Ya Muqollibal Qulub
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Ya Muqollibal Qulub

ya-muqollibal-qulub

“Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik”

Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu. 

***

Ya, jikalau bukan karena Engkau dan Agama yang Engkau turunkan, mungkin saja saya sudah menjauh dari amanah ini. Sedari awal, dua orang yang menemui saya menanyakan lebih baik bergabung bersamanya. Tapi, saya lebih memilih untuk tetap di rumah, sampai saatnya tiba untuk pergi. Saya merasa, masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Atau lebih tepatnya, rumah tidak ada yang menjaga. Maka, saya merasa bertanggungjawab untuk menjaga rumah tersebut. Satu amanah yang sebenarnya diberikan oleh orang-tua saya.

Dalam perjalanannya, saya seringkali menemui kebahagiaan. Jumlahnya malah nyaris tak terkira. Saya bisa dengan mudahnya tersenyum melihat rumah saya diisi oleh sahabat-sahabat yang beragam. Mereka menyenangkan, dan membuat saya tak sepi. Tentu saja, tawa-canda-riang mengisi hari-hari kami. Bermain ini-itu adalah satu hal yang mengasyik-kan. Gairah ini terus memuncak seiring kegirangan kami bertambah seru.

Barangkali, yang namanya bermain, terkadang ada yang tersandung, jatuh, hingga menangis. Maka, tugas kami adalah membangunkan dan membuatnya tak lagi menangis. Ada juga mungkin disela-sela kegembiraan tersebut, misal, kita hendak bercanda yang kelewatan. Ini juga yang kemudian diam-diam menyakiti hati sahabat. Dari sini, muncul bumbu-bumbu permusuhan. Meski kecil, tapi bisa jadi besar masalahnya. Ada juga, dalam bergaul, sahabat yang keras kepala; pokoknya tak mau diatur-atur. Biasanya, teman-teman jadi kurang suka dan tak mau lagi bergaul dengannya.

Yah, sebenarnya masih banyak lagi persoalan persahabatan khususnya dalam bermain. Tapi, intinya, rumah bisa jadi rame karena mereka mau menemani saya bermain. Saya sebagai orang yang diberi amanah menjaga rumah harus memastikan, bahwa sahabat-sahabat saya tidak ada yang tersakiti, tidak ada yang merasa dirugikan, tidak boleh ada yang bandel kelewatan, agar persahabatan bisa menghadirkan kesenangan dan kegembiraan. Tidak boleh ada yang merasa ketakutan.

Amanah ‘menjaga’ ini yang kemudian tak semua orang mampu melaksanakannya. Beban mengatur sahabat yang seenak udel dan sekarepnya menjadi tantangan tersendiri. Tapi, justru dengan itu, kita sedang diuji kehebatannya. Seberapa kuat kita bisa membikin suasana rukun, menghadirkan gelak canda tawa yang penuh akan nilai cinta.

Jujur saja, saya menyayangi kalian semua, sahabat-sahabat. Saya curahkan segenap pemikiran dan kasih sayang semata untuk menjaga kalian semua agar tak ada yang terluka dan mendapati masalah dikemudian hari. Bertingkah adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan menjadi kunci. Sikap welas asih, berterima kasih, dan saling memaafkan, juga terus berbagi dan menginspirasi harus terus disebarluaskan. Jikalau tidak, mohon maaf, jargon-jargon kemanusiaan yang seringkali kita kumandangkan disela-sela kita berdiskusi ditemani bau makan dari dapur akan terasa sia-sia, kan?

Di titik ini, jikalau sahabat masih merasa paling benar dalam bermain dan bersahabat; tak mau mendengar masukan, mungkin, barangkali hanya Allah Swt yang mengetuk hati sahabat. Suara jerit rintihan kasih sayang selalu ditebarkan, tinggal bagaimana caranya kita menangkap. Bukan begitu?

Tanpa hadirmu, jujur, rumah ini sepi. Tapi, saya lebih memilih bersamamu untuk bersahabat. Kamu boleh datang kapanpun ke rumah saya dengan sesukamu. Tapi, jangan sakiti sahabat-sahabat yang lain, yang tak tahu menahu apa yang dilakukanmu diluar. Semoga Allah Swt, Yang Maha Membolak-balikkan hati bisa melindungimu dan juga saya. Sehingga, kita bisa saling menjaga dalam setiap permainan.

Tetap menjadi sahabat yang baik. Bisakan? :)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *