Tetap Indonesia
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Tetap Indonesia

Kantor Dompet Dhuafa Hongkong

Sejauh apapun saya melangkah, saya tetaplah Indonesia. Dengan segala kelebihan dan kekurangan, saya tetap menjadi diri saya. Indonesia dalam nama saya yang telah mengikatnya. Saya menjadi merasa sangat bersyukur sekaligus berbangga, bahwa orang tua saya telah berpikir jauh ke depan bagi saya untuk terus dan tetap mencintai Indonesia.

Saat ini, saya sedang berada di Hongkong. Kurang lebih, sudah 10 hari saya berada di sini. Cuaca lumayan panas sekitar 28-31 derajat C. Puasa di sini tidak jauh berbeda dengan di Indonesia, hanya lebih lama sejam lima belas menit kira-kira. Kegiatan saya sehari-hari adalah bertemu dengan para Buruh Migran Indonesia (BMI) membersamai para Ustadz untuk menyampaikan beberapa hal berkaitan dengan program Dompet Dhuafa.

Waktu di sini juga banyak saya pergunakan untuk belajar, dan mengenal dakwah Islam di Hongkong. Jadi, di sini hanya ada 6 masjid di seluruh penjuru Hongkong. Untuk mencapainya, kita perlu berkendaraan. Dua diantaranya sudah saya kunjungi, yakni Masjid Kowloon dan Masjid Ammar and Osman Ramju Sadick Islamic Centre. Kedua masjid ini dipegang oleh warga negara Pakistan. Hal ini pun berlaku pada 4 Masjid lainnya. Pertanyaannya, di mana Masjid yang dikelola orang Indonesia?

Itulah pertanyaan yang saya sampaikan kepada para Ustadz. Padahal, bila melihat jumlah penduduk muslim di Hongkong, itu hanya sekitar 200 ribu jiwa, di mana 151 ribu di antaranya adalah BMI, alias warga negara Indonesia. Saya melihat potensi dakwah di sini. Bagaimana caranya kemudian BMI yang pekerjaannya mengurusi anak-anak majikan, menjaga nenek dirumah, atau membuat masakan bisa mengamalkan nilai-nilai Islam dengan mengajarkannya. Saya ingin melihat, mereka, para BMI bisa menjadi aktivis dakwah dirumah-rumah majikan.

Di sini, bukan hanya dakwah yang bisa dilakukan oleh BMI. Namun, juga ada para ekpastriat. Mereka adalah penduduk Indonesia yang sudah menduduki posisi strategis diperusahaan-perusahaan bonafit kelas dunia. Mereka berkumpul untuk membentuk satu lembaga bernama “Indonesia Muslim Association in Hongkong” atau IMAH. Cita-cita mereka adalah membangun Islamic Centre yang dikelolah oleh warga negara Indonesia. Saat ini, mereka sedang berjuang untuk mewujudkannya. Saya minta doanya dari seluruh teman-teman.

Selain itu, ya saya masih menemui hal-hal menyedihkan dari beberapa BMI, semisal, ada seorang Ibu yang sudah berjuang untuk keluarganya. Setiap bulan selalu ia kirimkan uang ke Indonesia. Namun yang terjadi, suami yang telah dinafkahinya malah menikah lagi. Ada lagi, kasus “lesbian” yang marak terjadi akibat jarang bertemu suami. Kemudian, persoalan kriminalisasi akibat data paspor tidak valid, tidak digaji selama beberapa bulan, dan seterusnya. Tapi ingat, itu hanya beberapa kasus.

Ada hal yang lebih bisa membuat saya tersenyum di sini. Halaqah-halaqah taman surga yang senantiasa menghiasi masjid-masjid, taman-taman kota, rooftop pasar, dan ruang terbuka lain menunjukkan optimisme bahwa Islam akan menjadi rahmat di Hongkong dan seluruh alam.

Siang tadi saya shalat jumat dan disekitar Masjid bertemu banyak orang china yang sudah mengenakan pakaian muslim(ah) rapih. Disampingnya ada orang Indonesia yang menemani. Saya yakin, barangkali ini adalah berkah atas hadirnya warga Indonesia yang beragama Islam.

Ah, sungguh menyenangkan bagi saya dapat pengalaman berharga bertemu dengan mereka. Meski harus menghadapi “tidak UAS”, KKN terlambat, dan tugas pengganti yang tak kunjung datang. Tapi, inilah jalan yang harus ditempuh. Meski raga ada di sini, tapi pikiran saya tetap di Indonesia, koq. Namun, bukan berarti saya tidak sungguh-sungguh berada di sini.

Hanya bagi saya, sekali Indonesia tetap Indonesia. Gitu aja.

 

Comment (2)

  • Zahratul Iftikar - June 17, 2016

    Kaya bukan tulisanmu biasanya fath. Atau mungkin karena terlalu sibuk (?)
    Eniwe, semangat 10 hari terakhirnya, ditunggu di temajuk dg sejuta ide dan kontribusinya (y)

  • Leave a Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *