Untukmu Ibu-Bapak Guru
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Untukmu Ibu-Bapak Guru

Bersama Mami Ida Rowaida (Kanan) dan Pak Darlam (Penjaga Bengkel Elektro)

Baiklah, saya coba untuk menulis (lagi). Rasa-rasanya badan sudah ‘agak’ mendingan dibandingkan dengan dua hari kemarin yang lemes kayak “ayam sayur”. Kemarin, dikuat-kuatin dateng ke kampus untuk mengerjakan soal-soal UTS yang memaksa untuk hadir dan berpikir, juga sekedar bertemu rekan-rekan Dema Fisipol dan juga adik-adik yang sekedar ingin sharing soal kendala belajar bahkan spiritualnya.

Tentu saja saya memposisikan diri bukan sebagai dosen apalagi ustadz, kecuali calon dari keduanya. Aamiin. Tapi saya bukan ingin cerita soal ini. Saya akan menceritakan hal lain yang membuat saya merasa terenyuh. Jadi, pagi tadi, sehabis dari GMC untuk mengecek kesehatan KKN dan FLC, saya mampir makan ketoprak batagor yang ada di daerah Sendowo. Harganya miriplah sama harga pasar: Rp. 8000,- Yah, tapi ini ketoprak yang recommended banget. Saya tahunya dari Asyrin karena diajak makan sehabis ngiter nganter surat untuk acara “Cangkeman” dari Gerak Jogja beberapa waktu lalu. Setidaknya, sejak diperkenalkan, saya sudah mampir 7x kalau tidak salah.

Nah, karena saya yang gak kuat pedes ‘banget’ dan sukanya yang cukup-cukup aja (jadi inget kan kejadian di Al Gepreki, warung makan yang dikelola oleh Kakak dan Ibundanya Mas Adi; lokasinya di Jalan Damai. Kemarin saya kepedesan, padahal cabenya cuma tiga). Saya minta dibuatkan yang rasanya sedang. Saya pun menunggu ketoprak dengan wajah kelaparan ditemani sebuah buku berjudul “McDonaldisasi Pendidikan Tinggi”. Salah satu tulisan didalamnya adalah milik Pujo Semedi, Dekan FIB UGM dengan judul “McDonaldisasi atau McMeongisasi” yang menurut saya mencerahkan. Tutur bahasa yang disampaikan renyah dan khas budayawan lah. Saya suka sekali tulisan-tulisan budayawan seperti misalnya tulisan yang suka mampir dikolom Kompas.

Pujo menurut saya menulis dengan rasa bebas lepas tanpa beban. Ada kalimat paling menarik yang saya kutip dari tulisan beliau:

“Pembaca nan budiman, mohon tulisan saya ini diterima sebagai ekspresi cinta seorang warga kepada kampusnya, seorang anak kepada ibu kandung pendidikannya. Bukan sebagai aksi subversif. Jangan nanti gara-gara tulisan ini saya dipanggil, didudukkan, dan dimarahi di muka para petinggi.”

Kalimat diatas pernah dikutip kemarin sama teman-teman Save Bonbin Movement (SBM) ketika  membuat rilis tentang upaya relokasi Bonbin yang dilakukan oleh pihak kampus. Namun, upaya ini coba dihalau oleh SBM dengan menawarkan renovasi.

Tapi, kutipan kalimat diatas sama seperti halnya untuk saya pribadi yang gemar sekali mengkritisi kebijakan kampus. Dari tahun pertama saya berkuliah, saya menaruh minat yang mendalam terhadap kehidupan kampus di UGM. Makanya, silakan cek tugas-tugas paper saya, tulisan di media, penelitian, hingga skripsi. Saya kerap menggunakan UGM sebagai laboratorium intelektual pribadi yang dengannya saya semakin mengenal dan memahami Indonesia secara lebih utuh.

Disaat saya menunggu ketoprak-batagor inilah, diwaktu yang bersamaan dengan membaca, hal yang saya ingin ceritakan hadir.  Tenda berikut gerobak ketoprak-batagor ini menempel dengan tembok SD Percobaan 2 Jogja. Kebetulan ada anak-anak sekolah yang sedang paduan suara dan menyanyikan hymne guru. Jujur saja, seketika hati saya bergetar, suara keren macam apa yang dinyanyikan dengan penuh semangat. Saya pikir dan menduga, yang menyanyikan lagu ini adalah mereka yang diminta tampil dalam wisuda  kelas 6 SD. Mereka tengah menyiapkan kado bagi kakak-kakak tingkat dan guru-guru mereka.

Tak sampai disitu, hati saya dibikin dag-dig-dug mendengar lagu selanjutnya yang dikumandangkan: Indonesia Jaya (yang versi asli oleh Harvey Malaiholo. Tapi, saya lebih suka yang versi Delon dan Putri Ayu sih). Ahh, sesuatu banget. Saya langsung flashback ke masa TK, SD, SMP, STM dulu. Saya masih mengenang bagaimana tingkah laku bandel saya sewaktu di TK yang memutar piringan besi kencang-kencang hingga akhirnya penumpang piringan besi terjatuh semua, nyungsep, termasuk saya. Mayoritas menangis, dan saya juga merasa kesakitan. Akhirnya, saya dimarahin sama Bu Tini (wali kelas B2) :D Nah, di TK ini saya favorit bangetlah sama nasi dan telor dikecapin. Setiap hari, 3x sehari, saya makannya ini terus. Tanya mama saya kalo gak percaya. Gak mau yang lain, apalagi ayam, kambing, sapi. Di waktu istirahat, biasanya sambil lari-larian, sesekali datang ke mama terus disuapin, terus lari-larian lagi gangguin temen. Tapi, setiap ada penugasan kelas, saya pulang ke rumah langsung membereskan pr ditemani mama. Siang waktunya bobo sebagaimana nasihat bu Tini. Sore baru main dan malam ngaji terus jam 8 udah tidur. Sangat tertib sekali saya pada saat itu.

Ini dia piringan besi :D

Ini dia piringan besi :D

Kemudian, di SD. Saya ingat betul rasanya memainkan seluruh permainan dari tradisional sampai yang modern. Semua permainan sudah saya coba. Dari petak umpet, demprak, yeye, gundu, panggal, biji karet, keong, kartu, tamagochi, tamiya sampe beyblade. Semua saya punya. SD ini waktu yang seru banget. Jadi ketua kelas abadi karena dapet ranking 1 dari kelas 1 sampe kelas 6. Mau gamau kan ditunjuk guru. Dulu belum kenal politik, jadi ya ketua kelas itu ibarat siswa yang disuruh-suruh guru aja. Belum ngerasa ini posisi strategis hehe. Kalau akhir tahun kenaikan kelas yang paling seneng sih. Saya pasti selalu dibelikan kado sama bapak karena ranking. Kelas 1 dibelikan VCD, kelas 2 dibelikan poly-station (bukan play-station), kelas 3 disunatin, kelas 4 dibelikan sepeda merk senator warna merah yang dulu harganya 850 ribu (kebetulan saya pilih langsung tunjuk :D), kelas 5 dimasukan ke Sekolah Sepak Bola, dan kelas 6 dinaikkan jajannya 1000 setiap tahun (jadi kelas 1-3 jajannya 1000 rupiah; kelas 4–6 jajannya 2000 rupiah), nah, untuk kelas 7, 8, dan 9 SMP akan bertahap naik 1000 per tahunnya. Saya yang gak tahu soal inflasi kala itu memandang bahwa apa yang saya mintakan atau Bapak berikan kepada saya adalah sebagai reward atas kinerja dalam belajar. Di sini, saya suka banget ikut-ikutan lomba. Waktu itu sempat jadi juara 2 adzan tingkat provinsi DKI, lomba matematika PASIAD, lomba cerdas-cermat, MTQ, puisi, 17an. Apalagi kalau kesempatan upacara, saya selalu diminta untuk membacakan doa atau undang-undang dasar tanpa teks. Ya seneng banget jadi kepercayaan sekolah. Dikenal guru-guru kan akhirnya. Bahkan, sampai hari ini terkenang nama-nama guru yang setia mendidik. Dari wali kelas 1 Bu Yam, kelas 2 Bu Sus, kelas 3 Bu Nani, Kelas 4 Bu Rasmi, Kelas 5 Bu Rasmi, Kelas 6 Bu Djumirah. Favorit saya adalah Bu Rasmi. Saya tak bisa melupakan beliau. Beliau non-Islam, tapi begitu menyayangiku dan mengajariku dengan sentuhan keagaman Islam. Beliau senang betul mendengar ceramah-ceramah AA Gym yang kemudian dia sampaikan kepada siswa-siswi dikelas. Tapi, disatu sisi, saya di SD juga menjadi pelopor untuk rajin bermain disamping belajar. Jadi, setiap habis kerja kelompok, kita selalu main sepak bola di Walikota Jakut. Nyari tim bola aduan yang kemudian taruhan. Dulu dua goal gope. Biasanya, uang menang taruhan dipakai untuk beli minum pasca kelelahan main. Astaghfirullah. Bu Djum ini yang suka marah-marah, ngomelin kita-kita yang mau ujian tapi lebih banyak mainnya :.) Maaf Bu Djum.

Main bolanya sampe telanjang begini. Serius

Main bolanya sampe telanjang begini. Serius

Berlanjut di SMP. Yah, di sinilah saya mulai membandel yang kelewatan. Mulai dari cinta monyet (sama mba peb, HI 13 Univ. AL Azhar Indonesia; sampai sekarang masih suka tuker kabar). Ini orang lucu. Kan saya gak punya hp dulu, jd kebetulan kalau diminta biodata (dulu lg jaman tukeran biodata) saya taruh nomer hp bapak saya yang didapat saat menjadi relawan di aceh saat tsunami. Tiap hari tuh kerjaan mba peb nelpon. Pernah pas liburan lebaran hp kan dibawa bapak ke Lampung, terus lupa ke bawa. Jadi, mba peb telpon-telponan sama si kakek dan si kakek nelpon ke rumah :,) Dia juga pernah ngasih kado pas awal 2014 untuk ultah saya ditahun 2013. Kadonya saya tak apa-apain dan baru digunakan kira-kira belum lama inilah. Kemudian, yang tak kalah mengerikan adalah soal tawuran, milox dan bm2-an. Ini jahiliyah banget. Pernah kayaknya saya bahas ditulisan lampau. Udah mau deket UN dan kita ketangkep, dipanggilah sama pihak sekolah. Diomelin lah. Untuk aja dibantu bapak bebas karena kebetulan Pak Slamet (Wakasek Bid. Kesiswaan teman bapak di Kantor RW). Terus soal bm2an, ini maksudnya berani mati dengan nyegat mobil losbak sampai kontainer ditengaj jalan raya. Alhamdulillah, tuh mobil pada berhenti. Klo gak, gak bisa bayangin kelindes batang leher ama roda kontainer yang banyak itu. Huhuhu.. Nah, soal milox, padahal kan setiap peraih UN dengan nilai 10/mata pelajaran berhak dapet uang 100 ribu. Saya lumayan dapet satu di matematika. Tapi, uangnya dipake untuk ngecat tembok di walikota yang pernah saya coret dengan tulisan XMV 95 INDOEX Jakarta. Paraaaahhhh… Bu Aster, Pak Saut, Bu Yessy, juga banyak guru lain sampe narik napas. Padahal saya itu ketua rohis loh, pernah juga jadi kapten futsal pas lagi Kemenpora Cup, hampir ikut semua ekskul di SMP dari PMR, Bulutangkis, TIK Club, Pramuka (nyampe diundang presiden juga di Halim). Yah, karena belum bisa menunjukkan diri pemimpin yang bisa jadi teladan, terlebih karena kondisi tanjung priok, city of evil yang orangnya keras-keras, banyak bajing loncatnya, sarang narkoba. Tapi, semoga, ke depan ada wajah baru dari Priok yah. Do’akan :D

STM ya masih belum taubatan nasuha lah intinya. Masih jadi begundal. Tapi, semenjak bertemu Bu Sri di student company (SC) dan menjadi Presiden Direktur, yo intinya sudah mulai terbuka dikit-dikit soal benar-salah. Saya banya dinasihati dari kehidupan keras STM melalui tamparan dan tentangan yang menyadarkan. Tapi, banyak sekali yang akhirnya guru-guru mengenal saya karena beberapa prestasi yang saya torehkan. Saya diminta beberapa kali maju saat upacara menerima penghargaan dari Kepsek, menjadi duta sekolah (20 Siswa terbaik) dalam try out UN, masuk koran, majalah, punya tabungan juga, bisa bikin usaha, punya kantin kejujuran, bertemu dan berjejaring dengan banyak orang karena seringnya ikut-ikutan lomba bahkan hingga hari ini baik pembina, teman (adik dan kaka angkatan), bahkan lawan kompetisi masih saling menjaga komunikasi, hingga lulus menjadi salah satu wisudawan terbaik, tak hanya di sekolah, melainkan se DKI dan berada di peringkat 3. Lumayan, dapat ketemu Ahok, bersalaman langsung sekaligus dapat laptop gratis :D Di masa ini juga saya sudah mulai kritis dan mengasah daya analisis. Pernah saya buat tulisan (disaat magang dulu pakai komputer kantor) yang membuat gempar dengan judul Bagaimana Peluang Siswa SMK Dalam SNMPTN 2013. Saya sempat dapat banyak support dari rekan-rekan SMK se-Indonesia. Tiba-tiba saja banyak yang add facebook, follow twitter, menjadi rekan di masuknegeri.com hingga bahkan saling berkabar via hp.  Kemudian, semakin banyak anak SMK yang gundah dan geram dengan komposisi penilaian SNMPTN yang merugikan anak SMK. Coba silakan cek di google, berita tentang perhatian pemerintah terhadap SMK baru ditunjukkan pasca tanggal 21 Februari 2013. Alhamdulillah, banyak rekan-rekan SMK se-Indonesia yang saya dapat kabarnya bisa masuk ke UGM, ITB, UI, ITS, dan PTN lainnya. Barangkali, ini hasil tamparan Pak Marsono dan Pak Agus Rusmantoro serta tendangan dari Pak Rustam, juga nasihat dari Mami Ida Rowaida (wali kelas abadi di STM), serta kasih sayang Bu Sri (ditambah Mam Ety, Bu Novi, Mbak Noor) sebagai pembina di SC yang menyadarkan saya untuk bangkit dari kejahiliyahan.

Pokoknya, merekalah guru-guru saya yang keren itu. Yang mendidik saya untuk sadar dan peka akan hidup ke depan yang tak boleh diselesaikan secara bercanda. Terima kasih untukmu Ibu dan Bapak guru.

***

 

Padahal, saya sudah makan lambat-lambat tuh ketoprak-batagor, tapi kayaknya saya ingin berlama-lama di sini. Masih gak bisa ‘move on’ atas ingatan masa lalu yang membentuk saya hari ini. Tapi, mengingat ada tugas yang harus dikumpulkan sekaligus menyerahkan hasil tes kesehatan ke akademik fisipol, saya memutuskan untuk bayar terlebih dahulu kepada Abangnya. Baru saya arahkan motor ke kampus. Semoga sehat selalu dan diberikan kekuatan dalam menjalani hidup dan penghidupannya Bu, Pak Guru. Kalian semua akan terkenang, selamanya. Saya pastikan, takkan terlupa. Ilmu kalian akan manfaat jauh, jauh dan untuk selamanya.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *