikemudian hari.

Atau dalam kondisi lain, di mana saya harus bisa mendapatkan prestasi akademik, non-akademik, namun juga bisa menjalankan amanah organisasi beserta tuntutan lain baik dari Allah dan Orang tua, tak lupa lembaga pemberi beasiswa. Bagi sebagian pihak menilai ini semua sulit dikerjakan dalam waktu bersamaan. Tapi, bagi saya sebagaimana prinsip di atas: pasti bisa.

Tenang, Allah tidak akan memberikan cobaan dan ujian diluar batas kemampuan manusia. Nah, sesungguhnya tinggal di manusia-nya sajalah yang mau menghadapi atau lari dari kenyataan. Bila menghadapi, maka ini semua akan meningkatkan kapasitasnya dihadapan manusia dan Allah. Sementara itu, bila lari kenyataan itu sama halnya dengan memilih untuk menyerah pada kehinaan dan pasrah oleh keputusasaan.

Maka, saya menjadi paham betul bahwa yang saya hadapi sebenarnya adalah karena pilihan-pilihan rasional yang telah saya buat sebelumnya, jauh-jauh hari lalu, bahwa saya menyukai tantangan. Apabila saya digempur dengan implikasi pilihan-pilihan tersebut, maka tugas saya adalah hadapi. Selalunya, disela-sela menghadapi itu semua, cerita dan curhat kepada Allah, seringkali kepada orang tua, dan sesekali kepada sahabat. Tujuannya adalah meminta pandangan orang lain. Supaya langkah yang diambil bisa cukup mewakili gambaran pribadi dan umum tentang seluk-beluk persoalan hidup. Maka, saat ini, sekarang juga, jawabnya saya untuk persoalan sulit ini ialah pasti bisa, atas izin Allah.

Oiyah, Selamat Idul Adha guys. Semoga keteladanan Ibrahim dan Ismail menjadi inspirasi kita untuk berkurban bagi kemanusiaan :)

*Bonus:

 

KAMMI UGM bersama Warga Dusun Tretek

KAMMI UGM bersama Warga Dusun Tretek

Panas-menggigil, ba’da dari Tretek

Maksa nulis

 

Comment (2)

  • Leave a Reply to Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia Cancel reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *