Ujian (Lisan)
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Ujian (Lisan)

ujian lisan

“Bahwa hidup adalah ujian”.

Ujian yang membuatmu terkadang merasa takut mengerjakannya, sehingga kamu memilih berani curang.

Ujian yang membuatmu menjauhkan yang dekat, sehingga yang dekat menjauh darimu.

Ujian yang membuatmu melupakan ‘Yang Satu’, sehingga kamu lebih memilih ‘Yang Seribu’.

Saya, hari ini, mendapat ujian Teori-teori Sosialisme. Mata kuliah yang asalnya dari jurusan Hubungan Internasional itu saya ikuti. Pengampu mata kuliah ini ialah Mas Eric Hiariej. Seorang yang saya kenal begitu asyik dalam mengajar. Tak perlu ia gunakan slide ppt, tinggal maju dan bercerita. Jumlah mahasiswa yang sedikit dalam mengambil mata kuliah ini sekiranya menjadi pertanda aneh. Mengapa dosen semenyenangkan ini hanya sedikit orang yang mengikuti?

Setelah saya mencari informasi dari berbagai macam sumber terpercaya, saya mendapati beberapa faktor:

1. Kelas ini dianggap milik sekelompok orang revolusioner (agak lebay). Dengan tampilan celana jeans robek atau pun celana bahan cingkrang, semua boleh ikut. Asalkan punya jiwa ke kiri-kirian. Menolak sikap opresif dan menjadi penyayang kaum mustadh’afin. Begitulah kiranya gambaran mahasiswa yang mengikuti kelas ini.

2. Mas Eric memang terkenal dengan ‘pelit nilainya’, sehingga banyak orang yang gentar. Bayangkan, menurut salah satu orang paling cadas di sospol, Alif. Meski orangnya begitu, tak punya gaya selain ‘yang itu-itu aja’ saat di foto, dia orang dengan nalar berpikir taktis. Namun, di mata mas Eric, orang macam begini cuma dihargai A/B. Hmm, bagaimana dengan saya? :/

3. Nah, yang bikin kocar-kacir mahasiswa untuk tidak memilih mata kuliah ini adalah UAS-nya yang lisan. Bagi sebagian orang yang pandai gugup, tentu saja ini menjadi masalah besar. Meski sudah belajar seminggu tanpa henti, tiba-tiba di hadapan Mas Eric saat ujian lisan, dan, wacetaaarrr… Ngebleennggg!!!! Sungguh menyedihkan pastinya bagi mereka. Mereka pun tergolong menjadi orang-orang yang tak beruntung.

Memang, tokoh yang saya ceritakan ini menjadi demikian fenomenal. Tapi, saya malas menceritakan kefenomenalannya. Mending, silakan kamu tanyakan pada mahasiswa-mahasiswa HI saja ataupun orang-orang yang sudah banyak mengenalnya. Insya Allah, dijawab, koq.

Beruntung, ujian lisan tadi tidak semenegangkan yang apa kata orang, Meski saya dihantam pertanyaan secara bertubi-tubi, tapi saya tak mau pasrah. Saya menghindar, menyerang, dan mendo’a agar Mas Eric berbaik hati pada saya untuk tidak memberi nilai yang buruk-buruk amat. wkwk

Tapi bukan soal nilai sebenarnya yang saya pikirkan. Adalah Badrul, sang buaya darat–yang pacarnya ada 5–yang menjerumuskan saya ke dalam kelas ini. Sampe hari ini saya masih kepikiran. Betapa tidak. Dia telah seenaknya mengobrak-abrik KRS-an saya secara sepihak. Emang, bangke tuh bocah. Tapi, setelah saya pikir-pikir lagi tak mengapa. Saya syukuri itu. Berkat Badrul, saya bisa mengenal Mas Eric yang kata orang-orang asyik kalau mengajar. Dan di situ, saya bisa membuktikan bahwa ucapan orang-orang yang nyampe ke telinga saya bukan omong kosong. Terima kasih, Badrul.

Setelah beres ujian lisan. Saya pun mempersiapkan diri untuk malam mingguan sama teman-teman asrama. Rencananya, kami mau ke bioskop nonton film “Bulan Terbelah di Langit Amerika”. Singkatmya, kami berangkat. Meski bersama para cowo-cowo jomblo, saya berusaha menikmati setiap adegan di film walau dengan tetes air mata di dalam hati. Saya¬†tutupi itu dengan senyum tipis dan sesekali tertawa ngekek. Sebab, ini bioskop coyy. Lihatlah sekeliling. Ada banyak muda-mudi yang sedang berdua. Saling bertatapan penuh mesra. Mereka membeli popcorn dan saling menyuapi. Betapa menyenangkan dunia. Lah, saya? ngenes.

Ok, fine. Kapan-kapan, kita nonton bareng yuk, Dek. Nunggu halal.

 

Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia

Malam Minggu Kelabu

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *