Tentang Hari-hari Belakangan
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Tentang Hari-hari Belakangan

ngopi

Kuserahkan semua ini kepada Allah SWT.

***

Hari-hari belakangan ini saya sedang giat membaca sumber-sumber yang berkaitan dengan skripsi saya yang Insya Allah akan mengangkat tema tentang “Kampus Politik” studi kasus di UGM. Saya pikir tema ini menarik. Sebab, kampus dalam hemat saya adalah tempat yang tidak suci, tidak bebas nilai, dan berpihak. Sehingga, baik mahasiswa atau pun rektorat sebenarnya adalah aktor politik. Saling berkepentingan memainkan isu dan peran yang dibawa masing-masing. Dan hampir dapat dipastikan, Kampus terutama yang Negeri akan menjadi kepanjangan tangan dari kepentingan Negara. Tak usah kita malu-malu untuk mengakuinya. Lihat saja narasi sejarah, UGM sebagai institusi pendidikan selalu memiliki peran tersendiri dalam berbagai dinamika politik bangsa.

Melupakan sedikit tentang skripsi, saya ini sedang dihadapkan dengan beberapa agenda. Antara kesempatan dan tantangan selalu saya pikirkan masak-masak. Bertanya meminta saran, nasihat dan doa saya anggap sebagai solusi menghadapi seluruhnya.

Mislanya, ada beberapa nasihat yang hadir dari rekan-rekan saya yang budiman. Mereka adalah makhluk bernama saudara, rupa yang tak selalu ada dan hadir, namun doanya mengalir deras. Mas Isnan, pembina, mentor, yang selalu memberikan taujih, nasihat, serta bimbingan bagi saya untuk menjalani kehidupan kampus dan beragama. Beberapa waktu lalu beliau bilang begini:

Meski aku tak bisa sepenuhnya membantumu, aku berdoa agar Allah senantiasa menguatkanmu. Kembalikan semua padaNya, berpikir dan gunakan rasa layaknya kita hanya hidup sementara, bahwa kita sedang menjalankan misi sang Pencipta, bahwa ruang-waktu-manusia yang Allah berikan adalah kesempatan besar untuk menjadi sebaik-baiknya khalifah sekaligus sebaik-baik abdiNya. Jangan dengarkan kata-kata yang tak engkau perlukan dalam menjalani Misi ini. Telinga dan hatimu terlalu berharga untuk terluka karena manusia.

Saya pikir kalimatnya menyentuh relung hati saya yang terdalam. Betapa tidak, jarak dan hadir tak mesti ada, tetapi doa selalu mengalir deras. Inilah yang utama, kado terindah dan bagi saya tak ada duanya.

Bukan Mas Isnan saja. Mama, bapak, adik-adik setiap hari menulis di grup whatsapp “keluarga cemara” yang intinya selalu mendukung kegiatan saya yang Insya Allah positif ini. Tapi memang saya terkadang merasa lelah. Saya harus mengakui. Dunia yang sedang saya hadapi saat ini tidak semudah saat dahulu saya mencetak goal ke gawang lawan saat bermain bola di lapangan walikota Jakut atau ketika menunjuk mainan di toko. Semakin ke mari semakin kompleks. Dan barangkali saya sendiri yang menghadapi dan memustukan semuanya.

Tentang hari-hari belakangan ini, ketika saya harus menghilang dari tulisan blog, atau harus menidurkan pikiran dari godaan kemarahan. Hingga sesekali saya mengagumi seseorang meski dari kejauhan dan hanya bisa pasrah diam. Tapi, seperti kata Anies, orang yang saya kagumi: “kalau pejuang, hadapi!”

Baiklah, saya akan hadapi semua kenyataan ini.

Maaf menghilang sementara. Ke depan, kita takkan berpisah kabar. Meski terkadang sesungguhnya saya tak ingin sedikitpun kita saling berjarak.

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *